Rabu, 17 Jul 2019
radarkediri
icon featured
Kolom

Lebaran dengan Menu Ayam, Kenapa Tidak?

10 Juni 2019, 15: 07: 03 WIB | editor : Adi Nugroho

Endro Purwito

Oleh: Endro Purwito (radarkediri.id)

Share this          

Terkenang merayakan Lebaran kala kanak-kanak sungguh menyenangkan. Berkeliling dengan teman sebaya ke rumah tetangga. Bersilaturahmi sekaligus memohon maaf lahir dan batin, terutama, kepada yang lebih tua. Ya karena barangkali mereka pernah kesal atau geregetan dengan kami kala itu.

          Maklum saja, selama puasa Ramadan ada saja kelakuan kami yang kelewatan. Membunyikan petasan tak kenal tempat dan waktu. Suara letusan petasan itu pasti mengganggu. Apalagi saat disulut malam usai Tarawih. Padahal waktu itu kebanyakan tetangga sudah beranjak untuk istirahat dan baru bangun menjelang sahur. Atau di siang bolong ketika orang-orang yang berpuasa sedang beristirahat menanti Magrib.

          Kebandelan kami kala kanak-kanak pun meriuhkan Tarawih. Kehadiran makmum anak-anak dalam salat sunah berjamaah itu tak pelak menyemarakkan suasana. Ramai meneriakkan amin setelah imam salat Tarawih selelesai melantunkan Al Fatihah. Terkadang beradu keras suara, meski tak nyaring.

Sebagian saling menggoda atau menjahili teman yang sedang serius berjamaah. Yang paling bikin jengkel kalau ada yang menyembunyikan sandal japit teman sendiri. Mengenangnya kembali masa-masa bocah dulu tatkala Lebaran ini terasa mengesankan. Waktu itu rasanya hanya gembira dan asyik-asyik aja.

Tanpa disadari tingkah polah kami mungkin mengesalkan bagi orang dewasa. Perasaan tersebut pun kini saya rasakan. Ya karena mereka mengganggu kekhusyukan jamaah yang berdoa. Berkali-kali takmir dan penjaga masjid mengingatkan dengan keras. Namun yang namanya bocah, mereka bisa taat dan tertib sebentar. Setelah itu, entah siapa yang memulai, tingkah bandelnya balik lagi.

Saya lalu teringat petuah kakek yang dahulu senang mengajak Tarawih. Nasihatnya, agar kami tidak ramai saat salat berjamaah telah dimulai. Apalagi sampai bikin onar. Berusahalah untuk ikhlas dan khusyu menjalankan ibadah. Terutama di masjid, surau, atau musala. Sebab di situ rumah Allah.

          Tuhan menyukai kebaikan. Bahkan memerintahkan agar selalu berbuat baik kepada sesama. Sebaik-baiknya umat adalah mereka yang bermanfaat bagi yang lain. Bukan justru berbuat jahat dan menyakiti.

Saat memberi pakan ayamnya, kakek pernah mengatakan bahwa saya bisa belajar dari kehidupan unggas peliharaannya. Dia lalu mengisahkan sebuah fabel atau dongeng tentang satwa. Anda barangkali juga pernah tahu cerita ini.

Menurut fabel itu ayam-ayam memiliki sifat seperti manusia. Punya rasa cemburu, iri, atau dengki. Satwa ini juga berkomunikasi dengan sesamanya. Mereka punya bahasa sendiri. Suatu ketika, anak ayam bertanya pada induknya. Dia merasa iri dengan manusia.

Pasalnya, sang induk tidak pernah memberinya nama sejak lahir. Bahkan hingga dirinya kini bisa berkeliaran dan mengais pakan sendiri. Dia tetap dipanggil ayam. Tidak ada induk ayam yang memberi nama berbeda pada anaknya. Baik ayam ras, ayam kampung, pedaging, maupun petelur namanya sama. Ayam.

          Sementara manusia memiliki nama-nama yang berbeda. Nama laki-laki dan perempuan pun tak sama. Nama pria misalnya. Ada Pablo Escobar, Fabio Restopi, Salvatore Lucky Luciano, Johny Torrio, Al Capone, Frank Lucas, Jose Agusto, Joseph Kennedy, Joaquin Guzaman, Archivaldo Guzman Loera, Amado Carrilo Fuentes, Manuel Noeriga, Carllos Lehder, dan masih banyak lagi.

          Nama wanita misalnya seperti, Karla Homolka, Thelma Wright, Sandra Avila Beltran, Raffaela Dalterio, Genene Jones, Patty Hearst, Maria Licciardi, Diane Downs, Anna Gristina, Judy Moran, Rosseta Cutolo, Claudia Ochoa, dan masih ada miliaran nama berbeda lainnya.

          Menanggapi anaknya, induk ayam menukas dengan sabar. Dengan tenang ia menuturkan, manusia mempunyai nama yang berbeda-beda hanya ketika dia hidup di dunia. Kelak, jika manusia sudah tiada atau meninggal, namanya hanya satu. Dan semua sama. Mereka yang telah wafat disebut mayat.

          Sang induk, melanjutkan lagi. Sedangkan ayam sebaliknya. Begitu mati, namanya berbeda dan makin variatif. Ada ayam goreng, ayam panggang, ayam penyet, ayam geprek, ayam asam manis, ayam lodho, ayam krispi, opor ayam, sate ayam, soto ayam. Dan masih banyak lagi kalau kita masuk rumah makan yang menyajikan menu olahan serbaayam.

          Kakek mengakhiri ceritanya sambil terkekeh. Dia tersenyum lantas menukas bahwa ada pesan moral dalam dongeng itu. Manusia yang telah tiada memang tinggal mayat. Raga yang tak bernyawa. Setelah dikubur nanti, jasadnya pun lenyap bersama tanah. Yang tertinggal di dunia hanya namanya.

          Kakek lalu menyitir sebuah peribahasa. Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, dan manusia mati meninggalkan nama. Artinya, budi pekerti selalu dikenang meski manusia telah meninggal. Menurut kakek, nama manusia akan tetap diingat sesuai perbuatannya.

          Berbeda dengan ayam yang baru terasa manfaatnya ketika sudah mati. Manusia semestinya harus dapat bermanfaat pada sesama, alam, dan lingkungan di sekitarnya ketika masih hidup. Sebab saat sudah menjadi mayat tak ada lagi yang bisa diperbuat.

          Lebaran ini setidaknya bisa menjadi momentum untuk terus berbuat lebih baik. Apalagi, Idul Fitri adalah hari kemenangan. Perayaan setelah sebulan penuh kita menjalankan puasa. Ini hari kemenangan atas ikhtiar kita mengalahkan hawa nafsu. Tak sekadar mengekang rasa lapar dan dahaga, namun juga keberhasilan menahan diri dari sikap, perkataan, dan perbuatan tak terpuji.

          Tentu kita berharap setelah hari raya Idul Fitri momentum hari kemenangan tak hilang begitu saja. Namun terus dipupuk dan dijaga agar tumbuh dan tak sirna. Dengan demikian, niscaya tebaran kebaikan tak pernah padam. Selamat berlebaran, selamat hari raya Idul Fitri. Mohon maaf lahir batin. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia