Kamis, 14 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Sego Tumpang

Makan Siang

30 Mei 2019, 11: 39: 28 WIB | editor : Adi Nugroho

Sego Tumpang

Makan Siang

Share this          

No free lunch. Tidak ada makan siang gratis. Apalagi bulan puasa begini. Warung-warung sego tumpang yang biasa buka sejak pagi juga banyak yang menggeser waktunya. Baru buka mendekati sore. Bablas sampai malam. Untuk nyepaki orang yang makan sahur. Makanya, yang makan siang, berarti memang ndak puasa. Atau mokel. Batal puasanya.

No free lunch. Dari bahasanya, sudah jelas itu ungkapan dari kulonan. Dari budaya wong kulonan. Yang hari-harinya disibukkan dengan kerja, kerja, kerja. Apalagi sejak terjadi industrialisasi. Mereka menjadi bagian dari mesin-mesin produksi. Ndak kerja, ya ndak bakal makan.

Maka, makan siang pasti dilakukan di sela-sela jam kerja. Saat istirahat. Setiap hari. Kecuali libur. Karena setiap hari itulah, makan siang harus dilakukan sendiri-sendiri. Bawa bekal sendiri-sendiri. Atau, bawa sangu sendiri-sendiri untuk beli.

Tidak ada traktiran. Traktiran hanya berlaku untuk dinner. Malam hari. Mengajak dinner, berarti mentraktir untuk makan malam. Makan siang? Kalaupun ngajak, itu artinya ya be-de-de. Bayar dewe-dewe. Tempatnya saja yang dikompromikan. Biar bisa bareng-bareng.

So, makan siang ndak ada yang gratis. Kalaupun ada yang gratis, pasti karena ada maunya. Dari yang menggratiskan. Dan, yang digratiskan, diharapkan mau untuk mengikuti. Di situ lantas ungkapan no free lunch menjadi berkembang. Digunakan dalam percaturan politik. Yang penuh dengan deal-deal tertentu.

Sebab, politik adalah seni berkompromi. Seni bernegosiasi. Mengompromikan dan menegosiasikan hal-hal yang semula sulit untuk dipertemukan. Karena politik bukan soal menang-menangan. Kalau menang-menangan, tidak akan pernah terjadi titik temu. Semua ingin menang. Tidak ada yang ingin kalah.

Di situ, politik menjadi jalan. Tentang siapa, mendapat apa, dengan cara bagaimana. Seperti definisi Harold Dwight Lasswell itu. Untuk mendapat apa, sesiapa harus mau memberi apa. Bahkan, jika harus dengan mengurangi jatah miliknya sekalipun.

Makanya, politik juga merupakan seni mengolah ketidakmungkinan. Mengolah yang tidak mungkin menjadi mungkin. Itu biasa terjadi dalam politik. Yang, kemudian, membuat melongo orang-orang di luarnya. Seperti belok atau putar balik tiba-tiba tanpa menyalakan lampu sein. Karena mendadak memang terlihat ada celah untuk melakukannya. Itu manuver namanya.

Pemilu sudah usai. Siapa saja yang terpilih sudah jelas terbaca. DPR, DPRD, DPD, presiden. Tapi, suhu politik akan segera kembali menghangat. Bukan oleh gugatan-gugatan di antara yang tidak puas. Akan tetapi, oleh pilkada serentak 2020 yang tahapannya akan dimulai tahun ini. Kabupaten Kediri mendapat gilirannya.

Dan, biasa, setiap ada rame-rame, bakul-bakul akan banyak yang datang. Menawarkan dagangan. Jam bukanya bukan hanya pagi atau menjelang sore seperti posoan begini. Bukan juga sore atau malam. Tapi, sejak dini hari sudah ada yang dasar. Kalaupun ada yang nyemoni, jawabannya bukan hal yang sulit. Kan mart-mart itu malah buka 24 jam? Siapa tahu ada yang beli. Itu sekadar upaya menjemput rejeki. 

Jika pun yang beli tak sepakat harga yang dicantumkan, tawar menawar bisa terjadi. Di situ seni negosiasi dan kompromi mendapatkan ruangnya. Politik dan bakulan pun menemukan kesamaan. Yang penting, sama-sama senang.

Tapi, ada yang perlu dicermati. Hati-hati. Yakni, jika mendadak ada yang menawarkan makan siang. Gratis. Apalagi bagi orang seperti Dulgembul. Tanpa tolah-toleh bisa langsung berangkat. Ho-ah ho-oh saja. Lebih-lebih demi sego tumpang yang enaknya sak ndonya.

Padahal, makan siang ndak ada yang gratis. Apalagi di bulan puasa ini. Bisa mokel dia. Yang lebih sial, kadung mokel, Mbok Dadap ternyata ndak jualan. Blaen… (tauhid wijaya)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia