Jumat, 15 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Ekonomi

Cabai Rawit di Kediri: Iklim Berubah, Produksi Turun

24 Juni 2019, 19: 00: 27 WIB | editor : Adi Nugroho

cabai rawit

NAIK: Harianah menunjukkan cabai rawit di lapaknya, Pasar Setonobetek, Kota Kediri. Komoditas ini kembali di harga normal setelah mengalami penurunan tajam bulan lalu. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

KEDIRI KABUPATEN - Harga cabai rawit di pasaran pascalebaran masih fluktuatif. Harga komoditas ini cukup sulit diprediksi di antara komoditas lain. Tak heran, usai mengalami penurunan signifikan beberapa waktu lalu, harga si pedas kini kembali stabil. Harganya berada di kisaran Rp 20 ribu per kilogram (kg) di tingkat distributor.

Petani cabai boleh senang. Mereka tak lagi menangis karena harga cabai di tingkat petani yang dulu tak mencapai break event point (BEP) atau batasan untung rugi budidaya. Kenaikan harga cabai ini bisa dilihat pada harga distributor di Kabupaten Kediri.

“Untuk cabai brenggolo harganya Rp 20.500 per kilo, sementara prentul dan kencana sama-sama Rp 19 ribu,” kata Ketua Paguyuban Petani Cabai Indonesia Kabupaten Kediri Suyono.

Ia menyampaikan, harga tersebut berbeda jauh dibandingkan beberapa minggu lalu. Tepatnya saat menjelang hari raya Idul Fitri. Harga cabai di tingkat petani mulai Rp 6 ribu. Bahkan di tingkat distributor pun tak sampai Rp 10 ribu.

Suyono menyebut, saat itu cabai rawit mengalami panen raya. Sehingga stok yang tersedia sangat melimpah. Namun kondisi tersebut berbeda dengan akhir-akhir ini. Dia mengatakan bahwa kondisi perubahan iklim membuat produksi cabai rawit turun drastis.

“Dengan adanya perubahan iklim, itu akan mengganggu tanaman cabai. Sehingga mudah terserang penyakit,” jelasnya.

Penyakit yang sering mengganggu tanaman cabai saat perubahan iklim seperti ini adalah penyakit antraknosa. Selain itu, cabai juga mudah layu karena mengalami kekeringan. Sehingga dengan kejadian tersebut produksi cabai petani akan cenderung mengalami penurunan. “Otomatis jika demikian, harganya akan naik,” paparnya.

Kondisi seperti ini tak langsung membuat petani merugi. Ia memaparkan bahwa dengan ini justru petani lebih untung karena harga yang naik. Hal tersebut, menurutnya, akan mengurangi kerugian saat harga anjlok beberapa waktu yang lalu. Meski demikian, Suyono menilai, untuk harga cabai rawit tak akan melonjak dengan fantastis seperti tahun-tahun sebelumnya.

“Kemungkinan tidak bisa mahal sekali, dikarenakan ada susulan panen yang tanam di bulan berikutnya,” ulasnya.

Naiknya harga cabai rawit ini pun dirasakan pedagang eceran di Pasar Setonobetek, Kota Kediri. Di pasar tradisional terbesar di Kota Tahu tersebut kenaikan harganya sudah dirasakan sejak tiga hari yang lalu.

Harianah, pedagang Setonobetek, misalnya. Dia mengaku, harga cabai rawit tiba-tiba melonjak. “Kemarin lusa dari Rp 17 ribu langsung naik Rp 24 ribu,” kata pedagang pracangan tersebut.

Harga itu diambil dari Pasar Grosir Ngronggo, sementara ia menjualnya di kisaran harga Rp 26 hingga 30 ribu per-kilogram. Harianah menambahkan bahwa kondisi ini berbeda dengan kondisi saat Lebaran. Menurutnya, saat itu cabai harganya murah dan banyak orang yang mencarinya. Sementara di bulan-bulan ini saat tak ada yang mencari justru harganya naik.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia