Jumat, 15 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Kolom

Wakil Rakyat

02 Juni 2019, 15: 26: 25 WIB | editor : Adi Nugroho

Oleh: Suko Susilo

Oleh: Suko Susilo (radarkediri.id)

Share this          

Pemilihan Umum (pemilu) baru saja berlalu. Sekalipun sudah menjauh dari tanggal 17 April 2019, ternyata getarannya masih juga terasa hingga kini. Terutama di interaksi berbagai grup WhatsApp (WA). Banyak gagasan yang didialogkan menandai adanya ketegangan akibat beda pilihan politik. Kesadaran kolektif sebagai alasan awal membentuk grup WA akhirnya koyak berantakan karena perbedaan.

Di kolom ini saya sama sekali tak berhasrat mengurai getaran pemilu yang awalnya bak gempa dahsyat itu, terutama di Jakarta. Biarkan yang punya syahwat politik kuat yang mengurai peristiwa itu. Sekalipun kadang uraiannya melampaui realitas. Hehehe..

Tulisan ini berangkat dari asumsi bahwa setiap pemilu akan selalu memunculkan elite baru. Sejumlah tokoh baru lahir dari pemilu untuk menghuni panggung politik. Elite atau tokoh adalah sedikit orang yang memiliki kekuasaan melebihi lebih banyak orang. Sedangkan kekuasaan adalah daya pengaruh yang dimiliki seseorang yang memungkinkan seseorang itu mendapat kepatuhan dari orang lain.

Presiden, gubernur, bupati, hingga walikota beserta para wakilnya adalah sejumlah tokoh hasil pemilu. Begitu juga di panggung legislatif. Mereka adalah para tokoh yang daya pengaruhnya besar di masyarakat. Anggota masyarakat cenderung selalu mematuhi apa yang dikehendaki para tokohnya.

Para tokoh partai yang baru berhasil masuk gedung legislatif ini kelak akan bekerja sama dengan sesama tokoh baru sekaligus dengan tokoh yang lebih dulu ada. Masing-masing partai jelas berbeda kepentingan dan ideologinya. Tetapi, ketika sudah masuk kolektifitas legislatif tugasnya adalah sama, menyejahterakan masyarakat dengan cara mengawal jalannya pemerintahan.

Kesadaran akan tugas yang sama dan harus dicapai bersama inilah yang mengharuskan para wakil rakyat bekerja sama. Kemungkinan konflik akibat ego kepartaian memang selalu ada, tapi perlu dicarikan jalan kompromi agar kerjasama menjadi harmonis. Karena, hanya dengan kerja sama yang harmonislah efek sinergis akan segera muncul. Dari dunia pewayangan, kerjasama lima tokoh Pandawa adalah contoh nyata adanya sinergitas itu.  

Setiap tokoh dari kelima orang Pandawa memiliki keunggulan sifat baiknya masing-masing. Namun, segala sesuatu yang baik itu tak boleh berlebih dari ukurannya. Karena jika sifat baik itu berlebih maka akan cenderung menimbulkan keadaan yang tidak baik.

Yudhistira misalnya adalah simbol kemurahan hati dan simbol rasa peka terhadap penderitaan orang lain. Namun ternyata sifat itulah yang membuatnya justru tak mampu memerintah negeri. Dia terlalu mudah jatuh kasihan dan tak sanggup bersikap tega. Kemurahatiannya membuat ia miskin dan belaskasihannya membuat ia lemah dalam memerintah.

Bima, adik Yudhistira, justru punya sifat sebaliknya. Ia memiliki keteguhan hati, watak kuat, dan sikap tegas. Tapi, justru sifat inilah yang membuatnya sering terlibat konflik, bentrok, dan perang.

Arjuna, adiknya lagi, yang lahir setelah Yudhistira dan Bima, punya sifat lain lagi. Pandawa ketiga ini menjadi simbol keadilan dan kejujuran. Tetapi sifat inilah yang menimbulkan intoleransi terhadap orang lemah moralnya atau mereka yang kebetulan sedang jatuh pada kekhilafan. Begitu juga Nakula dan Sadewa yang juga punya keunggulan sifatnya masing-masing.

Setiap dari kelima tokoh Pandawa ini secara perorangan tidak bisa hidup dan bertindak sendiri-sendiri. Mereka hanya bisa efektif jika berada bersama dan bekerja sama. Dalam kerja sama tersebut kelemahan yang satu akan diimbangi keunggulan sifat tokoh yang lain. Dari sinilah muncul efek saling menguatkan, efek sinergis. Begitu pula di masyarakat, dan terlebih-lebih di pemerintahan.

Organisasi wakil rakyat wajiblah tiap anggotanya bekerjasama secara harmonis. Jika setiap anggota bekerja secara perorangan akan terbentur pada kesulitan yang timbul akibat keunggulan sifatnya masing-masing. Karena, keunggulan yang tak terkelola dengan baik dan melampaui ukurannya cenderung akan menimbulkan hal sebaliknya. Disinilah dibutuhkan kesadaran yang ikhlas untuk bekerja sama demi kebaikan bersama.

Memang (mungkin) berat jadi wakil rakyat. Harus selalu aktif dan kreatif mencari jalan cepat menuju kesejahteraan rakyat. Tak boleh diam, apalagi bungkam saat jabatan sudah digenggam. Bungkam saat masyarakat merasakan idealitas berjauhan dengan realitas. Diam saat melihat hukum didedikasikan hanya pada mereka yang sombong dan berkantong tebal. Keamanan hanya dipersembahkan untuk sekelompok kecil orang berkemampuan tak terbatas.

Wakil Rakyat, kerja sama mesralah di panggung politik demi kami yang kau wakili! Jangan lupa, bentengi dirimu dari ketercelaan perbuatan agar masyarakat terhindar dari rasa penyesalan akibat salah pilih saat pemilu! Salam kompak dan selamat lebaran, maaf lahir batin nDa…. (Suko Susilo, rakyat biasa)

.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia