Jumat, 15 Nov 2019
radarkediri
icon-featured
Features

Setiap Ramadan, Warga Kandangan Bikin Acara Sahur Bareng (1)

Belanja usai Subuh, Tanak Nasi Tengah Malam

31 Mei 2019, 17: 01: 38 WIB | editor : Adi Nugroho

sahur kandangan

NIKMAT: Mujiati meladeni warga Kandangan yang hendak makan sahur di Masjid Baitul Gufron, Jumat (21/5). (Puspitorini Dian - radarkediri.id)

Share this          

Buka bersama? Itu biasa. Bagaimana kalau sahur bersama? Mungkin hanya warga RW 05 Desa Kandangan yang melakukannya. Pilihan menunya pun beragam. Juga diolah tukang masak berpengalaman.

Malas masak untuk menu sahur selama Ramadan? Bagi warga RW 05 Desa Kandangan, Kecamatan Kandangan, bukanlah hal tabu.  Sebab, saat sahur, sudah ada juru masak yang siap menyajikan ragam menu yang lezat dinikmati. Cukup datang ke area Masjid Baitul Gufron. Kemudian antre untuk mendapatkan sajian aneka masakan yang sudah disiapkan.

Dini hari itu, Jumat (21/5), misalnya. Kesibukan sudah terlihat sejak pukul 01.00. Suwarti, yang rumahnya hanya berjarak 50 meter dari masjid, sudah menanak nasi. “Sehari, 8 kilogram beras dimasak,” tutur perempuan 59 tahun ini.

Biasanya, dia memasak secara bertahap. Dua sampai tiga kali tanak. Yang diperkirakan bisa untuk 80 orang.

Suwarti ditunjuk warga sebagai koordinator sajian sahur bersama. Alasannya sederhana. Karena Suwarti sudah dikenal sebagai juru masak berpengalaman. Olahan masakannya tidak diragukan lagi. Dan sering dipanggil warga setiap ada hajatan.

Telusur Ramadan Radar Kediri

Telusur Ramadan Radar Kediri (radarkediri.id)

Pekerjaan wajib Suwarti adalah mengolah sayuran dan memasak nasi. Tetapi, sejak sore, Suwarti tak sendiri. Banyak warga, khususnya ibu-ibu membantu menyiapkan bahan-bahan. “Biasanya, setelah tarawih, bahan-bahan sudah dipotong. Jadi nanti tinggal dimasak,” beber Mujiarti, warga yang lain.

Semua bahan-bahan itu sudah disiapkan sesuai jadwal menu yang diatur ibu-ibu pengajian. Memang, ibu-ibu pengajian Masjid Baitul Gufron yang menjadi pencetus munculnya ide sahur bersama ini.

Jadwal masakan pun sudah disiapkan hingga akhir Ramadan. “Jadwalnya sudah ada sebelum mulai Ramadan,” jelas Mujiarti. Tetapi, sahur bersama ini baru dimulai pada hari kedua Ramadan. Sebab, hari pertama biasanya masih banyak yang ingin masak sendiri.

Tak hanya memerhatikan rasa, para ibu-ibu juga peduli pada kualitas. Karena itu, bahan disiapkan tiap hari. Khususnya yang bahan sayuran. Ada tiga ibu-ibu yang bertugas membeli bahan ke pasar. “Belanja setelah salat subuh,” terangnya Hanya saja, khusus bahan beras, dan telur sudah disiapkan oleh donatur.

Pagi itu, menu yang dimasak cukup mengundang selera. Sayur lodeh tahu, telur ceplok, pindang, dan tentu saja kerupuk. Terlihat sederhana. Tetapi rasanya memang benar-benar nikmat. Tak ketinggalan teh panas dan kopi juga disediakan panitia sahur.

Begitu terlihat para ibu-ibu sudah siap, takmir masjid pun membangunkan warga untuk sahur sekaligus mengundang warga segera datang ke masjid.

Benar saja, tak lama, warga berduyun-duyun datang. Ada ibu-ibu, ada pula anak muda yang baru saja berkeliling membangunkan warga. Juga terlihat anak-anak. “Suka kalau disiapkan seperti ini, tidak perlu bingung masak,” tutur Ida, salah seorang warga. Tak lupa dia membawa wadah untuk anaknya yang di rumah dan malas keluar rumah. Itu pun tak dilarang.

Tak lama, sekitar pukul 03.30, nasi sudah ludes. Suwarti dan satu warga lain pun bergegas kembali ke rumah tempat mengolah masakan dan mengambil nasi. Sekitar 10 menit kemudian, mereka kembali membawa nasi putih. Warga yang sudah antre menunggu pun kembali dilayani.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia