Rabu, 24 Jul 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Info PPDB Kediri: Sistem Pemeringkatan Bermasalah

Puluhan Orang Tua Siswa Datangi Cabdispendik

21 Juni 2019, 11: 59: 18 WIB | editor : Adi Nugroho

ppdb kediri

KLARIFIKASI : Fitri (kiri) menanyakan soal peringkat anaknya ke operator PPDB di kantor Cabdispendik kemarin. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

KEDIRI KOTA -  Masalah masih bermunculan dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) SMA negeri di Kota Kediri. Kemarin puluhan orang tua mendatangi kantor Cabang Dinas Pendidikan (Cabdispendik) Jatim wilayah Kediri di Jalan Jaksa Agung Suprapto nomor 2 Kota Kediri. Mereka memprotes ketidaksingkronan hasil pemeringkatan di situs PPDB.

Kejadian yang dikeluhkan para orang tua siswa itu sama dengan yang terjadi di hari pertama PPDB. Saat itu peringkat pendaftar yang dikeluarkan sistem dianggap tak adil. Salah satunya seperti yang dikeluhkan Titik Rusmiati. Dia mengatakan nama anaknya kemarin tak masuk daftar pemeringkatan. Padahal sehari sebelumnya sudah masuk.

“Tapi setelah aplikasinya dibuka tadi pagi (kemarin pagi, Red) namanya sudah hilang,” ujar Rusmiati di depan kantor cabdispendik, sembari menunjukkan handphone di tangannya. Saat itu Rusmiati memang sedang membuka situs PPDB milik dispendik Jatim. Menurut wanita ini, nama anaknya hilang setelah terjadi penangguhan PPDB oleh Dispendik Jatim.

Mau Sekolah ke Mana?

Mau Sekolah ke Mana? (radarkediri.id)

Anak Rusmiati memang masuk zona irisan. Rumahnya di Desa Tugurejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri. Di zona irisan itu anaknya bisa bisa di kota maupun kabupaten. Nah, putrinya ingin sekolah di SMAN 3 Kediri yang masuk Zona 2 Kota. Dengan jarak 1,2 kilometer lolos di peringkat 120. “Tapi ada yang rumahnya kabupaten dengan jarak 1,7 kilometer malah lolos,” herannya.

Permasalahan itu membuatnya bingung. Sehingga kemarin ia melakukan klarifikasi ke cabdispendik. Rusmiati mengaku dengan sistem baru seperti ini putrinya kesulitan untuk menentukan pilihan masuk SMA. Apalagi tempat tinggalnya masuk zona irisan. “Kalau ke SMA Gurah jaraknya jauh dan pasti kalah dengan yang dekat sana,” jelasnya.

Ditanya jika kemungkinan buruk tidak lolos pada pendaftaran PPDB jalur zonasi ini, Rusmiati memilih untuk tidak menyekolahkan putrinya hingga tahun depan. Ia juga tidak akan memilih sekolah swasta. “Sebenarnya ingin sekolah di SMKN 1 Plosoklaten, tapi tidak bisa karena 1 PIN hanya untuk 1 kali pendaftaran,” keluhnya.

Permasalahan terkait hasil pemeringkatan pada aplikasi pendaftaran juga disampaikan Fitri. Dia menyebut putrinya tiba-tiba masuk pada jajaran peringkat jalur zona. Padahal sebelumnya ada pada posisi jalur NUN. Sebab putrinya memiliki NUN 383. “Tiba-tiba di hari pertama juga pindah ke SMAN 1, termasuk tadi pagi (kemarin, Red) meluncur di peringkat paling bawah jalur zona,” sebutnya.

Kasi SMA Cabdispendik Kediri Prayitno menyampaikan, memang kemarin banyak orang tua yang melakukan komplain ke kantor cabdispendik. Setidaknya hingga siang hari sudah ada 65 orang tua. “Mereka klarifikasi hasil pemeringkatan. Ada yang NUN lebih tinggi tapi kalah dengan NUN di bawahnya. Padahal rumahnya bersebelahan,” jelasnya.

Prayitno menyebut paling banyak yang melakukan komplain adalah warga kabupaten yang masuk zona irisan. Ia menyebut memang untuk persaingan di zona tersebut sangat ketat. Sebab hanya 2 persen saja. “Animo masyarakat tetap pada SMA negeri favorit. Sehingga di zona tertentu mereka memperebutkan sekolah-sekolah favorit tersebut. Seperti SMAN 1, 2, dan 7,” jelasnya.

Menanggapi komplain dari orang tua, Prayitno menegaskan pihak operator dari tim PPDB ITS yang ada di kantor cabdispendik segera memperbaiki sistem tersebut. Tentunya juga berkoordinasi dengan tim PPDB di provinsi. Ia menegaskan bahwa sistem website PPDB Jatim dalam hal pemeringkatan dilakukan secara otomatis, 50 persen berdasarkan jarak rumah dengan sekolah dan 20 persen berdasarkan nilai UN.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia