Selasa, 21 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Kolom

- Adu Jago -

01 Juli 2019, 21: 53: 10 WIB | editor : Adi Nugroho

Andhika Attar

Andhika Attar (radarkediri.id)

Share this          

Ayam broiler, atau sering disebut ayam potong, sekarang sedang menjadi obrolan yang hangat dibicarakan. Tak hanya di daerah pinggiran, warga perkotaan pun rajin membahasnya. Bahkan sudah menjadi pembahasan nasional.

Ya, ayam potong kini benar-benar terpotong. Tak hanya dari segi harga saja. Namun ada juga alur penjualan yang terpotong. Bagaimana tidak, harga beli di peternak sangat murah. Sedangkan harga di pasaran masih tetap saja mahal.

Hal tersebut sangat tidak wajar. Entah dilihat dari kacamata keilmuan mana pun. Jarak harga tersebut kuat diduga terjadi karena ulah pemain besar. Yaitu mereka yang memiliki modal besar. Pendanaan yang melimpah.

Bahkan, di kalangan peternak sudah mulai muncul desas-desus bahwa kejadian ini juga andil dari perusahaan besar yang bergerak di bidang ini. Slentingan dimulai dari dugaan bahwa perusahaan besar sengaja menghancurkan harga di kalangan peternak. Bahkan tak hanya itu saja, bisa juga menghancurkan perusahaan serupa dengan skala yang masih kecil.

Dengan terjadinya gejolak dan terombang-ambingnya harga di pasaran, peternak dan perusahaan kecil akan sangat mudah digoyang. Penetrasi yang masif dan lama tentu akan membuat lawan akhirnya tumbang juga. Ya, seperti banyak ketakutan banyak peternak kecil di luar sana.

Banyak pihak yang merasa ditembak dengan keadaan ini. Terutama bagi peternak mandiri dan perusahaan kemitraan dengan skala menengah ke bawah. Belum lagi perusahaan kemitraan yang masih belum berdiri, tentu akan terengah-engah menyusul lari kompetitornya.

Ada dua jenis perusahaan yang berperan dalam budidaya ayam potong di banyak tempat. Yaitu perusahaan kemitraan mandiri dan perusahaan integrator. Perusahaan kemitraan mandiri tidak memproduksi pakan ternak maupun bibit ayam broiler. Melainkan hanya menyuplai pakan, bibit, obat-obatan, dan vitamin kepada peternak yang menjadi mitra mereka. Tetapi saat ayam siap panen perusahaan inilah yang mengambil. Perusahaan tersebut mengambil ayam dari peternak untuk dijual ke pasar-pasar tradisional.

Sementara itu perusahaan integrator bergerak di bidang produksi pakan ternak, memiliki fasilitas pembibitan dan budidaya ayam dengan skala besar. Perusahaan jenis inilah yang menguasai bisnis ayam mulai hulu sampai hilir.

Berdasarkan data yang dihimpun penulis, tim dari pemerintah pusat juga telah diturunkan di beberapa daerah. Mereka melakukan monitoring dan mencari tahu penyebab terjadinya gejolak ini. Lebih penting lagi, tim tersebut juga sedang mencari siapa saja aktor yang berperan dalam hal ini.

Bahkan, beberapa perusahaan nakal yang ditengarai sebagai aktor kegaduhan ini sudah diketahui. Hanya saja memang masih perlu dilakukan pengecekan dan penyelidikan lanjutan. Namun begitu, dapat dipastikan kalau semua ini muaranya adalah untuk mencari keuntungan yang sebesar-besarnya.

Anjloknya harga ayam broiler kali ini dianggap beberapa pihak menjadi yang paling rendah dalam sejarah peternakan modern. Salah satunya akibat minimnya regulasi penataan industri peternakan ayam. Baik harga acuan atas maupun bawah. Baik pelaku usaha di tingkat hulu maupun hilir. Hal ini menjadi perlu dilakukan agar pelaku usaha memiliki ruang yang adil dalam memperoleh keuntungan.

Gejolak ini pun dirasakan efeknya secara langsung oleh masyarakat yang menjadi peternak ayam broiler. Dari beberapa kandang yang didatangi penulis, kondisinya pun sedang kosong. Para peternak lebih memilih untuk tidak mengisi kandangnya. Dalam kondisi seperti ini, pilihan para peternak mandiri agaknya hanya ada dua saja. Kalau tidak membiarkan kandangnya kosong, ya memilih menunda panen ayam.

Sejatinya, dalam kondisi seperti ini, Bulog juga harus dapat berperan aktif. Terutama saat harga daging ayam broiler terjun bebas. Agar harga ayam ras itu bisa lebih terkontrol. Dengan catatan, mereka juga harus memiliki tempat penyimpanan yang memadai untuk menampung daging ayam peternak. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri) 

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia