Jumat, 15 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Events

Kirab, lalu Berebut Ribuan Kupat di Wisata Sor Pring Ngadi

Acara Lebaran Syawal

14 Juni 2019, 20: 21: 12 WIB | editor : Adi Nugroho

ketupat ngadi

 MERIAH: Ketupat dikirab dari balai desa setempat. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

KEDIRI KABUPATEN - Desa Ngadi di Kecamatan Mojo mempunyai cara yang unik untuk merayakan kupatan. Cara ini bahkan menjadikan suasana kupatan menjadi meriah. Sebab, warga desa mengadakan kirab yang dilanjutkan dengan makan ribuan ketupat bersama-sama. Acara yang bernama ‘Kirab Ketupat Raksasa’ itu berlangsung di wisata desa sor pring yang jadi andalan desa tersebut selama ini.

“Acara ini sebelumnya sudah kami adakan sebanyak tiga kali. Ini yang keempat kalinya,” kata Kepala Desa Ngadi Basuki Eko Margono, yang dijumpai saat berlangsungnya kirab kemarin (12/6).

“Kalau dulu kami melaksanakan kirabnya malam hari. Sekarang kami berinisiatif melaksanakannya pagi hari,” sambungnya.

ketupat lebaran

SERU: Pengunjung tempat wisata Sor Pring di Ngadi meraih ketupat yang dipasang di tumpeng raksasa. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Kirab ketupat tersebut berlangsung mulai dari balai desa menuju tempat wisata sor pring. Jaraknya sekitar dua kilometer. Ribuan ketupat disusun lancip meninggi menyerupai tumpeng. Kemudian dinaikkan ke kendaraan roda empat modifikasi. Kendaraan ini hanya berupa rangka saja.

Di belakang kendaraan pengangkut tumpeng kupat itu ada sang kades dan perangkat desa. Mereka berjalan kaki di sepanjang rute kirab.

Ribuan orang memadati pinggir jalan yang menjadi rute kirab. Mereka bukan hanya warga desa, tapi juga masyarakat dari berbagai tempat yang penasaran dengan kegiatan tersebut. Para penonton itu terlihat banyak yang mengeluarkan gawainya. Kemudian mengabadikan momen-momen menarik di acara tersebut.

Sesampainya di lokasi wisata sor pring, tumpeng ketupat itu langsung diparkir di depan panggung. Ribuan pengunjung tempat wisata yang telah menunggu langsung menyerbu untuk berswafoto.

Tak berselang lama, setelah prosesi berdoa bersama, acara rebutan ketupat pun tiba. Para pengunjung yang kemudian dipersilakan mengambil ketupat sesuai dengan aba-aba yang diberikan Margono. Warga yang tak sabar kemudian merangsek maju. Saling berebut ketupat. Acara semakin semarak dengan petasan yang dibunyikan saat acara rebutan itu.

Menurut Margono, ribuan ketupat itu merupakan patungan dan sedekah dari warganya. Pihaknya hanya mengoordinasikan setiap rumah untuk mengumpulkan dua buah ketupat. “Tapi ya tidak ada yang mengumpulkan hanya dua buah, pasti lebih dari itu,” terangnya.

Padahal jumlah rumah warga di desa ini mencapai dua ribuan. Praktis, tak kurang dari empat ribu ketupat disiapkan untuk acara tersebut. Lengkap dengan sayur yang juga merupakan pemberian dan buatan warga asli di sana.

Ribuan bungkus ketupat pun berjajar di beberapa titik di tempat wisata ini. Ditemani dengan rindangnya pohon bambu yang menjadi andalan wisata desa. Margono pun mempersilakan pengunjung untuk makan ketupat bersama. Pengunjung boleh mengambil ketupat yang telah dibungkus tersebut sesukanya.

Acara ini tak lepas dari tradisi puasa yang dilaksanakan selama seminggu pada bulan Syawal. Oleh karena itu, pihaknya selalu menggelar acara tersebut setiap H+8 Lebaran. Atau yang oleh warga disebut dengan Lebaran Syawal.

Ke depannya, Margono menegaskan masih akan terus melaksanakan kegiatan tersebut. Hanya saja, dia belum dapat memastikan akan kembali dilaksanakan pagi hari atau balik lagi malam hari seperti tahun-tahun sebelumnya.

“Kalau malam hari kirabnya lebih panjang lagi. Kalau ini mungkin sebagian terbentur karena sudah mulai bekerja. Beruntung kami bekerja sama dengan pengelola Wisata Sor Pring sehingga pengunjung yang datang tetap banyak,” pungkas Margono sembari menerima sebungkus ketupat sayur yang disodorkan kepadanya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia