Selasa, 16 Jul 2019
radarkediri
icon featured
Features

Tok Hok Lay, Generasi Ketiga yang Eksis Lestarikan Wayang Potehi

Pikat Milenial dengan Sentuhan Digital

25 Juni 2019, 12: 33: 24 WIB | editor : Adi Nugroho

wayang potehi

MANGGUNG: Tok Hok Lay memainkan anak wayang potehi di Kelenteng Tjoe Hwie Kiong. (Dwiyan - radarkediri.id)

Share this          

Era digital seperti saat ini bisa menjadi ancaman bagi budaya tradisional. Terlebih bila tidak segera mengikuti arus perubahan. Dan ini yang berusaha dilakukan oleh Tok Hok Lay, dalang wayang potehi.

DWIYAN SETYA NUGRAHA

Lantunan musik pak kwan terdengar dari kompleks Kelenteng Tjoe Hwie Kiong Kediri sore kemarin, sekitar pukul 15.00 WIB. Menjadi penanda dimulainya pertunjukan wayang potehi.

toni harsono

BALIK PANGGUNG: Toni Harsono menunjukkan barisan anak wayang potehi di sela-sela waktu pentasnya kemarin. (Dwiyan - radarkediri.id)

Di halaman klenteng, di Jalan Yos Sudarso 148 Kota Kediri itu, berdiri satu panggung berbentuk rumah berwarna merah menyala. Di salah satu bagiannya membentuk lubang persegi 4 x 4. Dari lubang itulah, sosok Tok Hok Lay beraksi. Memainkan dua boneka dengan kedua tangannya.

Lelaki dengan nama Indonesia Toni Harsono ini adalah dalang wayang potehi yang masih tersisa. Salah satu di antara 37 dalang wayang potehi, wayang yang berasal dari Coan Ciu, Tiongkok. Yang tergabung di grup Fu He An.

Sementara, di garis keluarganya, Toni adalah generasi ketiga yang menjadi dalang potehi.

“Saya ingin meneruskan perjuangan kakek saya,” kata Toni.

Sang kakek yang disebutnya itu adalah Tok Su Kui. Dalang potehi generasi pertama di grup potehi Fu He An. Sedangkan generasi kedua adalah pamannya, Tok Hong Kie.

“Di bawah saya sudah tidak ada lagi yang berminat,” akunya.

Toni adalah juga owner Fu He An. Dia mengaku tetap bergelut dengan dunia ini karena punya misi khusus. Ingin andil dalam mengenalkan Konghucu ke masyarakat. Karena itu dia juga konsisten mempertahankan kearifan lokal Konghucu.

Meskipun tak muda lagi, Pria usia 50 tahun ini masih bersemangat dalam mementaskan wayang ini. Dengan santai, ia berjalan menuju panggung potehi. Sambil membawa salah satu boneka potehi di tangan kanan. Dengan cekatan memeragakan wayangnya yang saat itu mengambil lakon ‘Sie Djien Kui’. Cerita yang mengisahkan kearifan sosok raja-raja Konghucu.

Pentasnya tahun ini tepat 18 tahun dia tampil di Kediri. Setiap tahun Toni dan grup potehinya selalu tampil di Kelenteng Tjoe Hwie Kiong. Selam tiga bulan penuh dia tampil di kelenteng ini. Setiap hari pentas untuk memeringati ulang tahunnya Makco, nama lain dari Dewi Thian Siang Sing Bo.

Meskipun sulit mendapatkan penerus, Toni bukannya menyerah. Dia dan kelompoknya terus berusaha tetap eksis. Kini, namanya juga sudah tercatat di pertunjukan wayang potehi Internasional. Dia pernah mengisi pertunjukan wayang potehi di Taisho University Jepang pada 2014. Kemudian tampil di Festival Potehi Taiwan pada 2016. Tahun lalu dia juga tampil di Festival George Town di Penang, Malaysia.  

“Yang paling berkesan, pada tahun 2017 saya pernah mengisi di Kedubes Amerika Serikat untuk Indonesia di Jakarta,” kenangnya.

Dia sadar bahwa saat ini potehi juga mendapat gempuran dari kemajuan teknologi komunikasi. Sama seperti yang menyerang budaya-budaya konvensional lainnya. Tapi, Toni punya keyakinan kuat menolak punah. Salah satu upayanya adalah digitalisasi yang akan dia kembangkan. Termasuk upaya kartunisasi cerita-cerita dalam wayang potehi.

“Saat ini baru di Universitas Tarumanegara yang sudah berhasil mengaplikasikan ini,” tandasnya.

Toni mengakui, upaya digitalisasi itu memang tak serta-merta menaikkan pamor wayang potehi. Salah satu penyebabnya, menurut Toni, adalah materi yang dibawakan.  “Memang (selama ini) kami terlalu enjoy dengan materi konghucu. Namun ke depan kami akan memperpadukan dengan kearifan lokal Jawa,” terangnya.

Yang menarik dari tahun belakangan ini, cerita wayang potehi mulai dilirik beberapa instansi pendidikan yang berbasis keagamaan. Ia mencontohkan, salah satu Pondok Pesantren yang ada di Kabupaten Jombang pernah mengundang personel wayang potehi tersebut. “Pernah dari lembaga NU (Nahdlatul Ulama, Red) juga mengundang kami untuk pertunjukan wayang,” kenangnya.

Ke depan, Toni berencana akan memadukan unsur digitalisasi dan akulturasi budaya Jawa dalam materi wayang potehi. Namun, dia juga berharap dukungan masyarakat. Karena itu menjadi faktor yang sangat penting. Agar wayang yang mausk ke Indonesia sejak 1920 ini bisa tetap eksis.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia