Rabu, 17 Jul 2019
radarkediri
icon featured
Features

Tirmizi Chouanmaro, Pesepeda Asal Pattaya-Thailand Mampir Kediri

Sakit Perut saat Makan Sambel Tumpang

15 Juni 2019, 10: 14: 34 WIB | editor : Adi Nugroho

tirmizi pesepeda thailand

KAKEK PERKASA: Tirmizi berpose di dekat sepedanya saat berada di Kelurahan Blabak, Kota Kediri. (Dwiyan - radarkediri.id)

Share this          

Menjelajahi nusantara menggunakan sepeda sudah banyak dilakukan oleh para penghobi cycling. Namun yang menarik dari aksi kakek berusia 65 tahun ini adalah dia merupakan warga negara Thailand. Juga, dia menjadi mualaf ketika di perjalanan sering mendengar azan.

DWIYAN SETYA NUGRAHA

Lelaki ini mencoba mengurangi kecepatan kayuhannya. Tepat ketika dia hendak melintasi gerbang masuk Kota Kediri. Kemudian dia menghentikan laju sepeda rakitan yang dia naiki. Memarkirnya di salah satu warung kopi di daerah Kelurahan Blabak, Kecamatan Kota Kediri.

Saat itu Kamis (13/6) sore. Sekitar pukul 16.25 WIB. Buih keringat bercucuran di tubuh lelaki bernama lengkap Tirmizi Chouanmaro. Seperti tak memedulikan keringat di badannya, cyclist asal Pattaya, Thailand itu berswafoto di dekat gapura batas kota yang memisahkan Kota dan Kabupaten Kediri itu.

Sesaat kemudian, dia mengeluarkan satu kotak minuman dari dalam ranselnya. Berupa susu segar. Susu tersebut dibelinya dari salah seorang warga di Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri. “Ini salah satu kebiasaan saya ketika habis bersepeda,” ucapnya sambil mengusap keringat yang membasahi wajah.

Kakek berusia 65 tahun ini adalah pengeliling nusantara dengan sepeda. Meskipun dia bukan warga negara Indonesia. Selama dua tahun enam bulan dia telah berhasil mendatangi lebih dari 200 kota di tanah air. Termasuk Kota Kediri yang dia masuki dua hari lalu.

Tirmizi mengaku tertarik untuk menjelajahi alam Indonesia setelah melihatnya di internet. Keindahan dan eksotisme pantainya yang membuat lelaki ini semakin kesengsem. Karena itulah, kota-kota yang punya destinasi wisata pantai menjadi jujugan utamanya.

“Saya berada paling lama di Bali dan Lombok. Di Denpasar hampir satu minggu,” terangnya.

Tirmizi berangkat dari kota kelahirannya pada Agustus 2016. Mengendarai sepeda angin warna biru. Bertolak dari pelabuhan Pattaya dan berlabuh di Pangkal Balam, Kepulauan Bangka Belitung. Tepatnya di Kota Pangkalpinang. Saat itu bekalnya adalah uang Rp 10 juta, makanan, dan beberapa potong pakaian.

Setelah berkeliling Babel, Tirmizi bertolak ke Sulawesi. Setelah itu menyusuri rute hingga ke Papua. Setelah sampai di ujung timur dia kembali mengayuh sepedanya ke arah barat. Hingga nanti kembali Pangkalpinang lagi usai mengelilingi Pulau Jawa.

Waktu yang dia butuhkan untuk tiba di Kediri adalah dua tahun enam bulan. Hanya saja, karena Kediri tak punya destinasi wisata pantai, Tirmizi tak terlalu lama berada di kota tahu ini.

Meskipun tak lama, hanya sekitar 2 hari 3 malam, Tirmizi punya kenangan khusus dengan kota ini.  “Dingin banget ternyata Kota Kediri,” akunya. Setidaknya dia membandingkannya dengan Kota  Bangkok di negaranya yang menurutnya, panas.

Sebelum sampai di Kota Kediri, Tirmizi mernyempatkan berkunjung ke makam Proklamator Bung Karno di Kota Blitar. Dengan memilih etape Jawa Timur bagian selatan hingga akhirnya memutuskan memilih Kota Kediri untuk disinggahi. Sesampainya di Kota Kediri, Tirmizi merasakan kenangan yang tidak akan bisa dilupakan begitu saja. Salah satunya saat memakan makanan khas di kota ini, nasi pecel sambal tumpang. Lidahnya langsung cocok. Saat makan dia merasa suka. Namun, ternyata punya efek besar pada tubuhnya.

”Saya langsung sakit perut setelah makan nasi pecel tumpang,” ungkapnya dalam bahasa Indonesia terpatah-patah, sambil tertawa lepas.

Sebagai petualang sepeda, Tirmizi memiliki banyak pengalaman dari setiap kota yang disinggahi. Salah satunya ketika sampai di Kota Lampung. Saat sedang asyik bersepeda, dia dihadang seekor gajah yang masuk ke jalanan. Di kesempatan lain, Tirmizi juga dikejutkan dengan seekor harimau yang sedang duduk di bawah pohon. Untungnya harimau itu tak terganggu saat dia melintas di dekatnya.

Yang menarik, Tirmizi menjadi seorang mualaf saat dalam perjalanannya itu. Tepatnya ketika dia sampai di Kota Palembang. “Alhamdulillah saya sekarang muslim. Hati saya bergetar saat mendengar azan ketika melintas di sekitar masjid yang saya kunjungi,” ungkapnya.

Dia mengaku tak akan lelah bertualang dengan sepeda. Meskipun harus tidur di markas koramil, markas polsek, atau bahkan di rumah kosong yang dia jumpai di setiap kota yang disinggahi. Bahkan pengalaman mistis pun tak luput dari perjalanannya. Yang menarik, sebelum sampai di Kota Kediri, kakek yang juga seorang Nelayan ini sempat beristirahat di salah satu rumah di Kabupaten Blitar. “Perasaan saya ada rumah besar dan megah. Setelah saya bangun ternyata saya tidur di poskamling dekat kuburan,” ceritanya.

Dia pun berharap suatu hari dapat mengunjungi Kediri kembali menggunakan sepeda angin. Menurutnya, kota yang dikenal dengan kota tahu ini menyimpan pariwisata yang sangat menarik. Salah satunya Gunung Kelud. “Bagus sekali Gunung Kelud, apalagi wanita Kediri beautiful,” pujinya sambil tertawa.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia