Jumat, 15 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Info PPDB Kediri: Cek yang Daftar Jalur Tak Mampu

PPDB SMP, Pengambil PIN Masih Melimpah

14 Juni 2019, 20: 14: 31 WIB | editor : Adi Nugroho

PPDB Kediri

PPDB Kediri (radarkediri.id)

Share this          

KEDIRI KOTA - Bila penerimaan peserta didik baru (PPDB) SMP sudah tak menggunakan jalur keluarga miskin, tidak demikian halnya dengan level SMA dan SMK. Di tingkat ini PPDB-nya masih membuka jalur keluarga tidak mampu. Selain jalur prestasi, perpindahan tugas orang tua, dan inklusi.

Nah, untuk jalur keluarga tak mampu itu penanganannya juga khusus. Ada tambahan proses lagi setelah masa pendaftaran jalur off-line ditutup pada hari ini. Yaitu melakukan cek langsung ke rumah pendaftar.

“Kalau untuk yang jalur tidak mampu, besok tanggal 14 dan 15 kami melakukan survei ke rumah masing-masing. Tapi yang jalur prestasi langsung verifikasi petugas di sekolah,” terang Waka Kesiswaan SMKN 2 Kota Kediri Hasan Kanuni kemarin.

Survei tersebut untuk membuktikan kebenaran dokumen berdasarkan urutan jarak terdekat dengan sekolah. Termasuk melihat kondisi keluarga siswa yang masuk kategori tidak mampu tersebut. Sebagai bahan untuk menentukan apakah layak atau tidaknya menggunakan jalur tidak mampu. Penentuan itu akan berlangsung 17 Juni mendatang.

“Kami lihat mereka yang daftar jalur keluarga tidak mampu. Meskipun sudah punya KIP (Kartu Indonesia Pintar) tapi dulu ada yang tidak tepat sasaran. Jadi kami lihat langsung kondisi di rumah,” tegasnya.

Jalur ini khusus bagi siswa dari keluarga tidak mampu. Yang dibuktikan dengan KIP sebagai bukti keikutsertaan program penanganan keluarga tidak mampu dari Pemerintah Pusat. Sebelumnya siswa yang mendaftar jalur ini juga diwajibkan membuat surat pernyataan bahwa bersedia diproses secara hukum apabila memalsukan bukti keikutsertaan program tersebut.

“Kami juga ada form sendiri untuk menilai siswa dari jalur ini saat survei nanti,” jelasnya.

Form tersebut berisi tentang indikator verifikasi siswa tidak mampu. Termasuk di dalamnya keterangan pekerjaan orang tua, penghasilan per bulan, kondisi rumah, status rumah, dan kepemilikan kendaraan bermotor.

Hasan menambahkan, jalur ini kuotanya 20 persen dari pagu awal sekolah. Jumlah tersebut lebih tinggi dibanding jalur off-line lain seperti jalur perpindahan orang tua dan prestasi. Dua jalur itu sama-sama berkuota 5 persen.

“Jalur prestasi dibagi dua. Tiga persen prestasi lomba akademik atau non-akademik dan dua persen prestasi nilai ujian nasional,” terangnya.

Di SMKN 2 Kota Kediri tercatat jalur keluarga tidak mampu memiliki peminat terbanyak di jalur off-line. Hingga kemarin (12/6) ada 98 calon peserta didik di jalur tersebut. Sementara untuk jalur prestasi total ada 71. Terbagi 32 jalur non-akademik dan 39 dari jalur akademik. “Untuk jalur perpindahan orangtua belum ada yang mendaftar,” sebutnya.

Sementara, pengambilan PIN untuk jalur online akan berlangsung hingga 20 Juni. Di SMKN 2 Kota Kediri hingga kemarin sudah ada 1.000 pengambil PIN. Mereka kebanyakan dari luar Kota Kediri. “Total ada 90 persen dari luar kota. Kebanyakan dari Kabupaten Kediri. Ada juga yang dari Nganjuk bahkan Probolinggo,” papar Hasan. pendaftaran di jalur ini akan dibuka mulai 17 Juni.

Sementara itu, pengambilan personal identification number (PIN) dalam PPDB SMP telah memasuki hari ketiga. Memasuki tengah waktu pengambilan PIN tersebut animo para calon peserta didik belum menunjukkan tren menurun.

Seperti halnya yang ada di SMPN 1 Ngasem. Sekolah ini setiap hari harus melayani 150 calon peserta didik baru yang mengambil PIN. “Total ada sebanyak 642 orang yang mendaftar antrean untuk mengambil PIN di sini,” terang Kepala SMPN 1 Ngasem Khoirul Anwar.

Padahal, di lembaganya tersebut hanya tersedia 320 pagu. Praktis, separo calon peserta didik yang ingin sekolah di sana harus siap-siap gigit jari. Oleh karena itu, pihaknya selalu memberikan pertimbangan kepada para calon peserta didik untuk memastikan pilihan sekolah yang dituju merupakan yang terdekat.

Pasalnya, akan sangat disayangkan jika wali murid memaksanakan anaknya bersekolah di lembaga yang jauh dari rumah. Otomatis jika jaraknya terlalu jauh akan susah bersaing dengan para peserta didik lain. Terutama yang memiliki rumah dekat dengan sekolah tujuan.

Berdasarkan pengamatan koran ini, beberapa kali operator berdiskusi dan memberikan arahan kepada wali murid terkait jarak tersebut. Baik dalam memilih sekolah pilihan pertama, kedua, maupun ketiga.

“Meskipun nantinya yang tidak diterima di sekolah pertama bisa langsung diarahkan kepada pilihan kedua, namun wali murid harus bijak menentukan pilihan,” tuturnya.

Langkah tepat diambil oleh Jupri, 43, warga Desa Nambaan, Ngasem. Pria yang kebetulan tinggal satu dusun di mana sekolah tersebut berada pun mendaftarkan anaknya Dahlia Anggun di SMPN 1 Ngasem. Bahkan, berdasarkan hasil cetak pengambilan PIN, rumahnya tercatat hanya berjarak 600 meter dari lembaga tersebut.

“Sebenarnya dia (Dahlia, Red) ingin sekolah di madrasah. Tetapi berubah pikiran dan ingin sekolah di SMP negeri. Karena sekarang menggunakan jarak, akhirnya kami memutuskan mendaftar di sini,” ungkap Jupri saat hendak pulang setelah mengambil PIN.

Melihat jarak yang tercatat dalam sistem tersebut, ia pun optimistis anaknya dapat diterima. Pasalnya, ia menilai dengan kesibukan orang tua zaman sekarang, akan lebih tenang jika anaknya dapat bersekolah tak terlalu jauh dari rumah.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia