Senin, 16 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Features

Melihat Crop Circle di Lahan Persawahan Desa Kedungmalang, Papar

Butuh Gardu Pandang dan Rumah Pohon

12 Juni 2019, 16: 56: 20 WIB | editor : Adi Nugroho

kedungmalang crop circle

DARI UDARA: Crop circle di Kedungmalang saat difoto dari udara.

Share this          

Nama Kedungmalang mendadak terkenal. Crop circle di lahan pertanian seluas 2,6 hektare menjadi pemicunya. Puluhan jenis tanaman membentuk ornamen indah yang bisa dinikmati dari udara.

HABIBAH A. MUKTIARA

Hari beranjak siang. Matahari pun sudah meninggi. Jarum jam menunjuk pukul 11.00 WIB. Saat itu, beberapa warga terlihat beristirahat di gubuk-gubuk yang berdiri di tepi sawah di Desa Kedungmalang, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri. Melepas penat setelah beraktivitas sedari pagi. Menggarap sawah yang ada.

benih kedungmalang

SOSIALISASI: Prayitno memberi penjelasan kepada salah satu penyuplai benih. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Tapi, sawah yang mereka garap bukanlah sawah biasa. Lahan seluas 2,6 hektare itu tak hanya ditanami beraneka ragam tanaman. Namun, jajaran tanaman-tanaman itu membentuk ornament indah. Terutama bila dilihat dari angkasa.

Ya, sawah di  tepi jalan yang menghubungkan Papar dan Plemahan itu membentu crop circle. Tanaman padi, jagung, sorgum, kedelai, labu madu, dan aneka tanaman lainnya itu membentuk gambar menarik. Yang dirangkai dari penataan penanaman tanaman-tanaman tersebut.

Sudah beberapa pekan ini sawah tersebut menjadi buah bibir masyarakat. Apalagi setelah Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa juga memosting foto sawah yang diambil dari ketinggian di akun instagram miliknya.

“Sawah ini disiapkan untuk acara Gelar Inovasi dan Teknologi Perbenihan TPH Tahun 2019,” terang Kepala Desa Kedungmalang Edi Sumitro saat berada di area crop circle tersebut.

Menurutnya, Gelar Inovasi dan Teknologi Perbenihan TPH Tahun 2019 bertujuan memberikan pengenalan benih di kalangan petani. Program tersebut memang milik BSPB Provinsi Jawa Timur. Namun, hasilnya nanti akan dikembalikan ke desa. Dan akan dikelola sebagai destinasi wisata.

Untuk membentuk crop circle yang indah itu butuh proses tak sebentar. Pertama, adalah mendapatkan lahan yang akan diratakan sebagai lokasi. Pemerintah desa (pemdes) pun harus membebaskan lahan milik mereka yang sudah telanjur disewa warga. “Karena lahan adalah bengkok desa, jadi harus ganti rugi sekitar sepertiga hektare dengan ganti rugi Rp 8 juta,” terang sang kades.

Namun, lahan itu belum cukup. Masih kurang setengah hektare lagi. Dan itu harus menggunakan sawah milik warga.

Setelah urusan lahan selesai, mereka melakukan perataan. Setelah itu melakukan pengemalan. Atau membentuk gambar sesuai sketsa kasar yang dibuat sebelumnya. Pematokan pun dilakukan sesuai bentuk yang diinginkan.

“Setelah dipatok lalu diberi keliling menggunakan gawar (tali salaran, Red),” terang Suprayitno, koordinator lapangan dari Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertabun) Kabupaten Kediri.

Setelah membentuk sesuai gambar yang diinginkan, di sekelilingnya kemudian diuruk dengan tanah. Tapi sebelumnya di dalam tanah itu telah dipasang pipa air. Sebagai jalan untuk mengairi tanaman. Pengerjaan seperti itu pula yang dilakukan untuk membuat ornament berbentuk tulisan.

Meski semua biaya didapatkan dari BPSB Jawa Timur, semua pengerjaan mulai awal dilakukan oleh beberapa orang dari kelompok tani (poktan) Desa Kedungmalang. “Dalam pengerjaan, memperlukan waktu selama tiga bulan,” terang Edi.

Saat ini, area crop circle itu memang sudah bisa dinikmati warga. Namun, tentu saja belum maksimal. Karena hanya bisa dilihat dari bawah saja. Ke depan, lokasi itu akan dikembangkan. Beberapa fasilitas akan ditambahkan. Seperti rest area, gardu pandang, kamar mandi, dan rumah pohon.

“Gardu pandang dan rumah pohon diniliai sangat dibutuhkan. Nantinya crop circle dapat dinikmati secara maksimal dari atas,” ungkap Edi.

Pembangunan gardu pandang, rumah pohon, rest area, serta kamar mandi untuk pengunjung masih diperlukan. Itu untuk fasilitas penunjang. Dari segi tanaman masih ada beberapa varietas tanaman yang belum datang dari Surabaya.

Untuk tanaman yang ditanam saat ini terdapat varietas berbeda. Baik itu jenis padi-padian, jagung, labu, buah-buahan, dan bunga. Sebut saja ada padi hibrida dan inbridda, Untuk jagung selain hibrida juga ada jagung manis, jagung pulut manis, dan jagung pulut ungu. Ada lagi kedelai, shorgum, melon, mentimun, dan bawang merah.

Tak cukup itu, juga ada semangka, stroberi, 10 varietas cabai, tomat, kacang panjang, buncis, terong, kubis ungu, kubis sendok, sawi hijau, sawi sendok, bayam ungu, bayam hijau, bayam belang, okra, kemangi, labu botol, labu madu, labu jepang, parea, oyong, bunga marigold, bunga celosia, bunga matahari, dan bunga pacar air. Selain itu juga terdapat lokasi edukasi sapi dan kambing.

Sebelum terpilih menjadi lokasi acara Gelar Inovasi dan Teknologi Perbenihan TPH Tahun 2019, lahan seluas 1,2 hektare itu memang akan dibangun rest area. Tidak hanya menjadi rest area saja, namun juga menjadi tempat wisata edukasi kambing.

Dalam tahapan membangun rest area, pemerintah desa mendapatkan ide ketika sedang berjalan-jalan di Lamongan. Di sana ternyata terdapat tempat wisata yang menyurupai dengan crop circle. “Kami melihat peluang wisata karena desa kami berada di jalan strategis yang dilewati wisatawan yang akan menuju Kota Batu Malang dari Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jakarta,” tutur Edi.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia