Rabu, 24 Jul 2019
radarkediri
icon-featured
Features
Wawancara Ramadan Radar Kediri

Fauzan Saleh: Perkuat Basis Perubahan Sosial dengan Dakwah

02 Juni 2019, 16: 54: 18 WIB | editor : Adi Nugroho

fauzan saleh

DAKWAH: Ketua Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Kediri Fauzan Saleh (radarkediri.id)

Share this          

Konsep keislaman warga Kota Kediri menunjukkan perkembangan positif. Keberagamaan umat dalam dimensi sosial pun kian kondusif. Berikut wawancara dengan Ketua Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Kediri Fauzan Saleh terkait hal itu.

Perserikatan Muhammadiyah mengusung konsep Islam berkemajuan. Bagaimana menjelaskan konsep tersebut?

Islam yang berkemajuan, pertama, secara teologi, kita merujuk pada esensi ajaran Islam. Yakni dinul hadharah sebagai agama yang membangun peradaban. Banyak sekali ayat-ayat dalam Alquran maupun hadis nabi yang merujuk pada pesan-pesan Islam yang berkemajuan. Misalkan surat al-Hashr ayat 18 atau surat ar-Ra’d ayat ke 11 yang mengajarkan Tuhan tidak akan mengubah dirinya sendiri. Ayat pertama dalam Alquran yaitu “Iqra”, sesungguhnya menjadi napas utama orang untuk membaca, mengkaji, memikirkan. Itu bukan hanya teks kitab suci, tapi juga alam semesta. Kedua, dalam konteks sejarah, Islam berkemajuan itu digoreskan dalam tinta perjalanan nabi selama 23 tahun di Makkah dan Madinah. Sejarah Islam setelah itu selama 6 abad lamanya mengukir sejarah kemajuan. Sehingga disebut era kejayaan Islam.

Konsep Islam berkemajuan ketika dikorelasikan dengan  kultur Kota Kediri, seperti apa?

Maka dari itu, landasan tersebut mencoba dikonstruksi ulang menjadi pandangan Muhammadiyah. Kemudian menerjemahkan nilai-nilai Islam berkemajuan dalam aksi-aksi perubahan yang membawa reformisme dalam alam pikiran masyarakat dan tradisional menjadi masyarakat yang maju dalam segala bidang, salah satunya bidang pendidikan, bidang kesehatan, dan pelayanan sosial.

Seperti apa Anda menerjemahkan konsep tersebut dalam program Muhammadiyah di Kota Kediri?

Pertama, kita ingin melihat problem apa saja yang krusial di Kota Kediri. Kita lihat ekonomi dan kultur. Ekonomi umat Islam, walaupun mayoritas secara jumlah, namun masih ditemukan beberapa titik kelemahan. Muhammadiyah Kota Kediri mendorong menjadi kekuatan ekonomi yang relatif bisa dinamis dan menjadi kekuatan mandiri. Kedua, secara kultur, kita harus memperkuat basis perubahan sosial dengan gerakan dakwah Muhammadiyah di Kota Kediri.

Tantangan untuk mewujudkan konsep tersebut di Kota Kediri?

Kerja membangun perserikatan akan berhadapan dengan kendala struktural, misalkan politik. Politik itu melahirkan orientasi hidup yang pragmatis, seperti misalnya pilkada dan pilpres yang baru serentak diselenggarakan. Ini akan melatih masyarakat yang menerabas, apa saja diterima. Tidak perlu dipedulikan bahwa itu benar, baik, dan patut seperti transaksi politik uang. Kemudian masyarakat orientasinya menang kalah. Nah, pada saat yang sama, masyarakat dihadapkan pada orientasi struktural. Untuk meminimalisasi tantangan tersebut, kami punya perangkat institusional yang relatif kuat, yakni amal-amal usaha, lembaga-lembaga pendidikan, pelayanan sosial. Amal usaha PDM Kota Kediri, seperti Rumah Sakit Ahmad Dahlan, Pendidikan Perguruan Muhammadiyah, Lembaga Zakat Infaq, dan Sadaqah Muhammadiyah (LazisMu) Kota Kediri. 

 

Terkait Ramadan di Kota Kediri, bagaimana pandangan Anda?

Di Kota Kediri semakin menunjukkan perkembangan yang positif. Toleransi antarumat beragama juga menunjukkan sikap yang kooperatif  yang tinggi. Dan itu membuat suasana antaragama semakin kondusif. Kami berharap, tidak ada lagi sikap intoleran yang belakangan ini terjadi di belahan Indonesia, semoga tidak terjadi di Kota Kediri. Semoga.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia