Rabu, 17 Jul 2019
radarkediri
icon featured
Features

Subroto, Satu dari Sedikit Perajin Wayang Kulit yang Tersisa

17 Juni 2019, 15: 46: 12 WIB | editor : Adi Nugroho

subroto wayang

TELATEN: Subroto menatah lembaran kulit untuk dijadikan anak wayang. (Iqbal Syahroni - radarkediri.id)

Share this          

Usianya sudah nyaris menyentuh kepala delapan. Tapi tangannya tetap kukuh menatah lembaran kulit. Membentuknya menjadi anak wayang kulit. Kegiatan yang sudah dia geluti selama 60 tahun ini. Yang dia dapatkan secara temurun. Dari generasi ke generasi.

IQBAL SYAHRONI

Sinar matahari sangat terik siang itu di Desa Panjer, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri. Tapi itu tak menyurutkan semangat seorang lelaki renta yang beraktivitas tepat di depan pintu rumah. Bercelana pendek. Berbaju batik warna cokelat yang berlengan pendek. Lelaki ini duduk lesehan. Kepalanya tertunduk. Tangan kanannya dengan hati-hati memukulkan palu kayu ke benda lancip yang ada di tangan kiri.

wayang kulit

TRADISI: Subroto memamerkan dua karyanya. (Iqbal Syahroni - radarkediri.id)

Subroto, demikian nama lelaki itu. Dia memanfaatkan sinar matahari sebagai penerang aktivitasnya. Menatah lembaran kulit. Menjadikannya selembar anak wayang yang sudah dipesan orang.

Dengan teliti dan sangat hati-hati dia melakukannya. Perlahan ia melubangi irisan kulit lembu yang sudah ia gambari. Di sampingnya terdapat kotak perkakas yang berisi paku . Yang dia gunakan untuk melubangi kulit sapi berdasarkan motifnya. “Ini digunakan berbeda-beda, tergantung dari motif yang akan dilubangi,” ujarnya sembari menunjukkan paku-paku yang berbeda ukuran dan ujungnya.

Warga Desa Panjer hampir semuanya tahu lelaki 78 tahun ini. Dikenal sebagai orang yang ramah tapi adalah perajin wayang kulit yang mumpuni. Buah dari 60 tahun menggeluti dunia pembuatan wayang kulit

Keterkenalannya itu berawal saat ia menikah dengan istrinya yang asli warga Panjer. Sejak 1965 ia menetap di rumah yang berada sekitar 50 meter dari balai desa itu. “Saya meneruskan pekerjaan saya saat masih tinggal di Wonorejo, Wates, dulu,” terangnya.

Bukan tanpa sebab bila Subroto kemudian memutuskan terjun sebagai perajin wayang kulit. Kemampuan ini dia dapatkan karena keluarganya bergelut tak jauh dari dunia pewayangan. Ayahnya dulu adalah seorang dalang. Demikian halnya dengan kakek dan generasi di atasnya. Bahkan, selain dalang, orang tua Subroto juga merupakan pembuat wayang kulit. Dari sinilah kemampuan Subroto muncul.

Sekitar 1960, saat masih remaja, ia mulai membuat wayang kulit pertamanya. Berlatih sedikit demi sedikit dengan cara melihat Sucipto, ayahnya,  saat membuat wayang kulit. “Saya lihat dan belajar dari orang tua,” paparnya.

Kecintaannya terhadap wayang berawal saat ia sering diajak menghadiri pentas wayang kulit yang didalangi oleh ayahnya. Ia pun memutuskan membuat anak wayang.

Setelah beberapa kali membuat, ia mendapat kepercayaan ayahnya. “Sering bikin untuk bapak juga. Mulai dari gunungan dan yang lainnya,” kenang Subroto.

Darah keluarganya seolah sudah dialiri dengan kecintaan terhadap wayang. Bahkan, anak laki-laki pertama Subroto juga mengikuti jejaknya. Sujarno, sang anak, kini juga membuka jasa pembuatan wayang. Lokasinya di Wates. Sujarno banyak belajar dari sang ayah.

Subroto mengatakan, semua proses pembuatan wayang dia lakukan sendiri. Bahkan, mulai membeli bahan, menggambar, hingga finishing. Dan, hasil karyanya itu banyak diminati. Bahkan hingga ke luar Jawa. Dia ingat betul ada pemesan yang minta wayangnya dikirim ke Sulawesi. Meskipun, terbanyak pemesannya datang dari Jawa, terutama Jatim dan Jateng.

“Pernah dulu, 2017 yang lalu, dikunjungi oleh Bupati Kediri,” kenangnya.

Meski mendapatkan kemampuan membuat wayang dari sang ayah, Subroto tak sepenuhnya mengikuti jejak ayahnya. Dia hanya menekuni pembuatan wayang saja. Tak ingin menjadi dalang. Baginya, ia belum cukup ilmu untuk menjadi dalang wayang kulit. Meskipun, bila di hadapan cucu-cucunya dia masih bersedia memainkannya. Mendongeng dengan menggunakan anak wayang buatannya. Baginya, membuat wayang membuatnya berupaya untuk mengenalkan salah satu seni dan kebudayaan asli daerah. Agar tidak hilang seiring berkembangnya zaman.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia