Jumat, 15 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Kolom

Bulan Kemenangan

10 Juni 2019, 14: 21: 05 WIB | editor : Adi Nugroho

Oleh : Mahfud

Oleh : Mahfud (radarkediri.id)

Share this          

Bagi umat Islam, Ramadan adalah ujian. Ujian bagi mereka bagaimana mengekang hawa nafsu. Bahkan nafsu yang baik pun harus dihindari di siang hari. Sementara nafsu yang buruk, sudah barang tentu menjadi hal yang sangat-sangat dijauhi.

Sebulan penuh umat muslim mengekang diri. Menjalani puasa wajib, puasa Ramadan. Menghindari makan, minum, dan sesuatu yang membatalkannya sejak waktu subuh hingga magrib.

Yang menarik, Ramadan ternyata bukan ‘milik’ orang Islam saja. Karena di Ramadan ini juga muncul berkah-berkah lain yang justru juga dinikmati oleh mereka yang bukan beragama Islam. Tentu saja yang di luar konteks peribadatan. Contoh mudahnya, tunjangan hari raya (THR). Di banyak perusahaan, THR juga dibagikan untuk karyawan yang beragama non-Islam. Termasuk para pegawai negara pun, yang non-muslim, mendapatkannya.

Maka tak heran bila arus mudik, pulang ke kampung-kampung halaman, bukanlah mutlak milik mereka yang beragama Islam. Yang beragama lain pun melakukannya. Berjajar-jajar dalam barisan mudik panjang di seluruh Nusantara. Mengalir dari kota-kota besar tempat mereka mengais sesuap nasi menuju desa-desa atau kampung-kampung tempat mereka ditempa dan dibesarkan oleh orang tua. Toh, yang mendapat jatah libur Lebaran bukan hanya mereka yang beragama Islam saja. Semua warga negara merasakan kenikmatan sesaat. Lepas dari penat keseharian dalam beberapa hari.

Dalam beberapa hari ini, kita yang berada di kota yang bukan dimasukkan dalam kota besar, bakal melihat parade rutinitas setahun sekali. Barisan ‘orang-orang kota’ yang kembali merasakan hawa kampung halaman. Yang sebagian mereka diiringi oleh beberapa fasilitas yang ‘harus’ mereka tampakkan. Harus mereka pertontonkan di kampung halaman. Karena menjadi salah satu ‘penanda’ sukes mereka di tanah rantau.

Karnaval budaya tahunan ini juga bukan sesuatu yang tak menguntungkan bagi kampung halaman pemudik. Sebaliknya, ini seperti berkah. Karena perputaran uang menjadi bertambah. Hasrat belanja para pemudik pasti akan membuncah. Membelanjakan uang yang mereka kumpulkan di kota-kota besar minimal selama setahun terakhir. Merupakannya sebagai oleh-oleh kembali ke kota besar, atau memberikannya sebagai sedekah pada sanak saudara.

Fenomena itu semakin menguatkan fakta bahwa Ramadan dan Lebaran ternyata juga berkah bagi mereka yang tak melaksanakan ritual ibadah sebagai ruh utama bulan istimewa ini. Yang tidak ikut puasa sebulan penuh pun tetap bersuka cita. Tetap bisa berbaju baru. Beranjang sana ke rumah-rumah tetangga, kerabat, atau kenalan-kenalan khusus. Atau dilengkapi dengan acara-acara reuni mulai berbagai tingkatan, SD, SMP, SMA, kampus, atau reuni komunitas-komunitas. Pokoknya, senyampang di kampung halaman, puaskan segala keinginan yang terpendam selama setahun penuh.

Yang melakukan ibadah-ibadah wajib dan sunah semakin merasakan bahagia. Karena merasa kembali fitrah. Kembali suci setelah ditempa ujian selama sebulan penuh. Demikian halnya bagi non-muslim. Mereka pun larut dalam gelora suka cita bulan kemenangan bagi umat Islam ini.

Dan itu semua sah-sah saja. Yang penting, usai melakoni mudik ini mereka bisa kembali beraktivitas dengan tenang. Tanpa terganggu menipisnya kantong. Atau mulai berkurangnya tabungan. Sebab, tantangan yang lebih hebat sudah menanti. Ujian yang juga tak kalah beratnya bakal menghadang.

Bagi mereka yang memiliki anak usia sekolah, bersiap-siaplah untuk kembali memutar otak usai menikmati libur Lebaran ini. Siap berjibaku untuk mencarikan sang buah hati sekolah idaman. Sederet biaya untu kebutuhan tahun ajaran baru juga sudah menanti. Membuka lagi kerut kening, imbas dari berputarnya kembali otak. Berpikir untuk memenuhi kebutuhan wajib itu.

Dan, menariknya, irama seperti itu sudah ditangkap para pelaku bisnis. Bila selama Ramadan etalase toko mereka penuh dengan pajangan gemerlap pakaian dan pernak-perniknya, kini sudah berganti. Show case toko-toko itu berubah menjadi tumpukan buku dan alat-alat tulis. Ibarat orang yang sangat paham dengan kebutuhan warga yang berlalu-lalang di sekitarnya. Yang memang sudah tak membutuhkan lagi pakaian bagus untuk silaturahmi. Berganti dengan kebutuhan alat tulis untuk tahun ajaran baru anak-anak mereka.

Belum lagi bagi mereka yang memiliki anak usia pasca-SMA. Beban semakin berat ada di pundak mereka. Berdegup kencang menunggu perkembangan putra-putri mereka dalam mencari kampus idaman. Bila sudah dapat, tinggal bibir tersenyum. Senyum yang tak selalu manis. Karena di balik itu, otak mereka berpikir keras memenuhi sederet biaya yang disodorkan sang anak. Sebagai biaya masuk kampus idaman.

Apapun itu, Lebaran adalah bulan kemenangan. Maka selayaknya kita hadapi sebagai orang yang siap untuk kembali menaklukkan tantangan. Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin atas semua kesalahan. Baik yang disengaja maupun tidak. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia