Rabu, 17 Jul 2019
radarkediri
icon featured
Kolom

Inspirasi bagi Manusia

27 Mei 2019, 16: 17: 42 WIB | editor : Adi Nugroho

Moch. Badrus

Oleh : Moch. Badrus

Share this          

Alquran yang memiliki arti bacaan, tidak lantas hanya dibaca tanpa dipahami maknanya. Karena Alquran memiliki tujuan besar. Agar manusia terinspirasi, memiliki iman yang benar, bertindak lurus, dan berinovasi untuk kesejahteraan umat manusia.

Memang Alquran memiliki sejumlah nama lain. Yang mempunyai konsep sesuai isinya. Yang membaca akan mendapat hikmah sesuai namanya. Seperti, Ar Rahmah (kasih), Al Majid (mulia), dan Al Mubarak (pembawa berkah).

Di sisi lain Alquran memiliki nama yang harus ditangkap, tidak sekadar dibaca ayat-ayatnya dan mengabaikan maknanya. Perlu dipelajari kandunganya. Seperti nama  Az Zikr (peringatan), meliputi peringatan apa saja firman Allah itu.  Al Furqan (pembeda), membedakan dalam hal apa saja Quran yang berisi 6.666 ayat itu. Al Huda (petunjuk), petunjuk apa saja yang dimuat Alquran untuk kehidupan ini. Dan Al Bayan (penjelas), meliputi penjelasan Allah kepada manusia. Nama-nama Alquran itu penting dipahami, sehingga pembacanya terinspirasi untuk menindaklanjuti pesan-pesan penting (khitab) Allah dalam firman-Nya.

Inspirasi ini maksudnya proses yang mendorong pikiran untuk melakukan hal-hal kreatif setelah menelaah Alquran. Banyak ayat Alquran yang mengajak untuk memikirkan dan berbuat sesuatu demi kemaslahatan umat. Misalnya saja ayat ke 29 An Nisa’ “ Hai orang yang beriman janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.”  

Ayat ini menjelaskan empat pesan. yakni jalan batil, perniagaan, bunuh diri, dan  Allah Maha Sayang. Jalan batil berarti Allah melarang cara haram untuk meraih rizki. Termasuk merampas, memalsu, menipu, mencuri,menadah, korupsi, me-make up, dan lainnya. Penegasan ini penting, mengingat perilaku ini akan merusak kehidupan manusia. Seperti terhambatnya kebebasan kreativitas manusia dalam menentukan nasibnya sampai pada tersedianya fasilitas umum yang cepat rusak gara-gara meluasnya kebatilan korupsi.

Sedangkan perniagaan berarti berdagang. Allah memberi petunjuk, manusia  akan mendapatkan rizki dengan mudah dari sektor ini. Sepanjang berdagangnya dilakukan secara syar’i. Rasululllah sejak muda telah memberi model hidup yang ideal, yaitu semangat untuk berdagang.

Terkait bunuh diri, Allah secara keras melarang dalam bentuk apapun. Yang menarik pada ayat ini adalah, Allah mendekatkan kalimat perdagangan (tijarah) dan bunuh diri (taqtulu anfusakum) dalam satu ayat. Tentu ada hikmah penting. Tampaknya Allah memberi gambaran bahwa melalui jalur perdagangan hidup manusia akan lebih sejahtera. Bisa menjauhkan diri dari kejahatan bunuh diri.

Hasil penelitian Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat menerbitkan penelitian yang dimuat di Morbidity and Mortality Weekly Report (MMWR) 16 November 2018.  Dari 17 negara bagian yang diteliti, kasus bunuh diri per 100 ribu orang tercatat 15.6 kasus di 2012 dan 2015. Deretan pekerjaan yang rentan bunuh diri adalah pekerjaan yang membutuhkan keterampilan tingkat rendah. Sedang yang memiliki tingkat keterampilan dan keahlian tingkat tinggi, termasuk eksekutif, legislatif, dan pedagang, sangat kecil kemungkinannya (Detiknews, 19 Jan 2019).

Umat Islam Perlu terus Inovasi

Sudah diakui, umat Islam di negeri ini banyak berbuat untuk kemajuan. Telah berdiri pesantren, madrasah, perguruan tinggi, rumah sakit, dan sejumlah lembaga sosial. Namun produk umat Islam ini hampir didominasi bidang sosial. Sementara di bidang ekonomi belum maksimal. Akibatnya, umat Islam boleh dikata masih banyak yang miskin. Laporan BPS menyebutkan penduduk miskin Indonesia per September 2018 mencapai 9,66 persen. Atau 25,67 juta. Bila penduduk Indonesia mayoritas muslim (85 persen), bisa dipastikan yang mendominasi kemiskinan adalah umat Islam. Saya mencurigai penurunan pemeluk Islam Indonesia dari 95 persen menjadi 85 persen karena elit muslim lengah memikirkan ekonomi umatnya.

Untuk membendung hal itu, suatu keharusan, elit muslim Indonesia mulai menyusun  strategi pengembangan ekonomi keumatan. Pondok pesantren yang saat ini berjumlah 28.194 perlu membekali pengalaman ekonomi santrinya. Setelah tamat, selain mengembangkan agama, mereka dapat mengembangkan ekonomi.

Demikian pula ormas Islam, sudah waktunya memprioritaskan programnya di sektor ekonomi. Usaha kecil dan menengah (UKM) mesti dipikirkan bagi kalangan anggotanya. Litbang-litbang ekonomi ormas Islam perlu didirikan yang berfungsi mengembangkan ekonomi masyarakat. Khusus ormas NU, yang sudah mengadakan gerakan koin NU, konon per kecamatan ada yang mencapai 50-60 juta per bulan, hendaknya digunakan membangun badan usaha organisasi dan menghindari pembagian secara konsumtif. Di kemudian hari organisasi ini berjalan secara mandiri dan mampu memberikan kemudahan ekonomis bagi masyarakat. 

Pada hakikatnya fungsi ormas tidak hanya mengembangkan masyarakat dari sisi agama dan sosial saja. Akan tetapi pengembangan ekonomi perlu mendapat kontribusi. Dengan demikian keberadaan ormas Islam dan elit muslim benar-benar dirasakan karena adanya inovasi ekonomi untuk  umat manusia. Semoga.  (Penulis adalah dosen Pascasarjana IAI Tribakti Lirboyo Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia