Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon-featured
Features

Merawat kerukunan Umat dalam Keberagaman di Desa Wonoasri, Grogol (2)

Bagi Takjil sekaligus Sebar Pesan Perdamaian

03 Juni 2019, 11: 47: 19 WIB | editor : Adi Nugroho

telusur ramadan

BERBAGI: Warga non-muslim di Desa Wonoasri ikut membagikan makanan bagi umat muslim yang berpuasa. (Dwiyan - radarkediri.id)

Share this          

Bagi warga Desa Wonoasri, saling berbagi dan membantu sesama merupakan kebiasaan mereka. Tak jarang aktivitas keagamaan juga dilakukan bersama-sama. Salah satunya adalah bagi takjil gratis yang dilakukan pemuda lintas agama.

Di desa yang berada di wilayah Kecamatan Grogol, Kabupaten Kediri ini acara bagi-bagi takjil terasa istimewa. Aktivitas yang banyak dilakukan selama Ramadan ini  dilakukan oleh puluhan pemuda. Mereka bukan hanya beragama Islam. Tapi datang dari komunitas lintas agama. 

Kegiatan yang dilakukan kelompok lintas agama ini sangat berfaedah bagi warga sekitar dan juga pengendara yang melintas. Sebab, pembagian takjil ini memang dilakukan di jalan utama yang menghubungkan Kediri-Nganjuk. Karena itu, setiap kali menggelar acara bagi takjil, kemacetan memang sempat terjadi. Tak hanya warga sekitar, pengguna jalan yang melintas banyak yang menyempatkan memelankan laju kendaraannya. Kemudian mengambil jatah makanan yang dibagikan.

Tepat pukul 16.30 WIB puluhan pemuda lintas agama tersebut memulai acara. Dengan mengalunkan musik jaranan yang dimainkan oleh pemuda dari kedua pemeluk agama. Salah satunya Willy Pratama, 21 warga Jalan Gereja Desa Wonoasri. Pemuda yang beragama Kristen ini pun ikut ambil bagian.

Willy termasuk yang sangat antusias dengan acara ini. Dia menyambut baik agenda tahunan dengan tajuk PDKT alias “Pendekatan Diri Kepada Tuhan dan Sesama’ itu. Kegiatan yang rutin dilakukan setiap tahun.

“Ini bagian dari upaya kami merawat kerukunan umat dalam keberagaman,” ungkapnya.

Kegiatan ini dilakukan sekitar 30 pemuda yang berasal dari kelompok lintas agama ini. Sejak awal pelaksanaan, kegiatan ini mendapatkan respon positif . Terutama dari warga yang melintas. Bahkan, karena diselingi dengan atraksi jaranan, juga membuat perhatian dari warga. Tak sedikit masyarakat pengguna jalan yang memilih berhenti. Tak hanya mengambil jatah makanan tapi juga menyaksikan beberapa penari jaranan yang beraksi.

“Senang rasanya ikut bersemangat membawa misi berbagi ini,” katanya.

Begitu menunjukkan pukul 17.10 WIB Willy pun bergegas untuk membagikan takjil gratis bersama puluhan pemuda lainnya. Sekitar 100 bungkus takjil dibagikan. Hanya 10 menit, takjil tersebut ludes terdistribusikan.

Sembari menahan rasa lelah bersama temannya, Willy cepat-cepat membereskan sisa-sisa sampah yang berserakan pascapembagian takjil.

Demikian pula dengan peralatan musiknya. Semuanya segera diberesi. Utamanya perangkat alat musik seperti gamelan, kendang, dan gong. Segala alat perlengkapan tersebut diangkut ke pikap. Dibawa ke balai desa.

“Saya bangga jika umat beragama bisa bersinergi seperti ini,” ucap Willy.

Balai desa itu berdekatan dengan gereja. Hanya berjarak sekitar 20 meter saja. Tepat pukul 17.30 WIB semua pemuda melakukan buka puasa di balai desa. Meskipun berbeda agama, puluhan pemuda itu tampak antusias. Yang beragama Kristen ikut berbaur untuk makan bersama.

“Kami berharap tali persaudaraan dan toleransi antarumat tetap terjaga dengan baik. Dan bisa membawa virus perdamaian antarlintas agama,” harap Willy menutup obrolan sore itu. 

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia