Jumat, 15 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Hakim Vonis sang Dukun Aborsi 4 Tahun

21 Juni 2019, 11: 52: 54 WIB | editor : Adi Nugroho

dukun aborsi

BERBISIK: Ander Sumiwi berbisik di telinga terdakwa Sumini saat berlangsungnya sidang vonis kasus aborsi, di PN Kabupaten Kediri kemarin. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Share this          

KEDIRI KABUPATEN – Wajah Sumini, 76, tahun terlihat pasrah. Tak ada tetesan air mata dari mata nenek warga Desa Kepung, Kecamatan Kepung. Kala hakim mengetok palu dan menegaskan hukuman selama 4 tahun penjara kepadanya, dia masih terlihat tegar. Meskipun sepanjang jalannya sidang kemarin dia lebih banyak menundukkan kepala.

Ya, kemarin (20/6) adalah saat yang menentukan bagi wanita yang dihukum karena membantu aborsi yang dilakukan Ika Wahyuningsih ini. Saat di mana hakim membacakan vonis terhadap perbuatan salahnya itu. Akhirnya, lama hukuman yang dijatuhkan jauh lebih ringan dari tuntutan jaksa. Sebelumnya, jaksa penuntut umum (JPU) meminta hakim menjatuhkan hukuman selama 7 tahun dengan denda Rp 100 juta subsider 6 bulan kurungan.

Ternyata, hakim punya pandangan lain. Sang nenek dukun aborsi hanya divonis 4 tahun penjara. Dengan denda juga cuma Rp 50 juta subsider satu bulan penjara.

Pertimbangan usia sepertinya menjadi faktor dari penjatuhan hukuman itu. Maklum, Sumini sudah renta.

Soal kasihan karena sudah tua itu diakui oleh JPU Lestari. Menurutnya, pihaknya menyadari dengan penjatuhan hukuman seperti itu. Namun, jaksa akan melawan bila terdakwa mengajukan banding. “Kalau nanti mengajukan banding siap kami  hadapi,” terang Lestari.

Menurut Lestari, bila melihat dari lamanya hukuman yang dijatuhkan, terdakwa tak bisa banding. Sebab, hukuman minimalnya adalah 5 tahun. Sementara oleh hakim Sumini ‘hanya’ dihukum 4 tahun penjara.

Lalu, apakah Sumini bakal banding? Penasehat hukum (PH) terdakwa, Ander Sumiwi mengatakan masih akan berdiskusi dengan kliennya. Mereka masih memiliki waktu tujuh hari untuk memutuskan.

Namun, Ander mengakui bahwa hukuman selama 4 tahun itu sudah sesuai dengan yang mereka harapkan. “Pledoi yang kami lakukan mempengaruhi putusan hakim. Meskipun dalam sidang replik, JPU tak menerima semua pledoi yang diajukan,” ujar Ander usai sidang.

Dalam sidang kemarin hakim memutuskan bahwa Sumini terbukti melanggar pasal 80 ayat 3 UU Perlindungan Anak. Perbuatannya itu berlangsung ketika menyanggupi permintaan Ika (sudah divonis 9 tahun) dan Kamsidi (pasangan Ika yang telah divonis 7 tahun) menggugurkan bayi yang dikandungnya.

Caranya, Sumini memijat perut Ika dan menginjak-injaknya dengan tumit. Sang dukun ini juga memberi ramuan jamu. Peristiwa ini terjadi pada 14 November 2018. Untuk jasanya itu Sumini awalnya minta dibayar Rp 3 juta. Namun, karena posisi bayi sungsang, akhirnya dia minta tambah menjadi Rp 5 juta.

Saat dipijat, janin tidak bisa keluar dari perut Ika. Bayi tersebut baru keluar ketika Ika sampai di rumah kosnya di Jalan Pare-Kandangan, Kencong, Kepung. Bayi itu kemudian dibuang di tepi jalan di Dusun Kebonsari, Desa Krenceng, Kepung.

Dalam persidangan kemarin, hakim juga menyebut beberapa hal yang meringankan. Yaitu selama persidangan Sumini bersikap sopan, tidak berbelit-belit, dan menyesali perbuatannya. “Sedangkan yang memberatkan perbuatan terdakwa bertentangan dengan program pemerintah khususnya terhadap perlindungan anak,” terang Ketua Majelis Hakim Agus Tjahjo Mahendra.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia