Selasa, 23 Jul 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Progres Semantok Baru Tujuh Persen

BBWS Sebut Ada Perubahan Desain

28 Mei 2019, 11: 11: 50 WIB | editor : Adi Nugroho

Bendungan

BERPACU DENGAN WAKTU: Pengerjaan proyek fisik Bendungan Semantok terus dikebut oleh rekanan. Sayangnya, hingga akhir Mei ini realisasi bangunan baru mencapai tujuh persen. (Anwar Bahar Basalamah - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK – Progres proyek pembangunan Bendungan Semantok belum menggemberikan. Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas menyebut sampai bulan ini progresnya belum sampai 10 persen. Salah satu yang menghambat adalah proses perizinan lingkungan yang membutuhkan waktu lama.

          Kepala Satuan Kerja (Satker) BBWS Brantas Abdul Goni mengatakan, progres proyek Bendungan Semantok baru mencapai tujuh persen. Padahal, proyek strategis nasional senilai Rp 1,9 trilin itu sudah dimulai sejak Agustus tahun lalu. “Memang ada beberapa kendala  yang dihadapi di lapangan,” ujar Goni kepada Jawa Pos Radar Nganjuk.

          Salah satu kendala, menurut Goni, adalah review desain tipe bendungan. Dia mengatakan, sebelumnya tipe bendungan berupa urukan batu. Namun, setelah dilakukan investigasi geologi pada querry dan borrow area, ternyata cadangan batunya kurang dengan sesuai dengan estimasi. “Karena itu, kami ubah menjadi random tanah,” lanjutnya.

          Perubahan itu, menurut Goni membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Pasalnya, pembahasan review desain juga harus melibatkan komite keamanan bendungan (KKB) di Jakarta. “Karena mereka (KKB) yang mengeluarkan sertifikat desain,” tegasnya.

          Selain tipe bendungan, pihaknya juga harus me-review desain treatment fondasi. Sebab, dimungkinkan ada perubahan desain. “Prosesnya juga hampir sama dengan tipe bendungan,” imbuhnya.

          Tidak hanya persoalan perubahan. Goni mengatakan, pihaknya masih menunggu izin pinjam pakai kawasan hutan (IPPKH) di wilayah perhutani dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK). Izin lingkungan tersebut untuk pengerjaan di lahan untuk lokasi quarry dan borrow area.

          Dari dua paket pekerjaan di Bendungan Semantok, progres paket II yang dikerjakan PT Hutama Karya lebih cepat dibanding paket I. Saat ini, jelas Goni, paket II sedang mengerjakan pengecoran saluran spillway. “Masih ada lahan yang dikerjakan,” ujarnya.

Sedangkan paket I yang dikerjakan PT Brantas Abipraya lebih banyak mengerjakan tubuh bendungan bagian kiri, intake ngomben, bangunan fasilitas, instrumentasi, jalan masuk ke quarry ke borrow area. “Karena pekerjaan tersebut lebih banyak terpengaruh dari item kendala yang dihadapi,” tuturnya.

Meski demikian, BBWS optimistis setelah semua izin dan desain tuntas, progres pekejaan akan lebih cepat. Sampai akhir tahun, Goni menargetkan progres bendungan yang berlokasi di Desa Tritik dan Sambikerep, Kecamatan Rejoso itu bisa mencapai 30 persen. “Akhir tahun atau awal tahun, mudah-mudan sudah bisa explore,” harapnya.

Apalagi saat ini, lanjut dia, ganti rugi tegakan lahan perhutani sudah keluar sebesar Rp 64 miliar. Nilai tersebut belum termasuk biaya lain-lain di luar penggantian tegakan. Selain itu, BBWS juga sudah mengusulkan pemanfaatan kayu nanti bisa dikelola perhutani.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia