Jumat, 15 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Info PPDB Kediri: Sudah Efektif, Tak Ubah Juknis

Kendala Pemeringkatan Teratasi

22 Juni 2019, 14: 08: 52 WIB | editor : Adi Nugroho

Tentang Skema PPDB

Tentang Skema PPDB (radarkediri.id)

Share this          

KEDIRI KOTA - Langkah Kemendikbud menambah rentang penerimaan untuk jalur prestasi dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) tak berpengaruh di wilayah Kediri. Sebab, Dispendik Jatim merasa skema yang dibuat saat ini justru sudah mengakomodasi hal-hal yang dikeluhkan itu. Karena itu, skema kuota jalur penerimaan masih sama seperti semula. Tidak ada perubahan.

Sebelumnya, melalui Surat Edaran (SE) nomor 3/2019 tentang PPDB, Kemendikbud menyarankan daerah mengubah persentase daya tampung masing-masing jalur. Seperti jalur prestasi yang bisa ditambah hingga menjadi 15 persen.

Menurut Kepala Cabdispendik Jatim wilayah Kediri Sumiarso, mereka telah melakukan modifikasi permendikbud sejak awal. Terutama pada persentase kuota PPDB jenjang SMA. Karena itu, di Jatim yang berubah bukan pada skema kuota penerimaan tiap jalur. Tapi hanya penambahan waktu pendaftaran saja. Yaitu dari 20 Juni menjadi 21 Juni.

“Itu pun karena sempat adanya penghentian sementara pendaftaran usai demo orang tua di Surabaya,” jelas Sumiarso.

Ia menyampaikan, keputusan yang dikeluarkan Kemendikbud bersifat nasional. Tentunya itu bergantung kondisi daerah yang berbeda-beda. Termasuk juknis yang menganjurkan 90 persen jalur zonasi diubah menjadi 80 persen. Sementara untuk jalur prestasi ditambah menjadi 15 persen.

Anjuran itu tak dilaksanakan oleh Dispendik Jatim. Sebab selama ini persentase di Jatim dinilai telah efektif. Karena itu PPDB jenjang SMA di Jatim tetap sesuai dengan ketentuan Permendikbud 51/2018 (selengkapnya lihat grafis).

Dengan sistem seperti ini, Sumiarso menegaskan tidak ada yang namanya siswa dengan nilai tinggi tapi tidak bisa masuk sekolah favorit. “Mereka yang pintar tetap diwadahi. Ada 20 persen. Tetapi harus tetap dalam satu zona mereka,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Sumiarso menyampaikan, selama ini banyak siswa yang khawatir apabila nilai hasil ujian nasional tidak akan digunakan. Itu akibat dari sistem zonasi yang pertimbangan utamanya adalah jarak rumah ke sekolah. Bukan lagi nilai. Tetapi yang jelas, atas berbagai pertimbangan, khusus di Jatim sistem zonasinya berbeda dengan provinsi lain. Nilai ujian nasional pun masih menjadi prioritas dengan kuota 20 persen.

Sumiarso menambahkan, jalur yang menggunakan nilai tersebut melihat NUN yang paling tinggi tetapi harus tetap dalam satu zona. Sementara dari juknis, 50 persen masuk jalur zona. Dan itu tidak mempertimbangkan nilai ujian nasional. Pertimbangan utamanya adalah jarak. Di Kediri sendiri sistem ini tak terlalu menimbulkan banyak permasalahan.

“Di Kota Kediri sudah kondusif. Hanya ada beberapa masalah yang sudah bisa ditangani,” paparnya.

Termasuk permasalahan terkait zona yang berada di daerah irisan. Dia menyebut bahwa kemarin sudah proses sinkronisasi. Dan itu murni kesalahan di sistem aplikasi. Sumiarso memastikan kesalahan itu sudah ditindaklanjuti dan segera normal kembali.

Sementara untuk daerah-daerah yang dirasa masih kesulitan mencari SMA negeri, seperti Kecamatan Badas dan Ngancar, ia menyebut akan mengevaluasi permasalahan itu agar bisa diperbaiki dalam PPDB tahun depan.

Tentang Skema PPDB

Permendikbud 51/ 2018

a.     Jalur zonasi paling sedikit 90 persen.

b.     Jalur prestasi paling banyak 5 persen di luar zonasi.

c.      Jalur perpindahan orang tua paling banyak 5 persen.

SE Nomor 3/ 2019 Tentang PPDB

a.     Jalur zonasi paling sedikit 80 persen.

b.     Jalur prestasi paling banyak 15 persen  dari daya tampung sekolah,

c.      Jalur perpindahan tugas orang tua paling banyak 5 persen.

Keputusan Kepala Dispendik Jatim 20 Mei 2019

a.     Jalur prestasi 5 persen (3 persen lomba akademik dan non-akademik, 2 persen prestasi ujian nasional),

b.     Jalur perpindahan tugas orang tua 5 persen.

c.      Jalur zonasi 90 persen (20 persen keluarga tidak mampu, 50 persen berdasarkan zona, dan 20 persen berdasarkan prestasi akademis dari nilai UN).

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia