Rabu, 11 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Features

Dr Zuhri: Ingin Melimpah Jadi Dosen sebelum Purna

24 Juni 2019, 18: 42: 16 WIB | editor : Adi Nugroho

zuhri

Dr Zuhri SAG MSi (Bagus Romadhon - radarkediri.id)

Share this          

KEDIRI - Umur boleh menua, kekuatan fisik boleh jadi menurun. Tapi keinginan untuk mengembangkan ilmu masih begitu besar. Itulah yang dirasakan Dr Zuhri SAg MSi. Pria yang sekarang menjabat sebagai Kepala Bidang Penerangan Agama Islam, Zakat, dan Wakaf (Penais Zawa) Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Jawa Timur ini ingin terus mengabdikan ilmunya menjadi dosen.

“Karena itu sesuai dengan petunjuk dan arahan dari sang guru dan kiai saya,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Kediri.

Wajar, sebab semasa hidupnya Zuhri dikenal pekerja keras. Memiliki latar belakang keluarga biasa, Zuhri muda tak mudah patah arang. Bahkan membuatnya semakin bersemangat menimba ilmu. Hidupnya pun penuh kenangan ketika menjadi santri di pondok pesantren.

“Dulu berawal saat mondok di Pondok Al Anwar Sarang, Rembang,” tambah suami dari Siti Choiriyah ini.

Dari pondok yang diasuh KH Maimoen Zubair tersebut, ia berpindah ke Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri. “Saya sempat tinggal di ndalemnya almarhum Mbah KH Yahya Mahrus,” kenangnya.

Dari sanalah perjalanan karir Zuhri dimulai. Sembari mondok di Lirboyo, ia juga berkuliah di Institut Agama Islam (IAI) Tribakti, Kediri. Zuhri masuk Fakultas Dakwah pada 1995. “Saya diberi pesan oleh almarhum KH Imam Yahya Mahrus untuk terus belajar, dan belajar mencari ilmu dengan ikhlas,” jelasnya.

Perjalanan hidup membawanya mengabdi pada masyarakat saat menjadi pegawai negeri sipil (PNS) di Kantor Kemenag Kota Kediri. Saat itu, Zuhri bertugas di bagian penyuluh agama Islam. Perjalanan karirnya terus berkembang. Ia melanjutkan pendidikannya di Universitas Kadiri mengambil pascasarjana magister sains. “Ini untuk kebutuhan jabatan kenaikan pemangkatan saya,” tambah orang tua dari Ahmad Fiqhy Amirul dan Umy Fiqha Nur Azizah ini.

Berbagai jabatan telah diemban Zuhri. Dari bagian penyelenggara zakat wakaf, kasubbag TU, lalu menjadi kepala Kantor Kemenag Kabupaten Pacitan hingga Kota Kediri. Pada akhirnya Zuhri menjabat Kabid Penais Zawa Kanwil Jatim.

Di posisi itulah Zuhri mendapat banyak dorongan dari berbagai pihak untuk melanjutkan jenjang pendidikan S3. “Dari direktur pascasarjana, hingga rektor IAIN Tulungagung mendorong saya untuk melanjutkan itu (jenjang pendidikan S3, Red),” urai pria beralamat di Kelurahan Bandarlor, Kecamatan Mojoroto ini.

Zuhri sebenarnya sempat ragu. Sebab menjalani pendidikan S3 membutuhkan etos kerja lebih tinggi. Apalagi dengan posisi pekerjaannya saat ini. “Tapi alhamdulillah semua pihak membantu saya,” jelasnya.

Tepat tiga tahun lamanya Zuhri akhirnya lulus S3 IAIN Tulungagung. Ia mengambil jurusan manajemen pendidikan. Disertasinya berjudul Kepemimpinan Visioner Kiai dalam Mewujudkan Layanan Prima di Pondok Pesantren Hidayatullah Pule-Trenggalek.

Menurutnya, dengan pendidikan bisa membuatnya terus mengembangkan pola pikir. Setelah ini Zuhri berkeinginan menjalankan salah satu yang dipesankan oleh almarhum KH Yahya Mahrus. Yakni sebisa mungkin ikut membantu mengajar di IAI Tribakti yang dimiliki Pondok Pesantren Lirboyo. “Insya Allah jika Tuhan menghendaki (menjadi dosen, Red) saya akan terus mengembangkan ilmu yang saya miliki untuk masyarakat,” harapnya.      

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia