Rabu, 17 Jul 2019
radarkediri
icon featured
Kolom

Pahala dan Volume Sampah

26 Mei 2019, 14: 56: 37 WIB | editor : Adi Nugroho

Habibah A. Muktiara

Oleh : Habibah A. Muktiara

Share this          

Selama bulan puasa, banyak orang-orang yang berlomba-lomba melakukan kebaikan. Dengan melakukan kebaikan, membuat meningkatan pahala bagi mereka yang senantiasa menjalani ibadah puasa dengan hati yang ikhlas. Tanpa tergoda hanya karena iklan sirup yang berulang kali muncul di televisi.  

Namun tanpa kita sadari, rupanya tidak hanya pahala saja yang meningkat. Selama bulan Ramadan, volume sampah juga ikut meningkat. Jangan berlagak keheranan, dengan fakta tersebut. Pada kenyataan di bulan Ramadan ini,  jumlah sampah di Indonesia pada umumnya meningkat.

Bahkan  pada tahun lalu, Pusat Makanan dan Nutrisi Barilla mencatat Indonesia membuang sampah makanan terbesar kedua dengan jumlah mencapai 300 kilogram per orang per tahun.

Tahu tidak, meningkatnya sampah ini signifikan dengan meningkatnya jumlah pedagang takjil. Dengan banyaknya pedagang takjil, membuat orang-orang lebih suka praktis. Dengan membeli makanan cepat saji di pedagang takjil. Tidak hanya membuat pahala meningkat, karena menyenangkan penjual, namun secara sadar atau tidak, mereka, termasuk saya, rupanya telah membuat sampah meningkat. Bahkan budaya buka bersama, juga menjadi salah satu faktor tersebut.

Ambil contoh saja di kantor tempat saya bekerja. Selama bulan puasa setiap hari melakukan buka bersama. Setiap hari menunya berbeda-beda. Setiap hidangan makanan dibungkus secara terpisah. Jika menu hari ini adalah nasi, sayur sop, ayam goreng, sambal, tahu, buah semangka dan kolak. Jadi berbuka setiap orang mendapatkan tiga bungkus. Jika di kantor terdapat 20 orang maka setiap buka puasa menghasilkan sampah sebanyak 60 kemasan per harinya. Apabila dikalikan satu bulan, maka kantor menghasilkan 1.800 tambahan sampah setiap bulan puasa.

Bayangkan saja, hal tersebut diterapkan di Kediri. Berapa jumlah sampah tersebut dikalikan dengan jumlah setiap penduduknya. Itu saja hanya untuk makanan ketika buka. Belum lagi makanan pendamping ataupun makanan ketika sahur.

Pada kenyataan sampah meningkat ketika puasa di bulan Ramadan memang benar adanya. Namun, apakah meningkatnya sampah ini memang betul-betul “hanya” karena bulan suci ini?

Sepertinya tidak juga. Tidak hanya di Indonesia saja, tapi di seluruh dunia nyampah itu sudah seperti budaya. Hanya saja kebetulan di Indonesia, masyarakatnya itu lebih banyak dibandingkan mayoritas negara lain di dunia. Sampah plastik itu harusnya sudah jadi “bencana global”. Tapi di Indonesia belum menjadi narasi yang betul-betul penting.

Dan secara kebetulan saja di bulan Ramadan, jumlah pedagang takjil dan buka bersama itu meningkat. Kalau mau pakai kata “ironis”, gunakan di setiap hari, setiap waktu, ketika kita sedang membicarakan sampah. Bukan hanya ketika puasa di bulan Ramadan.

Meningkatnya jumlah sampah itu fakta yang setara dengan puasa di bulan Ramadan. Namun ingat, di balik semua itu juga menjadi sebuah berkah tersendiri bagi mereka yang menjajakan takjil tersebut. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia