Sabtu, 25 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Politik

Kisah Wiji, setelah Dua Bulan Jalani Perawatan di RSJ Menur

Ingin Segera Bantu Nenek Jualan Tahu

01 Juli 2019, 23: 04: 23 WIB | editor : Adi Nugroho

wiji odgj

BUNUH RINDU: Wiji (kanan) memandangi wajah sang nenek yang mengajaknya berbicara, setibanya di rumah dari RSJ Menur, Jumat (28/6). (DISKOMINFO KABUTEN KEDIRI for radarkediri.id)

Share this          

Penampilannya kini lebih enak dilihat. Jauh lebih bersih. Ketika didatangi, dia ulurkan tangannya. Mengajak bersalaman. Tak terlihat lagi jari-jari membusuk di tangannya. Yang ada, beberapa bekas luka dan jahitan di antara jemarinya.

Pintu belakang rumah sederhana di Dusun Tambak, Desa Ngadi, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri itu terbuka. Seorang nenek tua duduk di bale bambu sederhana. Di dapur rumah.

“Tadi pamit keluar sebentar,” terang wanita tua bernama Mujirah itu.

odgj rs menur

TELATEN: Dokter Lila (kiri) ikut mengantarkan Wiji ke rumahnya di Desa Ngadi. (DISKOMINFO KABUTEN KEDIRI for radarkediri.id)

Mujirah adalah sang pemilik rumah. Dia nenek dari Wiji Fitriani. Perempuan berusia 28 tahun yang sempat terkenal karena ulahnya menggigiti jari sendiri kala kambuh. Ya, Wiji saat itu memang orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

Lima belas menit kemudian Wiji muncul. Berjalan tenang dari jalanan. Di tangan kanannya tergantung tas kresek kecil warna hitam. Menggantung di tiga jari yang tersisa di tangannya itu. Isinya, lima butir buah jeruk ukuran kecil.

Penampilan Wiji rapi dan bersih. Tak tampak kesan kumuh dan kotor pada diri wanita kelahiran 1991 ini. Tak ada pula tangan yang di perban. Luka akibat gangren yang dia derita beberapa bulan lalu telah sembuh. Kering.

Hampir dua bulan Wiji berpisah dengan Mujirah. Sang nenek ditinggalnya berobat ke RSJ Menur Surabaya. Mengobati penyakitnya yang sering kambuh itu. Menyusul banyaknya perhatian berbagai pihak terhadap kondisi mengenaskan dirinya.

Kini, Wiji bisa bercerita dengan rinci tentang pengalamannya dirawat di RSJ Menur. Menurutnya, di tempat itu dia tidak hanya disembuhkan secara kejiwaan saja. Namun juga menyembuhkan luka-luka pada jari-jari tangannya. Yang membusuk karena luka yang terlambat diobati.

“Saya sempat nggak bisa melakukan apa-apa setelah operasi,” kenang Wiji ketika ditemui kemarin (29/6).

“Karena habis operasi, setiap makan saya disuapin,” imbuhnya.

Sesaat kemudian, Wiji duduk di samping Mujirah. Meneruskan ceritanya. Dia mengatakan selama dirawat dia tak berada satu kamar dengan pasien lain. Tapi di satu ruangan khusus.

“Hanya tiduran, tangan saya diinfus,” ucap Wiji menuturkan aktivitasnya saat itu.

Setiap cairan infus habis, dengan cepat akan diganti dengan yang baru. Masih menurut Wiji, cairan infusnya itu agak berbeda. Karena juga berisi zat yang membantu pikirannya agar kembali normal.

Ketika baru datang di rumah sakit Wiji mengaku tak hanya sakit di bagian jari saja. Tapi hampir di sekujur tubuh. Badannya seakan tak bisa bergerak.

Setelah kondisinya membaik, Wiji mulai menjalani terapi. Rehabilitasi pun dilakukan. Jari-jemari yang sudah tak sempurna lagi dilatih agar bisa digunakan lagi. Salah satunya dilatih menulis.

Butuh beberapa minggu agar Wiji bisa kembali menggunakan jarinya. Hingga dapat mengenakan baju tanpa bantuan orang lain. Juga mandi mulai dilakukan sendiri.

Meskipun berdiam di kamar khusus, Wiji tetap berbaur dengan pasien lain. Terutama saat makan. Di saat makan inilah dia pernah punya pengalaman yang sempat membuatnya trauma. Ada pasien yang mengamuk. Melempar piring makan yang terbuat dari seng. Membuat Wiji ketakutan dan lari menjauh.

Yang menarik, saat masa pengobatan itu Wiji tak melulu menghabiskan waktu di rumah sakit. Dia juga diajak jalan-jalan oleh dokter yang menanganinya, dr Lila Nurmayanti. “Saya diperlakukan seperti anaknya sendiri,” aku Wiji. Kali ini ada ekspresi gembira di wajahnya.

Di rumah dr Lila itu Wiji ditawari berbagai makanan. Juga dibelikan sepatu. Meskipun sayang, sepatu itu tertinggal di rumah sakit. Tak sempat dibawa pulang.

Hari-hari di rumah sakit itu memunculkan perasaan kangen terhadap nenenknya. Tapi, Wiji harus memendamnya dalam-dalam. Karena itu, begitu pulang, Wiji tidak segan-segan mengungkapkan rasa rindunya. Dia berulang kali memeluk nenek yang selama ini selalu setia merawatnya.  “Saya pernah mengobrol dengan suster, kapan saya pulang? Dijawab sudah dijadwalkan,” imbuhnya.

Meskipun jari-jarinya kini telah dioperasi, namun Wiji harus tetap melakukan kontrol kesehatan. Rencananya kontrol pertama akan dilakukan minggu depan. Hanya, tidak di RSJ Menur. Cukup di puskesmas setempat. Saat ini dia juga tidak boleh lupa mengkonsumsi obat.  

Keluarganya juga sangat memperhatikan kondisi Wiji. Termasuk menyediakan makanan yang menurut mereka bisa membantu proses penyembuhan. “Agar lukanya cepat kering, dibelikan makanan dari daging,” terang Jamiatin, 60, bibi Wiji, sembari berharap keponakannya menjadi lebih baik lagi kondisinya.

Memang, tidak hanya Mujirah yang menyambut dengan senang kepulangan Wiji. Semua anggota keluarga yang lain, seperti paman dan bibinya juga merasakan. Bahkan beberapa warga sekitar menyambut kedatangnya saat itu.

Ada satu harapan dalam diri Wiji saat ini. Seiring dengan kesembuhannya itu dia berharap bisa membantu sang nenek. Membantunya berjualan tahu.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia