Rabu, 17 Jul 2019
radarkediri
icon featured
Features

Kiprah Sapta Andaruisworo setelah Tak Jabat Ketua KPU Kabupaten Kediri

Kembali ke Kampus, Warisi Ilmu Almarhum Ayah

14 Juni 2019, 21: 07: 20 WIB | editor : Adi Nugroho

sapta andaruisworo

LEPAS JABATAN: Sapta Andaruisworo membereskan buku dan dokumen dalam ruangan kerjanya di KPU Kabupaten Kediri. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

Darah pengajar sudah mengalir deras dalam nadinya. Selepas menjabat sebagai Ketua KPU Kabupaten Kediri, Sapta Andaruisworo kembali mengabdikan diri di dunia pendidikan.

ANDHIKA ATTAR

Di dalam ruang kerja berukuran sekitar 4 x 4 meter bercat putih, Sapta Andaruisworo sedang berkemas. Hari-harinya sebagai ketua KPU Kabupaten Kediri telah berakhir, kemarin (13/6). Sendirian, ia membereskan sebagian barang-barangnya tanpa meminta bantuan.

Beberapa berkas ditumpuknya menjadi satu. Ditata rapi menjadi tumpukan kertas yang menggunung. Buku-buku yang biasa menemani waktu senggangnya di kantor KPU juga tak luput menjadi sasaran pembersihan. Sembari melihat-lihat sekilas isi buku itu, Sapta pun kemudian mengepaknya.

Pria kelahiran 1969 ini merupakan tipikal orang yang mempersiapkan segala sesuatunya jauh-jauh hari. Seperti halnya karir sebagai penyelenggara pemilihan umum (pemilu) yang tidak akan bertahan selamanya. Sapta pun sudah mempersiapkan diri dengan kembali mengambil program doktoral.

“Bagaimana juga saya seorang akademisi. Oleh karena itu di sela kesibukan menjadi ketua KPU, saya juga mengambil program doktoral di Universitas Brawijaya (UB) Malang,” ungkap ayah dua anak tersebut.

Sapta mulai mengambil program doktoral agribisnis ternak di UB Malang pada 2017 lalu. Kini, ia sedang berada di semester empat. Rencananya, semester depan sudah akan membuat disertasi untuk perkuliahannya.

Alasannya meneruskan pendidikan untuk mengambil gelar doktoral memang salah satunya karena akan kembali aktif menjadi dosen. Itu tepat setelah kewajibannya menjadi penyelenggara pemilu selesai.

Pria berzodiak Virgo tersebut memang telah mantap mengabdikan diri secara aktif sebagai dosen. Ia sendiri memang tercatat sebagai pengajar di Universitas Nusantara PGRI Kediri. Yakni sebagai dosen ilmu peternakan. Sejalan dengan bidang yang dikuasainya sejak dalam masa kuliah hingga kerja.

Darah sebagai seorang pengajar memang mengalir deras dalam tubuh Sapta. Yakni almarhum sang ayah lah yang menjadi motivasi berkecimpung di dunia pendidikan. “Beliau adalah sosok Oemar Bakrie bagi saya. Mengajar dengan mengendarai sepeda unta hingga masa pensiunnya,” kenangnya.

Sapta kecil tidaklah lahir dalam keluarga yang serbaada. Meskipun memiliki ayah guru, namun tak lantas membuat keadaan ekonomi mereka terjamin. Belum lagi, sang ayah harus menghidupi sembilan anak. Bahkan, rumah tinggalnya dulu hanya berstatus kontrakan.

Tak jarang mereka pun beberapa kali berpindah rumah kontrakan. Hingga akhirnya salah satu kakaknya yang telah berhasil membelikan rumah tetap untuk mereka di Desa Sukorejo, Kecamatan Ngasem.

Rumah dan kendaraan memang bukan menjadi prioritas kedua orang tuanya. Namun, pendidikan bagi Sapta dan delapan saudaranya lah yang menjadi kebutuhan primer yang harus didahulukan.

Ayahnya memang memiliki prinsip bahwa bekal pendidikan adalah hal yang utama. Ada satu perkataan ayahnya tak akan pernah bisa dilupakannya. “Le, bapakmu gurung iso duwe omah. Ora iso wenehi warisan sak liyane ilmu (Nak, ayahmu belum bisa memiliki rumah. Tidak bisa memberikan warisan selain ilmu),” ingatnya lekat-lekat.

Oleh karena itulah, Sapta mengangap dunia pendidikan sangatlah dekat dengannya. Maka ia memutuskan kembali aktif menjadi dosen. Kembali ke dunia akademisi seperti yang dirajut Sapta sejak 2008 silam.

Sejatinya, meskipun berkecimpung sebagai penyelenggara KPU, Sapta masih tercatat sebagai dosen. Hanya saja, intensitasnya disesuaikan dengan tugas penyelenggara pemilu. Bahkan, ketika menjadi dosen pembimbing bagi mahasiswanya tak jarang dilakukan Sapta di kantor KPU.

“Sering saya undang mahasiswa bimbingan saya ke sini. Kalau tidak begitu, bisa langsung berkonsultasi di rumah. Saya tidak ada masalah dengan hal tersebut,” ungkap ayah dua anak tersebut. Sapta tercatat sebagai dosen tetap di Universitas Nusantara PGRI Kediri sejak 2011/2012 silam.

Sapta memang sejak 2009 silam berkantor di KPU Kabupaten Kediri. Bahkan, pada periode kedua 2014 – 2019 ini dia dipercaya mengemban amanah sebagai ketua dari lembaga yang dipimpinnya tersebut.

Kini, setelah masa baktinya di lembaga penyelenggara pemilu tersebut telah selesai, Sapta pun memantapkan diri kembali mengajar. Kembali aktif menjadi akademisi dan pengajar. Meski kakinya terasa berat meninggalkan ruang kerjanya tersebut, namun ia percaya bahwa semua sudah ada yang mengatur.

“Semua pengalaman dan wawasan di sini tentu akan menjadi pelajaran berharga bagi saya. Saya yakin, semua sudah ada yang mengatur. Kita hanya tinggal bekerja keras dan bersungguh-sungguh. Hasilnya kita hanya tinggal berserah,” pungkas pria yang pernah bekerja di Charoen Pokphand dan Japfa Comfeed ini.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia