Jumat, 15 Nov 2019
radarkediri
icon-featured
Features

Kebersamaan dalam Keberagaman di Desa Besowo, Kepung (2)

Masjid Butuh Genset, Non-muslim Meminjami

24 Mei 2019, 16: 00: 49 WIB | editor : Adi Nugroho

dusun sidodadi besowo

MENYIMAK: Anak-anak Dusun Sidodadi, Besowo memperhatikan ustad yang sedang mengajari mereka mengaji. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

Sidodadi merupakan dusun paling timur di Desa Besowo. Tiga umat beragama berbaur menjadi satu di dusun ini. Saling memahami posisi masing-masing agama. Membuat Ramadan semakin indah dan bermakna.

Sayup-sayup suara azan menggema dari kejauhan. Tanda mulai masuk waktu duhur. Perjalanan menuju Dusun Sidodadi, yang menguras tenaga, menjadi terasa lebih ringan. Pemandangan gugusan pegunungan di sebelah timur yang langsung menyatu dengan Gunung Kelud di sisi selatan adalah penyebabnya.

Dua tempat ibadah, berupa gereja dan pura menyambut saat masuk dusun yang terletak 3,5 kilometer dari pusat Desa Besowo ini. Letaknya berdekatan. Gereja di sebelah kiri sementara pura di kanan jalan. Suasana damai dan tenang terasa di kampung yang berada di tengah areal hutan lereng Gunung Kelud ini.

“Monggo bu…,” seru Widyaningrum, perangkat Desa Besowo, menyapa warga Dusun Sidodadi yang hendak berangkat ke masjid siang itu.

Warga pun ramah menyambut sapaan Widya. Senyuman mengembang sembari menganggukkan kepala. Kemudian membalas dengan perkataan yang sama. Contoh kecil seperti itu menambah kesan harmonis di Desa Besowo. Keramahan antarwarga masih sangat terjalin.

Telusur Ramadan Radar Kediri

Telusur Ramadan Radar Kediri

Widya adalah Kaur Keuangan di desa ini. Ia penganut agama Hindu. Meski ia mengakui bahwa di desanya kegiatan umat muslim selama Ramadan cukup padat. Widya merasa hal tersebut sama sekali tidak mengganggu umat lain di sana. “Dari dulu kami sama-sama memahami. Jadi selama ini sudah terbiasa dengan kegiatan dari masing-masing agama,” katanya.

Termasuk di Dusun Sidodadi yang menjadi dusun paling jauh dari pusat desa. Di dusun tersebut ada sekitar seribu jiwa. Dengan 30 persen di antaranya menganut agama Hindu, 5 persen Kristen, dan sisanya muslim. Keberagaman yang membuat padatnya aktivitas umat muslim selama Ramadan tak mengganggu umat lain. Semua warga tetap rukun dan saling menghargai satu sama lain.

“Alhamdulillah di sini aman. Tetap damai selama Ramadan. Kami sebagai muslim pun tenang menjalankan ibadah di bulan suci ini,” ujar Lahuri, tokoh agama Islam Dusun Sidodadi.

Padahal di dusun yang berbatasan langsung dengan Desa Wonoagung, Kabupaten Malang tersebut aktivitas saat Ramadan lebih padat. Seperti tadarus salat berjamaah dan kegiatan lain. Lahuri menyampaikan warga di sana saling menyadari. Termasuk ketika kegiatan tadarus di malam hari. Umat muslim menyesuaikan jam malam demi kenyamanan bersama.

“Pengeras suara masjid kami batasi. Kami menyadari di sini masyarakatnya beragam. Bahkan di sekitar masjid juga beberapa ada yang beragama lain,” imbuh pria 50 tahun tersebut.

Pembatasan tersebut hingga pukul 21.00 WIB. Sementara selanjutnya, kegiatan tadarus hanya menggunakan sound system yang ada di dalam masjid.

Menurutnya, keberagaman di Dusun Sidodadi itu merupakan hal yang sangat indah. Saling mengingatkan satu sama lain namun tidak sampai menimbulkan konflik. Sehingga kerukunan pun masih tetap terjaga.

Hal senada disampaikan Istamar, ustad asal Ponpes Darussalam Sumbersari, Kencong yang sedang melakukan kegiatan KKN di tempat itu. Dia mengaku kagum dengan kemajemukan warga Dusun Sidodadi. “Bahkan umat lain saat kami membutuhkan genset di masjid pun juga turut membantu meminjami. Di sini luar biasa sekali toleransinya,” kata Istamar usai mengajar anak-anak Dusun Sidodadi mengaji.

Ia menyebut bahwa selama Ramadan memang aktivitas di Masjid Baiturrohman, satu-satunya masjid di dusun tersebut, cukup padat. Dari siang usai duhur hingga malam hari selalu ada kegiatan. Mulai TPQ, tadarus sore, tausiah, salat Tarawih, safari Ramadan hingga tadarus malam.

Anak-anak di sana pun tampak ceria. Lahir di tengah masyarakat majemuk yang syarat akan perbedaan keyakinan. Lingkungan yang saling menghargai satu sama lain. Saling menjaga toleransi, membuat umat muslim tetap tenang menjalankan padatnya ibadah di bulan suci ini.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia