Jumat, 15 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Features

Dzakiasa Arban, Peraih Emas Seni Kejuaraan Nasional Pencak Silat

Lebih Sering Habiskan Waktu di Masjid

27 Juni 2019, 12: 09: 03 WIB | editor : Adi Nugroho

emas kejuaraan silat

BANGGA: Dzakiasa Arban Priangga (tengah) menunjukkan medali emas dari kejuaraan nasional pencak silat Malang Championship. Di belakangnya adalah Agus Purnomo dan M.Iksan (kanan). (Iqbal Syahroni - radarkediri.id)

Share this          

Kejuaraan nasional pencak silat Malang Championship menjadi ajang yang tak terlupakan bagi Dzakiasa Arban Priangga. Di kejurnas inilah dia mendapatkan medali emas level nasional untuk pertama kali.

IQBAL SYAHRONI

Suasana di sekitar Masjid Auliya Setonogedong, Kota Kediri, ramai sepagi itu. Banyak orang berlalu-lalang. Ada pula pekerja yang terlihat membangun menara baru di masjid tersebut.

Keramaian juga terlihat di salah satu warung kopi di utara masjid. Beberapa orang berada di dalam warung. Di antaranya adalah lelaki yang bersama seorang bocah. Lelaki itu terlihat baru saja menyeruput kopi dari cangkirnya. “Mari, silakan duduk,” ucap lelaki bernama Agus Purnomo itu kepada penulis.

Bocah yang duduk di sebelah Agus itu adalah Dzakiasa Arban Priangga. Usianya masih sebelas tahun. Terlihat pendiam, tak banyak bicara. Namun, di balik itu bocah ini menyimpan talenta luar biasa. Terutama di cabang olahraga pencak silat. Dzakiasa baru saja mendapatkan medali emas di nomor pencak silat seni.

Memang, Dzakiasa lebih memilih nomor seni dibandingkan tarung. Berbagai gelar sudah dia koleksi dari banyak kejuaraan yang diikuti. Mulai dari level kota hingga provinsi. Medali emas, perak, dan perunggu sudah banyak yang diraihnya. Terakhir, Dzaki, demikian bocah ini biasa dipanggil, mendapatkan medali emas di Malang Championship I. Ini adalah kejuaraan pencak silat berlevel nasional pertama yang diikuti Dzaki. Dihelat pada 22-25 Juni lalu.

“Alhamdulillah bisa mendapat emas. Bisa membanggakan orang tua, guru di padepokan, dan teman-teman di padepokan dan masjid,” ucap Dzaki.

Bocah yang masih duduk di bangku kelas enam sekolah dasar (SD) ini memang lebih sering terlihat di Masjid Auliya’ Setonogedong dibandingkan berada di rumah. Selain padepokan silat Pagar Nusa yang dia ikuti berada di bagian belakang masjid, Dzaki ternyata juga penggiat remaja masjid (remas).

Aktivitasnya sebagai anggota remas dan pesilat di padepokan, tak membuat waktunya sebagai pelajar sekolah dasar keteteran. Dia mampu membagi waktu dengan baik. “Sudah biasa, karena juga latihan sejak kecil, sekitar kelas dua SD,” papar Dzaki.

Anak pertama dari pasangan Gandung dan Yuniar ini menjelaskan, meski jadwalnya padat namun dia menikmatinya. Latihan silatnya hanya Rabu dan Sabtu sore, serta Minggu pagi. Sementara sepulang sekolah dia menyempatkan ikut kegiatan keagamaan di masjid. “Kalau latihan, ya, dibikin enjoy saja. Karena memang suka,” terang Dzaki.

Bocah yang mendapat predikat pesilat terbaik Kota Kediri Maret lalu ini menyukai pencak silat sejak kecil. Dan dia juga berhasrat bisa menapaki hobinya itu sampai dewasa nanti.

Agus Purnomo, sang kakek, mengaku bangga dengan prestasi cucunya itu. Meskipun tak memaksakan terlalu berambisi, tapi Agus selalu menekankan agar sang cucu selalu fokus di setiap pertandingan. Serta yang tak kalah penting adalah menikmati setiap pertandingan. “Karena sesuatu yang dipaksakan tak akan mendapatkan hasil maksimal,” ucapnya.

Memang, Agus tidak pernah menargetkan salah satu murid di Padepokan Pagar Nusa Setonogedong yang ia ketuai itu untuk mendapatkan medali. “Yang terpenting, anak bisa menambah pengalaman. Dan dapat mengamalkan ilmu yang didapat,” terangnya.

Seperti pada 25 Juli mendatang. Dzaki dengan 24 pendekar Padepokan Pagar Nusa Setonogedong akan mengikuti kejuaraan pencak silat internasional di Bali. Tak ada target yang dibebankan. Hanya untuk memfasilitasi murid yang ingin mengembangkan pencak silat. Karena dengan begitu mereka justru bisa lebih enjoy.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia