Jumat, 15 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Kolom

Usai Pemilu Kembali Bersatu

24 Mei 2019, 15: 49: 56 WIB | editor : Adi Nugroho

Oleh : Rahmat Mahmudi

Oleh : Rahmat Mahmudi

Share this          

Pemilu 2019 hampir di pengujung tahapan. Selasa dini hari (21/5), KPU mengumumkan hasil rekapitulasi suara di semua jenis pemilihan.

Untuk pilpres, KPU mengumumkan pasangan Jokowi – Ma’ruf Amin meraih 55,50 persen. Unggul atas pasangan Prabowo – Sandiaga Uno yang memperoleh 44,50 persen. Sementara untuk pileg DPR RI, tercatat 9 dari 16 parpol peserta Pemilu yang mencapai parlementary treshold. Yakni (sesuai urutan perolehan suara) : PDIP, Gerindra, Golkar, PKB, NasDem, PKS, Demokrat, PAN, dan PPP.

Meski demikian, KPU belum menetapkan pasangan capres – cawapres ataupun caleg terpilih. Sebab masih ada tahapan bagi yang merasa haknya dirugikan. Yaitu pengajuan gugatan sengketa pemilu di Mahkamah Konstitusi (MK).

Seperti pemilu sebelumnya, Pemilu 2019 cukup mendapat perhatian publik. Apalagi pelaksanaannya serentak. Pilpres dan pileg pada hari yang sama (kali pertama dalam sejarah politik di tanah air). Intensitas perhatian publik itu ditunjukkan terutama dalam aktivitas kampanye, diskusi-diskusi publik baik offline maupun online, dan terakhir dari meningkatnya angka partisipasi pemilih hingga 80-an persen.

Banyak analis politik menilai, tingginya perhatian dan partisipasi pemilih itu didorong oleh rivalitas yang kuat di antara pendukung kedua pasangan calon  dalam pilpres. Ketimbang kontestasi di antara calon anggota legislatif. Kuatnya rivalitas Jokowi – Amin dan Prabowo-Sandi dipicu rivalitas lama antara Jokowi – Prabowo yang telah saling dalam Pilpres 2014.

Pilpres 2019 dengan demikian serasa deja vu bagi Jokowi maupun Prabowo. Bedanya, bila di 2014 keduanya sama-sama calon “baru”, kali ini posisi Jokowi adalah petahana. Bagi Jokowi, aroma deja vu tentu memperkuat semangatnya mengukuhkan keunggulannya dan terpilih lagi sebagai RI-1. Sementara Prabowo, deja vu memicu adrenalin untuk membuktikan bisa membalikkan keadaan dan merebut “tahta” kepresidenan.

Rivalitas keduanya  tampak dalam pelaksanaan kampanye dan debat-debat publik di KPU. Yang menjalar dan menular kepada pendukung masing-masing. Televisi dan media sosial menjadi ajang “pertarungan” ide, gagasan, dan wacana di antara kedua kubu. Sayangnya rivalitas kedua kubu pendukung ini acap berjalan kurang sehat. Upaya kedua pihak menarik dukungan tidak dibarengi dengan komitmen untuk menjunjung fair play  dan nilai kejujuran. Justru banyak diwarnai kampanye negatif. Bahkan black campaigne. Berita hoax yang mendiskreditkan lawan politik pun mewarnai.

Konstelasi politik seputar pilpres pun menjadi panas. Pemilu yang semestinya mendudukkan para kontestan dalam posisi kompetitor satu sama lain, faktanya telah menempatkan  kedua kubu dalam rivalitas yang konfrontatif. Hal itu tercermin dari, antara lain, diksi yang digunakan untuk menjuluki “lawannya” yang berkonotasi tidak baik. Seperti julukan “cebong” (pendukung Jokowi) dan “kampret” (pendukung Prabowo). Yang menimbulkan gesekan, baik di dunia maya maupun nyata..

Suhu politik makin mendekati titik didih, ketika tim Prabowo menyatakan tidak akan menerima hasil pemilu dengan alasan telah terjadi kecurangan secara terstruktur, sistematis, dan masif. Belum cukup, statement itu ditambahi dengan rencana dilakukannya people power untuk menekan KPU dan Bawaslu membatalkan hasil Pemilu dan mendiskualifikasi Capres Jokowi. Tim pemenangan Prabowo menyatakan tidak akan mengajukan gugatan sengketa pemilu ke MK.

Kondisi seperti itu menimbulkan kekhawatiran konflik dan benturan antarpendukung tidak terhindarkan lagi. Dan bukan tidak mungkin akan menimbulkan konflik horizontal di grassroot. Beberapa tokoh nasional pun menyampaikan keprihatinan atas kuatnya indikasi “terbelahnya” persatuan bangsa akibat Pilpres 2019. Dan berharap dapat segera dilakukan rekonsiliasi untuk merekatkan kembali persatuan bangsa.

Belum sempat langkah rekonsiliasi diambil para stakeholder, 22 Mei  terjadi kericuhan di Jakarta. Yang mengakibatkan enam warga tewas dan ratusan lainnya terluka. Kericuhan terjadi beberapa jam seusai aksi massa pendukung Prabowo - Sandi di depan gedung Bawaslu membubarkan diri. Untuk catatan, meski kericuhan itu beriringan waktu dengan aksi massa, namun kericuhan itu bukan dilakukan oleh massa pendukung Prabowo – Sandi. Melainkan oleh massa bayaran, sebagaimana dijelaskan oleh Kapolri, Tito Karnavian (liputan6.com, Rabu, 22/5/19).   

Aksi pendukung Prabowo – Sandi ke Bawaslu itu untuk menyampaikan aspirasi terkait dugaan kecurangan dan ketidakadilan pilpres. Aksi yang diagendakan berjalan damai itu akhirnya “terkotori” oleh kericuhan yang dilakukan kelompok bayaran tersebut. Kericuhan ini menunjukkan bahwa situasi sedang tidak kondusif bagi pelaksanaan aksi massa. Karena rawan disusupi atau ditunggangi pihak yang ingin mengail di air keruh.

Memanasnya rivalitas antarpendukung capres, ditambah ketidakpuasan capres tertentu terhadap hasil pemilu, serta kericuhan di Jakarta memberikan isyarat perlunya tindakan preventif dan antisipatif agar tidak terjadi kekacauan (chaos) di negeri ini. Sungguh kita tidak bisa membayangkan apabila Pemilu 2019 ini akan berakhir dengan chaos. Selain akan jadi catatan buruk demokrasi, implikasinya akan sangat merugikan bangsa. Baik secara politik, sosial, maupun ekonomi.

Tentu kita semua tidak mengharapkan akan terjadi chaos. Karena itu, para stakeholder harus berupaya keras mencegahnya. Semua pihak harus menahan diri. Tidak terprovokasi dan tidak ikut memperkeruh situasi. Bagi capres (dan caleg) yang tidak puas terhadap hasil pemilu seyogyanya dalam memperjuangkan haknya tidak lagi menggunakan aksi massa yang rawan anarkhistis. Manfaatkan mekanisme pengajuan gugatan sengketa Pemilu ke MK.

Sungguh sangat melegakan, di tengah memanasnya situasi politik, muncul statement Prabowo yang akan mengajukan gugatan sengketa pemilu ke MK. Satu keputusan yang patut diapresiasi. Karena di samping menumbuhkan kembali harapan bagi terciptanya penyelesaian sengketa pemilu secara damai, juga akan lebih memudahkan upaya-upaya rekonsiliasi dan penyatuan kembali elemen-eleman bangsa ini setelah sempat terkoyak akibat Pemilu 2019.

Semoga episode Pemilu 2019 benar-benar berakhir happy ending. Meski prosesnya berjalan “terjal dan berliku”. Namun kita semua berharap pemilu kali ini tetap berakhir dengan damai. Usai pemilu elemen-elemen bangsa ini dapat bersatu kembali. Semoga. (Penulis adalah dosen Uniska Kediri, alumnus Pascasarjana MAP-UGM, direktur Pusat Studi Administrasi Publik, dan aktivis ormas Kediri).

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia