Kamis, 12 Dec 2019
radarkediri
icon-featured
Features

Yasid Santoso, Mantan ODGJ yang Kini Jadi Tumpuan Keluarga

Pelanggan Berpaling karena Ditinggal Kontrol

10 Juni 2019, 15: 27: 10 WIB | editor : Adi Nugroho

odgj kediri

SEMBUH: Yasid (tengah) bersama Qisti Fadah, ibunya dan Lukman Hakim, kakak yang sama-sama mengidap skizofrenia di rumahnya. (Suryo - radarkediri.id)

Share this          

Menderita skizofrenia bukanlah akhir segala-galanya bagi Yasid. Dia mampu sembuh dari stigma ODGJ. Kemudian merintis dua usaha. Salah satunya kini jadi tumpuannya dalam menghidupi keluarga.

SURYO DEWO RAHMADIANTO

Mengunjungi rumah tanpa pagar di Desa Sendang, Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri ini kita akan disambut oleh tumpukan tabung gas melon. Tabung gas elpiji ukuran tiga kilogram. Masih ditingkahi dengan suara burung merpati yang terdengar dari kandangnya yang ada di dekat tumpukan itu.

Sesaat kemudian, sang tuan rumah muncul. Tegar dan bersemangat. Meskipun, Yasid Yudha Santoso, si empunya rumah, masih dalam proses penyembuhan akhir. Lelaki 35 tahun ini masih dalam tahap pengobatan untuk penyakit skizofrenia-nya. Penyakit yang kemudian membuatnya dicap sebagai orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

Di rumahnya itu, Yasid tinggal dengan sang kakak, Lukman Hakim, 40. Yang juga mengidap penyakit yang sama. Sementara sang ibunda, Qisti Fadah, 74, dengan setia menjaga dan merawat kedua anaknya itu. Kini, meski masih dibayang-bayangi label ODGJ, Yasid adalah tulang punggung keluarga tersebut. Mengelola bisnis elpiji setelah sembuh dari penyakitnya.

Yasid bercerita awal mula dia mengidap penyakit yang kini dideritanya. Gejalanya sudah dia rasakan pada 2013. Saat itu dia tak memedulikan. Membiarkan penyakit itu menjangkiti. Tanda-tandanya, dia seperti mendengar suara yang menghina dirinya. “Tapi saya cari orangnya tidak ada,” cerita Yasid.

Saat penyakit itu menyerang, Yasid sebenarnya sedang bekerja di perusahaan pelayaran. Dia juga tengah menunggu ijazah dari program pendidikan pelayaranyang diikuti. Saat menunggu terbitnya ijazah itulah penyakit anehnya itu datang menghampiri. Gejalanya sering mendengar suara-suara aneh.

Puncak dari gangguan itu dirasakan Yasid pada 2014.

 “Semakin jelas mendengar suara-suara yang menghina saya,” tuturnya.

Yasid sempat mengira yang menghina adalah tetangganya. Dia juga sempat mengaji untuk menghilangkan suara tersebut. Tapi, bukannya sembuh justru semakin parah. Kemudian, oleh kakaknya yang ada di Surabaya, Yasid dibawa berobat ke rumah sakit di Karang Menjangan Surabaya.

Oleh pihak rumah sakit, dia diperbolehkan pulang. Kemudian oleh keluarganya dibawa ke Puskesmas Tiron. Tapi dirujuk ke RS Bhayangkara. Hanya saja, karena tidak mendapat penanganan, ia pun pindah ke RSUD Gambiran.

“Saya kambuh kalau telat kontrol dan telat obat,” aku Yasid.

Ketika kambuh itu, ia merasakan hanya ingin sendiri di dalam kamar. Ia juga merasakan ketakutan yang sangat kuat. Itu yang membuat Yasid enggan keluar rumah.

Pada 2015, Yasid merasa sudah sedikit sembuh. Rasa takutnya juga sudah mampu dia atasi. Dan karena inisiatif sendiri yang kuat, akhirnya ia mulai membuka usaha. Yaitu membuka pangkalan penjualan elpiji 3 kilogram. Hingga kini usaha itu dia kelola.

Yasid merasa sadar saat memulai usaha tersebut. Apalagi dia keluar dari kerja di perusahaan pelayaran. Agar bisa hidup, tentu saja dia merasa harus bekerja. “Istilahnya biar bisa dapat beli beras,” ujarnya sambil tertawa.

Dalam sehari, Yasid mendapat kiriman 50 tabung gas dari agen. Dengan keuntungan per tabung Rp 500, laba yang dia raih mencapai Rp 75 ribu per hari. Karena harus habis dalam sehari, dia pun menjajakan ke toko-toko kelontong di sekitar desanya.

Yasid berkeliling mengantar elpiji dengan motor. Membawa 15 tabung sekali jalan. Awalnya, dia memiliki motor roda tiga. Tapi terpaksa dijual. Gara-garanya saat itu dia sering libur berjualan. Karena butuh kontrol dan beristirahat.

Nah, karena sering libur itulah banyak pelanggannya yang berpaling. Ditambah lagi dia baru bisa berjualan setelah salat duhur hingga asar. “Soalnya kalau habis minum obat itu rasanya ngantuk. Jadi pagi saya buat untuk tidur saja,” akunya.

Selain membuka usaha LPG 3 Kg, ia juga pernah membuka warung kopi di daerah Ngadiluwih. “Kalau siang antar gas dan kalau malam buka warung,” ucap Yasid. Namun karena keterbatasan tenaga, Yasid memilih untuk tidak meneruskan usaha warung kopinya.

(rk/rq/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia