Rabu, 11 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Features

Tri Sekti Nuraini, Perias yang Ganti Jalur Jadi Make Up Karakter

Butuh Efek 3D, Gambar Horor Lebih Menantang

26 Juni 2019, 14: 46: 09 WIB | editor : Adi Nugroho

seniman lukis wajah

MACAN: Tri Sekti memamerkan wajahnya yang dia lukis. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

Bagi gadis ini, wajah bisa jadi kanvas tempat pencurahan ekspresi. Menghiasainya dengan beragam karakter. Mulai yang cantik hingga menyeramkan. Keahliannya itu membuat Disparbud Kabupaten Kediri merangkulnya.

ANDHIKA ATTAR

Pingin cantik seperti anggota girl band Korea? Sepertinya, jawaban tidak akan keluar dari mulut Tri Sekti Nuraini. Sebaliknya, jawabannya akan melenceng. Baginya, merias wajah tak melulu dengan menonjolkan kecantikan. Tapi bisa menjadi penggambaran beragam karakter. Seperti keahlian yang dia tekuni saat ini, face painting. Atau juga bisa disebut rias karakter.

Gadis asal Desa Krecek, Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri ini tengah menekuni rias karakter. Tak jauh-jauh, wajahnya sendiri yang dijadikan kanvas bagi karya-karyanya. Baik yang bernuansa keindahan, kecantikan, hingga yang menyeramkan. Dan bila menggambar yang terakhir itu, wajahnya bisa menjadi menyeramkan bagi orang lain. Pernah menyerupai zombie seperti dalam film-film Hollywood.

“Merias karakter dengan tema horor lebih banyak tantangannnya. Seperti membuat efek-efek tiga dimensinya,” aku gadis 19 tahun ini.

Sekti mengaku kepincut dengan riasan karakter menakutkan dalam film-film horor yang pernah ditontonnya. Dan itu menginspirasinya untuk membuat karya. Salah satunya yang fenomenal adalah separo wajahnya hancur, mengerikan. Dipenuhi belatung. Sementara yang satu sisi bersih dan cantik.

Hebatnya, Sekti melakukan aktivitas rias karakter tersebut sendirian. Menjadi pelukis sekaligus kanvas di saat yang bersamaan. Berbekal cermin kecil yang ukurannya tak lebih dari 20 x 10 sentimeter. Tangannya lancar mengguratkan kuas. Menyapukan setiap warna yang dikehendaki pada wajahnya sendiri.

Pilihan gadis ini menggunakan kaca kecil sebenarnya agak aneh. Karena bisa lebih mudah menggunakan cermin besar. Tapi bagi Sekti, ternyata lebih nyaman menggunakan cermin ukuran kecil. “Lebih bisa fokus,” akunya.

Kuas yang dipakainya tidak terlalu berbeda dengan kuas lukis. Ia tidak terlalu bingung mengenai kuas. Namun, ketika berbicara tentang cat yang digunakan, memang tidak bisa sembarangan.

Untuk melukis wajah, ada cat khusus tersendiri. Peruntukannya memang untuk kulit manusia. Sehingga lebih bersahabat dan tidak meninggalkan bekas jerawat. Meskipun tetap sebelum cat tersebut disapukan ke wajah tetap harus menggunakan foundation terlebih dahulu. “Kalau langsung dicat tanpa ada foundation di kulit gampang jerawat,” terang anak terakhir dari tiga bersaudara tersebut.

Suatu saat, pernah dia ‘iseng’ mencoba menggunakan cat yang bukan semestinya. Bereksperimen dengan menggunakan cat air. Hasilnya? “Kaku rasanya di muka,” akunya polos.

Hasil karya Sekti tergolong luar biasa. Sangat bagus. Dan itu bisa dilihat di laman Instagram (IG) miliknya. Laman itulah yang menjadi tempatnya memamerkan karya-karya make up karakter yang dibuatnya. Dari akun itupula banyak yang memberikan apresiasi atas karyanya. Salah satunya dari pejabat Kabupaten Kediri, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Adi Suwignyo. Bahkan, kini keduanya berkolaborasi untuk mempromosikan acara Pekan Budaya Kabupaten Kediri.

Kisah itu bermula ketika Sekti ditantang temannya membuat gambar yang bernuansa Kediri. Ia pun memilih monumen SLG. Perempuan berkerudung itu pun mulai mengerjakannya dengan cara membuat sketsa dengan pensil alis dahulu. Sekitar dua jam waktu yang dibutuhkannya.

“Lalu saya tagging (tandai, Red) akun IG milik pak Adi Suwignyo. Dari situ saya justru diminta untuk membuat lukisan wajah bertemakan pekan budaya, sekalian untuk promosi acaranya,” papar mahasiswa Politeknik Kediri ini.

Sang nahkoda pariwisata di Kabupaten Kediri yang biasa di sapa Pak Wig pun tidak menyangkal hal tersebut. Ia mengaku memang sengaja memberikan apresiasi karya dan kreasi yang dilakukan oleh Sekti. Menurutnya tidak banyak anak sebayanya yang menggeluti hal tersebut.

“Karyanya memang layak untuk diapresiasi. Seperti lukisannya yang menggambarkan Monumen SLG itu. Dia juga saya ajak untuk ikut mempromosikan pekan budaya tahun ini,” ungkap pria yang aktif bermain IG tersebut.

Keisengan Sekti berbuah tawaran menarik. Ia sama sekali tak menyangka hal tersebut. Baginya, apa yang dilakukannya tersebut tak lebih dari menjalani hobi. Meski memilki keinginan menjadi seniman rias karakter, ia tak ingin mendahului kehendak Sang Pencipta.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia