Jumat, 17 Jan 2020
radarkediri
icon-featured
Hukum & Kriminal

Tragedi Pembunuhan Nyawangan: Sering Bertengkar tapi Jarang Mengeluh

28 Mei 2019, 16: 04: 53 WIB | editor : Adi Nugroho

Pembunuhan Nyawangan

TAK BERNYAWA: Petugas melakukan olah TKP di lokasi pembunuhan Endang. (radarkediri.id)

Share this          

KEDIRI - Kesedihan masih tergambar di wajah kakak-kakak Endang Widiyawati. Berkumpul di rumah orang tuanya, yang juga berada di Desa Nyawangan, Kras, mereka terlihat murung. Terutama Sriani. Karena dia yang pertama kali melihat kondisi sang adik yang terkapar bersimbah darah.

Ismail, kakak yang lain, juga menampakkan wajah lesu. Lelaki yang kemarin berpakaian warna abu-abu ini duduk di kursi teras. Wajahnya terlihat sayu. Matanya menerawang kosong. “Padahal pagi tadi (kemarin, Red) Endang masih main ke rumah,” ucap Ismail dengan lirih.

Ismail tak pernah menyangka adiknya mengalami nasib setragis itu. Yang dia tahu adiknya adalah sosok yang dekat dengan keluarga. Wajar bila dia merasa begitu kehilangan.

Endang juga dikenal sebagai pribadi yang pendiam. Meskipun keadaan rumah tangganya dengan Ahmad Jaini berlangsung tidak baik, Endang jarang berkeluh kesah kepada keluarga. “Adik saya anaknya itu pendiam dan tertutup,” aku anak ketiga dari lima bersaudara ini. Endang adalah anak keempat.

Menurut Ismail, Endang menikah dengan Mad pada 2000. Lelaki itu juga warga Desa Nyawangan. Dari pernikahan tersebut keduanya dikaruniai satu anak wanita yang bernama Ulfa Malani Putri. Kini, sang putri sudah berusia 17 tahun.

pembunuhan endang

Pembunuhan Nyawangan (radarkediri.id)

Pada 2007, Endang dan keluarga kecilnya mulai tinggal di rumah yang hanya berjarak 50 meter dari rumah orang tuanya.  “Rumah tersebut saya yang mengurus, karena bapak yang menyuruh,” ungkap Ismail.

Namun sayang, keluarga kecil tersebut tidak selamanya bahagia. Mad yang memiliki pembawaan tenang ternyata suka main tangan kepada sang putri. Bahkan, tak hanya sering bertengkar dengan sang anak, Mad juga seringkali cekcok dengan sang istri. Namun, lebih sering Endang mengalah. Bahkan, untuk menghindari pertengkaran, Endang bersama dengan Ulfa memilih pulang ke rumah orang tuanya.

 “Dari luar Mad orangnya terlihat sangat tenang,” kata Ismail menilai adik iparnya itu.

Dari keterangan keluarganya, sekitar pukul 08.00 WIB Endang masih berada di rumah orang tuanya itu. Dia bercerita kepada Sriani bahwa Mad meminta ganti uang yang selama ini digunakan untuk membiayai Endang dan Ulfa. Karena tidak memiliki uang, Endang berniat menjual pehiasan. Karena itu Endang pergi ke rumahnya untuk mengambil perhiasan dan berjanji akan menjemput Sriani. Keduanya akan menjual perhiasan itu ke pasar.

Namun janji tersebut kini hanya sebuah janji yang tidak terlaksana. Endang ditemukan dalam keadaan meninggal, bersimbah darah di dalam kamar. Sedangkan siapa yang membunuh Endang, pihak keluarga sangat yakin Mad-lah yang tega melakukan. Apalagi, setahun lalu Mad pernah mengancam akan membunuh Endang.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia