Rabu, 17 Jul 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Hanya Bisa Pilih Dua Sekolah

Ambil PIN, Siswa Wajib Bawa Kartu Keluarga

29 Mei 2019, 12: 30: 17 WIB | editor : Adi Nugroho

Hanya Bisa Pilih Dua Sekolah

Share this          

NGANJUK–Dinas Pendidikan (Disdik) Pemprov Jatim memperketat jalur zonasi dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) SMA 2019/2020. Berbeda dengan 2018, tahun ini siswa hanya bisa memilih dua sekolah di dalam satu zona.

          Untuk diketahui, dalam PPDB SMA tahun lalu, siswa diberi tiga alternatif pilihan. Alternatif pertama, siswa bisa memilih dua sekolah yang semuanya dalam satu zona. Opsi kedua, siswa memilih sekolah pertama di dalam zona, kemudian pilihan sekolah kedua di luar zona. Adapun alternatif ketiga, pilihan sekolah pertama di luar zona dan pilihan kedua untuk sekolah di luar zona.

          Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Cabdisdik) Pemprov Wilayah Kabupaten Nganjuk Edy Sukarno mengatakan, tiga alternatif pilihan itu dihapus di PPDB 2019. Sebagai gantinya, tahun ini siswa hanya punya satu alternatif. Yakni, memilih dua sekolah di dalam zona “Untuk pilihan sekolah di luar zona tidak ada,” ujar Edy kepada Jawa Pos Radar Nganjuk.

          Bagaimana jika ada siswa yang ingin mendaftar ke sekolah di luar zona? Menurut Edy, mereka bisa mendaftar lewat jalur nilai ujian nasional (NUN). Meskipun demikian, di petunjuk teknis (juknis) PPDB, pemprov nanti tetap memprioritaskan jarak rumah dengan sekolah. “Jadi tetap jarak rumah yang dipertimbangkan,” lanjut mantan kepala cabdisdik pemprov wilayah Bojonegoro-Tuban ini.

          Untuk jalur zonasi dengan kuota 90 persen, pemprov memang memberikan tiga pilihan. Yakni jalur zonasi murni (jarak rumah dan kecepatan mendaftar) sebesar 50 persen, NUN 20 persen, dan sisanya 20 persen lagi untuk siswa kurang mampu dan anak buruh.

          Dengan sistem tersebut, Edy menyarankan calon siswa lebih baik mendaftar di sekolah yang dekat dengan rumah. Sebab, mereka bisa dipastikan akan diterima di sekolah yang dituju.

          Untuk pembagian zonasi, Edy menjelaskan, sebenarnya cabdisdik sudah mempertimbangkan domisili siswa. Karena itulah, siswa yang rumahnya di perbatasan bisa mendaftar di luar zona. Syaratnya, jarak rumahnya lebih dekat dengan sekolah. “Kami masukkan dalam irisan di zonasi,” terangnya.

          Dia lantas mencontohkan siswa asal Sukomoro yang sebenarnya masuk zona 4 bersama Baron, Ngronggot, Kertosono, Tanjunganom, Prambon dan Pace. Namun, sebagian siswa di sana yang tinggal di perbatasan bisa mendaftar sekolah di zona 1 yang terdiri dari Rejoso, Nganjuk, Bagor, Wilangan, Loceret dan Berbek. “Paling dekat mendaftar ke SMAN di Nganjuk,” tandasnya.

          Seperti diketahui, beberapa desa di Kecamatan Sukomoro jaraknya lebih dekat dengan SMAN 3 Nganjuk dibanding SMAN 1 Sukomoro. Di antaranya adalah Desa Ngrengket dan Putren. Lalu, ada siswa asal Kecamatan Baron yang bisa masuk ke zona 4 dan 2 (Lengkong, Patianrowo, Ngluyu, Gondang).

          Edy mengatakan, usulan irisan zonasi tersebut sudah masuk dalam sistem PPDB SMA di pemprov. Karenanya, siswa dari wilayah perbatasan secara otomatis bisa memilih sekolah di luar zonasinya. “Yang tidak masuk irisan, mereka tetap berada di dalam zona,” tegasnya mengingatkan.

          Lebih jauh Edy menjelaskan, saat pengambilan personal identification number (PIN), siswa sudah harus membawa kartu keluarga (KK). Sebab, KK yang menunjukkan sebagai domisili siswa tersebut nanti langsung di-entry oleh operator untuk menentukan jarak rumah dengan sekolah. “Kalau bisa saat mengambil PIN didampingi wali siswa,” pungkasnya.

Teknis PPDB SMA 2019:

-Siswa hanya bisa memilih dua sekolah di satu zona saat mendaftar

-Ketentuan pemilihan tiga alternatif sekolah seperti PPDB 2018 sudah dihapus

-Siswa bisa mendaftar ke sekolah di luar zona lewat jalur NUN

-Cabdisdik tetap meminta siswa memperhatikan jarak sekolah karena dari beberapa jalur pendaftaran, jarak rumah dan sekolah jadi pertimbangan panitia.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia