Jumat, 15 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Kolom

-- KPM 320 --

02 Juni 2019, 16: 40: 14 WIB | editor : Adi Nugroho

Oleh: Iqbal Syahroni

Oleh: Iqbal Syahroni (radarkediri.id)

Share this          

Sudahkah Anda melihat ucapan atau tagline dari secarik kertas, poster yang berisi gambar atau tokoh yang sedang berpose mengatupkan kedua tangan mereka di depan dengan tulisan “mari menyongsong hari kemenangan” atau semacamnya hari ini?

          Jika sudah, maka kita sudah memasuki minggu terakhir di bulan Ramadan. Hari kemenangan, menurut beberapa sumber. Hari kemenangan identik dengan Hari Raya Idul Fitri. Hari raya umat Islam yang terjadi sekali dalam satu tahun.

          Namun, kemenangan seperti apakah yang kita dapatkan untuk menutup Ramadan tahun ini? Kemenangan karena puasa kita tidak pernah sekalipun bolong? Kemenangan karena mampu menahan hawa nafsu selama 30 hari Ramadan? Kemenangan seperti apakah yang akan datang ini?

          Sepertinya kemenangan yang akan disongsong itu berbeda bagi para masyarakat yang hendak merayakan hari kemenangan itu sendiri. Bisa saja, kemenangan yang akan dirayakan adalah kemenangan karena ia berhasil membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa ia dapat melakukan hal yang sebelumnya ia tidak bisa lakukan.

          Namun, di hari kemenangan yang ditunggu tunggu ini, ternyata masih ada yang merasa belum tenggelam dalam euforia dari esensi kemenangan itu sendiri. Normalnya, jika ada seseorang, atau sesuatu yang sedang merayakan kemenangan, bukankah seharusnya mereka dalam keadaan yang bergembira atau bersuka cita?

          Kenapa masih ada berberapa orang yang masih berlarut dalam kesedihan karena meninggalkan Ramadan, demi menyongsong lebaran? Hal ini yang ada di benak saya ketika melihat postingan beberapa teman saya yang mengisyaratkan bahwa mereka tidak ingin berpisah dengan bulan Ramadan.

Untuk kepentingan penelitian, dan faktualitas tulisan, saya menanyakan langsung kepada salah satu teman yang memposting kata kata yang mengisyaratkan ia tidak ingin berpisah dengan Ramadan. Bahkan ia  merasa bersedih. Alasan kenapa ia bersedih karena meninggalkan bulan Ramadan tahun ini karena ia takut bila tidak bisa bertemu dengan Ramadan di tahun depan.

Bisa saja saya salah, namun bila tren hidup dalam belenggu ketakutan dan rasa pesimisme seperti it uterus dipelihara, maka esensi kemenangan akan berubah seiring berjalannya waktu.

Menikmati momen dalam kemenangan tidak hanya dilakukan dengan pesta berlebihan. Bersyukur untuk hari ini, dan berdoa untuk hari esok saja sudah cukup. Tidak perlulah mengubah energi sukacita menjadi duka, hanya karena kita takut dan pesimis dalam berkehidupan.

Seperti yang saya pahami dalam perkuliahan KPM 320 Ekologi Manusia, bahwa interaksi antar manusia dengan manusia, ataupun manusia dengan lingkungan dapat dipengaruhi dengan energi positif/negatif yang dikeluarkan dari salah satu individu dalam interaksi.

Optimis saja, bisa merasakan Ramadan di tahun-tahun berikutnya. Kemenangan esok ini adalah kemenangan yang bukan hanya dinikmati oleh umat Islam saja. Namun kemenangan juga seharusnya dirasakan oleh segala umat beragama lain yang hidup di dunia ini. Kecuali anda fans Arsenal, maka tidak akan ada kemenangan di hari esok. Baku, Azerbaijan 30 Mei 2019, London is Blue. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia