Rabu, 17 Jul 2019
radarkediri
icon featured
Features

Arbeticham, Kumpulan Pendekar Pencak Dor Remaja asal Bedali, Ngancar

Ada Kendaraan Lewat, Minggir Dulu

24 Juni 2019, 19: 12: 26 WIB | editor : Adi Nugroho

arbeticham ngancar pencak dor

TEPIS KESAN BURUK: Remaja yang tergabung dalam Arbeticham berlatih di pinggir jalan Dusun Sumberjati, Desa Bedali, Ngancar, kemarin. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Share this          

Dulu perangai pemuda Desa Bedali, Kecamatan Ngancar dikenal negatif. Mereka suka tawuran dan mabuk-mabukan. Namun itu masa lalu. Kini, dengan membentuk kumpulan Arbeticham, energi mereka tersalurkan dalam olahraga pencak dor.

HABIBAH A. MUKTIARA

Minggu siang (23/6) sekitar pukul 11.00 WIB panas matahari terasa begitu menyengat kulit. Hawa panas mengudara, setiap angin berembus membawa serta debu-debunya. Namun hal tersebut tidak membuat para pemuda yang tergabung sebagai anggota Arbeticham meninggalkan sesi latihannya.

Sebanyak 15 pemuda terlihat melakukan latihan di pinggir Jalan Dusun Sumberjati, Desa Bedali, Kecamatan Ngancar. Mereka adalah Wahyu, Aldi, Ajis, Hendra, Danang, Bayu, Alif, Agus, Gigi, Ali, Robek, dan Yusli.

Di jalan beraspal yang panas tersebut, tidak semuanya memakai sepatu. Namun meski dengan alas kaki telanjang, mereka terlihat semangat melakukan latihan. “Karena kami belum punya lokasi latihan, sementara di pinggir jalan,” terang Diva Widianto, 24, ketua perkumpulan tersebut.

Dari ke-15 anak-anak tersebut, sebelum melakukan latihan pertarungan, mereka terlebih dahulu melakukan pemanasan. Setidaknya selama tiga menit, melakukan skipping di atas roda mobil atau traktor yang sudah tidak terpakai.

Namun namanya berlatih di fasilitas umum, yaitu jalan. Mau tidak mau, setiap mobil atau sepeda motor lewat mereka harus minggir lebih dahulu. Setelah kendaraan lewat, mereka kembali berlatih kembali. “Ayo berbaris langsung di belakangnya,” ujar Diva memberi aba-aba.

Karena keterbatasan peralatan latihan, setelah melakukan skipping sebagian terlihat melakukan hand box. Sebagian lagi terlihat tengah membalikkan roda traktor.

Salah satu yang membalikan roda traktor tersebut adalah Rizqi Muaziz, 13. Di antara anggota pendekar pencak, remaja yang kerap dipanggil Ajis ini merupakan anggota paling muda. Meski paling muda, ia tidak mau kalah dengan anggota yang lebih tua darinya.

“Saya dulu mulai ikut ketika masih kelas enam,” aku remaja yang kini duduk di sekolah menengah pertama (SMP) tersebut.

Dengan mengikuti pendekar pencak, Ajis mengaku, dapat menjauhkan dirinya dari hal-hal yang negatif. Untuk mengikuti kegiatan tersebut, dia mendapatkan dukungan dari Dwi Wahyu Ningsih dan Sudarmaji, orang tuanya.

Di usia yang mayoritas masih muda, mereka memilih untuk melestarikan kebudayaan khas Kediri. Yaitu dengan mengasah kemampuan dan skill dalam  olah raga pencak silat.

Dengan mengeluti olahraga tersebut, mereka berusaha untuk tidak lagi terjerumus dalam pergaulan yang negatif. “Yah dulu anak muda di sini banyak suka ikut tawuran jalanan, hingga berurusan dengan kepolisian,” imbuhya.

Namun itu semua hanya masa lalu. Semenjak berdirinya kelompok Arbeticham pada tahun 2010 kini pemuda desa lebih menggunakan energinya untuk suatu hal yang postif.

Energi yang dulu disalahgunakan untuk hal-hal negatif, kini digunakan dalam latihan seperti yang dilakukan kemarin. “Dengan adanya latihan pendekar pencak, mereka tidak lagi mabuk-mabukan atau ikut tawuran,” terang Sekretaris Desa Bedali Eko Wardoyo.

Bahkan dengan olahraga pencak silat, mereka tidak hanya dapat menghilangkan kesan buruk. Namun juga dapat mengharumkan nama desa dengan mengikuti banyak turnamen. “Biasanya diadakan di Kediri dan Blitar,” tutur Diva.

Dalam Arbeticham, tidak hanya mempelajari ilmu pencak silat saja. Namun juga membelajari teknik boxing hingga wushu. Dengan olahraga tersebut, mereka tidak hanya mengikuti turnamen yang diadakan desa. Namun juga pertandingan kejuaraan daerah (kejurda).

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia