Sabtu, 25 Jan 2020
radarkediri
icon-featured
Features
Problematika ODGJ di Kabupaten Kediri

3 Ribu Penderita Gangguan Jiwa di Kediri, 18 Masih Terpasung

10 Juni 2019, 15: 38: 19 WIB | editor : Adi Nugroho

orang gangguan jiwa kediri

KANIBAL: Wiji (merah) saat diperiksa oleh petugas medis sebelum dirujuk ke RS Menur Surabaya. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Share this          

Kabupaten Kediri sempat ‘terkenal’ beberapa waktu lalu. Saat Wiji Fitriana, ODGJ, memakan jemarinya saat sedang kumat. Ternyata, ODGJ jadi kasus pelik yang penanganannya juga rumit.

Hingga saat ini, jumlah orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Kabupaten Kediri mencapai ribuan orang. Persisnya, 3.271 ODGJ. Mereka tersebar di semua kecamatan yang ada.

Ironisnya, kondisi itu juga membuat Kabupaten Kediri belum bisa sepenuhnya memenuhi program bebas pasung. Sebab, dari ribuan penderita gangguan jiwa itu, 29 di antaranya masih mengalami pemasungan. Meskipun dengan alasan yang juga masuk akal.

Data itu yang membuat Kabupaten Kediri juga masuk dalam top five daerah dengan penderita ODGJ terbanyak di Provinsi Jatim. Di bawah Probolinggo, Lamongan, Trenggalek, dan Ponorogo. Data itu dilansir dari e-pasung dinsos Jatim per Januari 2018.

Sebenarnya, jumlah ODGJ terpasung tahun lalu sudah mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya. Pada 2017 jumlah ODGJ yang mengalami pemasungan sebanyak 33 orang. Artinya, ada 4 orang yang lepas pasung.

Cover Story Radar Kediri

Cover Story Radar Kediri (radarkediri.id)

“Bahkan laporan pada tahun ini, jumlah pasien terpasung tinggal 18 orang,” terang Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinkes dr Jopie, saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Kediri.

Keberadaan ODGJ dalam keadaan terpasung itu tersebar di di sepuluh kecamatan. Mulai Kecamatan Papar, Kayenkidul, Kras, Mojo, Plosoklaten, Badas, Semen, Pagu, Puncu, dan Kandat.  Jika dibagi, setiap kecamatan memiliki tiga warga ODGJ yang dalam keadaan terpasung.

“Mayoritas sudah ditangani oleh tenaga kesehatan di wilayahnya masing-masing,” tambah dr Jopie.

Menurunnya jumlah pasien terpasung itu tak lepas dari upaya dinkes melakukan penanganan ODGJ pasung maupun non-pasung. Salah satunya dengan pembentukan Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM). Pembentukan TPKJM itu bertujuan supaya penanganan ODGJ bisa berlangsung optimal.

Tidak hanya dilakukan pembentukan TPKJM, dinkes juga melakukan sosialisasi tingkat kecamatan dan desa. Mulai dari kepala desa, tokoh masyarakat, babinsa,  dan bhabinkamtibmas menjadi sasaran sosialisasi. “Selain itu juga diadakan pembekalan kader tingkat kecamatan,” terangnya.

Yang tak kalah  membantu adalah keberadaan posyandu jiwa di setiap kecamatan. Keberadaan posyandu jiwa itu dengan harapan ODGJ bisa tertangani dengan baik. Salah satunya dengan adanya pemeriksaan kesehatan. Dalam kegiatan posyandu jiwa ini tidak sekadar mendampingi minum obat saja. Juga dipantau perkembangannya. Dan dilatih untuk bisa berkomunikasi dengan lingkungan sekitar. “Setiap satu bulan sekali, dilakukan aktivitas kelompok dengan pesertanya lima ODGJ dan lima pendamping,” tutur Jopie.

Tujuan posyandu jiwa sendiri agar mengurangi risiko kekambuhan dari ODGJ. Serta harapan lebih besar lagi, ODGJ yang sembuh bisa mandiri dan produktif.

Dari hasil temuan dinkes, terdapat tiga hal yang menjadi penyebab sesorang menderita gangguan jiwa. Pertama karena faktor biologis, faktor psikologis, dan faktor lingkungan atau sosial.

Penderita yang disebabkan faktor biologis mendapat penyakit ini karena genetik atau keturunan. Biasanya ada anggota keluarga yang memiliki riwayat gangguan mental. “Seperti orang tua menerunkan kepada anaknya,” terangnya.

Sedangkan dari sisi biologis, bisa karena infeksi. Pada kondisi tertentu bisa menyebabkan kerusakan otak yang memicu gangguan mental. Contohnya adalah gangguan autoimun neuropsikiatri pediatric. Yang dikaitkan dengan infeksi bakteri streptococcus telah memicu perkembangan gangguan obsesif-kompulsif serta penyakit mental lainnya pada anak-anak.

"Sedangkan faktor trauma parah, seperti kekerasan fisik, atau pelecehan seksual, hingga kehilangan menjadi salah satu faktor gangguan psikologis,” tutur Jopie.

Untuk faktor sosial atau faktor lingkungan, dapat diakibatkan karena kehidupan keluarga yang berantakan. Perasaan tidak berguna, rendah diri, terus menerus merasa marah, cemas atau kesepian, pindah kerja, atau pindah sekolah. Juga karena ekspektasi (harapan) yang terlalu tinggi dari lingkungan.

Tentang ODGJ di Kabupaten Kediri

Jumlah penderita           3.271 orang

Penderita terpasung       33 (2017)

                                      29 (2018)

                                      18 (hingga April 2019)

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia