Selasa, 23 Jul 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Info PPDB Kediri: Bersaing NUN di SMAN Favorit  

Paling Jauh yang Dapat Diterima 5 Km

24 Juni 2019, 18: 56: 20 WIB | editor : Adi Nugroho

Nun SMAN Kediri

Nun SMAN Kediri (radarkediri.id)

Share this          

KEDIRI KOTA - Benang kusut penerimaan peserta didik baru (PPDB) jenjang SMAN belum sepenuhnya terurai. Pertimbangan jaraklah yang tetap menimbulkan pro dan kontra.

Namun di balik itu semua, anggapan terhadap siswa pintar yang tak bisa sekolah di SMAN favorit bisa dipatahkan. Hal ini terbukti dari hasil pemeringkatan menunjukkan bahwa sekolah favorit masih menerima siswa yang nilai ujian nasional (NUN)-nya di atas rata-rata sekolah lain.

 “Kami mengakui, memang masih ada kelemahan PPDB zonasi ini. Terutama adalah pada daerah-daerah yang jauh dari SMA negeri,” kata Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Cabdispendik) Provinsi Jawa Timur (Jatim) Wilayah Kediri Sumiarso.

Wilayah yang dimaksud adalah beberapa kecamatan yang ada di Kabupaten Kediri, seperti Kecamatan Ngancar, Badas, dan Kepung. Selain itu, juga sejumlah kelurahan yang ada di Kota Kediri.

Terutama kelurahan yang terletak di daerah pinggiran, seperti Mrican dan Semampir. "Memang saat ini zona masih ditentukan berdasarkan kecamatan belum sampai tingkat desa atau kelurahan. Ya nanti dievaluasi lagi bagaimana baiknya,” kata Sumiarso.

Di wilayah tersebut, menurutnya, calon peserta didik baru jelas kalah bersaing dengan peserta lain yang jarak rumahnya lebih dekat dengan SMA negeri. Kondisi itu terbukti dari hasil pemeringkatan yang telah keluar usai ditutupnya pendaftaran.

Di wilayah Kabupaten Kediri misalnya. Dua SMA negeri di Kecamatan Pare, yakni SMAN 1 Pare dan SMAN 2 Pare persaingannya cukup ketat. Sebab hanya siswa yang jarak rumahnya di bawah radius tiga kilometer (km) lah yang masuk pemeringkatan.

Di SMAN 1 Pare menerima siswa paling jauh 2,5 kilometer dan SMAN 2 Pare sejauh 2,7 kilometer. Sumiarso menegaskan, untuk siswa yang jarak rumah ke sekolah lebih dari 3 kilometer dipastikan akan kesulitan.

“Mereka masih bisa memanfaatkan SMA swasta di sekitarnya. Kualitas sekolah swasta juga tidak kalah bagus. Bahkan gubernur  akan memberlakukan program tistas (gratis berkualitas, red) pada sekolah swasta,” tegasnya.

Dengan demikian, masyarakat tak perlu khawatir jika putranya tidak bisa masuk ke sekolah negeri. Sebab kini pemerintah akan lebih memperhatikan sekolah swasta untuk memprioritaskan pemerataan pendidikan.

Kendati begitu, Sumiarso menilai, kekhawatiran warga terkait anak pintar yang tak bisa bersekolah di SMA favorit pun telah terpatahkan. Sebab, baik di Kabupaten maupun Kota Kediri, sekolah favorit masih menjadi jujukan siswa pintar. Mereka diberi jatah 20 persen pada PPDB tahun ini.

Hal itu dibuktikan dengan besaran NUN terendah yang diterima di sekolah-sekolah favorit dimaksud (selengkapnya lihat grafis). Sekolah-sekolah yang dari dulu dikenal favorit, seperti SMAN 1 dan SMAN 2 Kediri juga mendapat siswa yang NUN-nya di atas rata-rata.

Di SMAN 2 Kediri, NUN paling rendah diterima adalah 360,5. Sementara di SMAN 1 Kediri, NUN paling minim adalah 338,5. Begitu juga di wilayah Kabupaten Kediri, SMAN 1 dan SMAN 2 Pare pun mendapat predikat sekolah favorit karena persaingan siswa pintar yang mendaftar di sana lebih ketat dibanding sekolah lain.

Di SMAN 2 Pare, NUN terendah yang diterima adalah 345,5. Sedangkan di SMAN 1 Pare, minim NUN bisa diterima sebesar 320,0. Untuk SMA lain di kabupaten, NUN paling rendah yang diterima semuanya ada di bawah 300,0.

Berbeda dengan SMA, untuk PPDB SMK negeri hampir tidak ada permasalahan. Hal ini seperti disampaikan Kasi SMK Cabdispendik Jatim Wilayah Kediri Sidik Purnomo. Dia mengatakan bahwa PPDB untuk pendaftaran SMKN sangat lancar.

Disinggung terkait jadwal pra-pendaftaran yang akan dilaksanakan hari ini (24/6) dan besok (25/6), Sidik berpesan, agar pendaftar memperhatikan hal tersebut. Terutama menyiapkan berkas yang akan digunakan sebagai bukti pendaftaran.

“Jangan sampai lupa, karena jika daftar ulang batas waktunya terlewat maka dinyatakan mengundurkan diri,” jelasnya.

Tak hanya itu, peserta yang diterima nanti juga harus memperhatikan syarat khusus yang diberikan sekolah. Sebab selama ini masing-masing sekolah memiliki ketentuan berbeda saat melakukan pendaftaran ulang.

“Saat pemberkasan data harus cocok dan sesuai dengan data saat daftar online,” tegasnya.

Untuk diketahui, PPDB SMKN tidak menggunakan sistem zonasi seperti halnya SMAN. Untuk perankingannya dilihat dari tingginya nilai atau NUN hasil ujian nasional.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia