Minggu, 15 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal
PENCURIAN

Bapak-Anak Satu Geng

19 Juni 2019, 15: 03: 40 WIB | editor : Adi Nugroho

pencuri bapak anak

PESAKITAN: Dicky, salah seorang terdakwa dalam kasus pencurian, saat mengikuti sidang di PN Kabupaten Kediri kemarin (17/6). (Dwiyan Setya Nugraha - radarkediri.id)

Share this          

KEDIRI KABUPATEN - Kekompakkan bapak dan anak ini tak patut ditiru. Apa pasal? Karena mereka kompak dalam kejahatan. Berada di satu geng (komplotan) pencuri yang sama. Ujung-ujungnya, keduanya juga harus mendekam di hotel prodeo. Keduanya juga terancam lebih lama di balik jeruji besi karena sidang mereka di PN Kabupaten Kediri belum tuntas.

Pasangan bapak anak yang tak layak ditiru itu adalah Purnomo Hadi,48,  dan Dicky Setiawan, 27. Warga Desa Sitimerto, Kecamatan Pagu. Keduanya jadi terdakwa dari kasus empat kali pencurian.

Aksi pencurian itu tidak mereka lakukan berdua saja. Tapi bersama komplotannya yang berjumlah empat orang. Selain Purnomo dan anaknya, dua pencoleng yang lain adalah Agus Suntoro, 24, dan Eko Arianto, 26. Keduanya juga warga Desa Sitimerto.

Agenda sidang kemarin mendengarkan keterangan saksi yang kebetulan juga para terdakwa. Keterangan para terdakwa ketika menjadi saksi bagi yang lain itu sempat membuat marah hakim Mellina Agus Cahyo Mahendra. Karena menganggap keterangan para terdakwa itu berbelit-belit dan tidak nyambung.

“Kamu tahu keteranganmu itu tidak masuk akal. Ini nanti akan menyulitkanmu di sidang,” gertak hakim kepada para terdakwa.

Kemarin, yang menjadi saksi adalah Eko dan Agus. Mereka memberi keterangan untuk terdakwa pasangan bapak anak, Purnomo-Dicky.

Dalam kesaksiannya, Eko menjelaskan aksi mereka dilakukan dengan cara membobol tembok menggunakan linggis. Cerita jadi rumit karena antara keterangan Eko dan Agus berbeda. Eko mengaku yang bertugas membobol tembok adalah Purnomo, alias sang ayah. Sedangkan Agus menunjuk Dicky sebagai tukang jebol tembok. Hal itulah yang membuat majelis hakim marah. Dan menegur para terdakwa.

Fakta di persidangan menyebutkan, empat warga Sitimerto itu telah melakukan empat kali pencurian. Pencurian pertama berlokasi di Plosoklaten. Membobol toko asesoris handphone. Berlangsung Januari 2019. Kemudian pencurian kedua juga di Januari. Tapi sasarannya toko kelontong di daerah Gurah. Pencurian ketiga di warnet yang berlokasi di Sitimerto. Sedangkan pencurian keempat warung lesehan yang berada di Desa Kayenkidul.

Khusus untuk pencurian ketiga, yang beraksi hanya tiga orang. Sebab, Agus Suntoro saat itu bertugas mengambil motor untuk mengangkut hasil curian. Hanya, ketika Agus tiba, tiga rekannya sudah selesai beraksi.

Saat aksi keempat itulah gerombolan ini kena batunya. Ketika beraksi ada saksi yang melihat. Namun, saat itu saksi tak berani bertindak. Baru setelah itu saksi melaporkan ke polisi.

Dalam melakukan aksi terakhirnya itu, pelaku berboncengan tiga. Yaitu Purnomo, Dicky, dan Eko. Mereka berkeliling untuk mencari sasaran yang akan digarong. Mereka kemudian memilih warung milik Dedi Setiawan yang ada di Desa Sitimerto. Setelah menjebol tembok warung ketiganya masuk dan beraksi.

Di dalam warung mereka mengambil puluhan pak rokok berbagai merek. Juga puluhan bungkus kopi instan, juga beragam merek. Tak cukup itu, ketiganya juga menggondol amplifier rakitan, tiga tabung elpiji ukuran 3 kilogram, satu laptop merek Acer warna hitam, dan uang tunai Rp 1,5 juta. Barang-barang tersebut dimasukan dalam sak berwarna putih. Kemudian, terdakwa Dicky keluar terlebih dahulu melalui lubang dinding. Dia kemudian menerima barang curian itu dari luar. Setelah itu ketiganya kabur.

Ketika ditanya, Purnomo mengaku menjual laptop curian melalui Facebook. Laptop itu dia jual seharga Rp 600 ribu. “Hasilnya kami bagi sekitar Rp 200 ribu,” imbuhnya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia