Selasa, 18 Feb 2020
radarkediri
icon featured
Politik

Info PPDB SMP Kediri: Dua Siswa Berebut 1 Kursi

24 Mei 2019, 15: 35: 33 WIB | editor : Adi Nugroho

ppdb smp kediri

PULANG SEKOLAH: Siswa SDN Bulupasar, Pagu, berjalan di halaman sekolah usai mengikuti ujian nasional (22/4). (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

KEDIRI KABUPATEN - Persaingan ketat berebut kursi di SMP negeri bakal terjadi dalam PPDB tahun ini. Satu kursi yang tersedia akan diperebutkan dua sampai tiga lulusan SD. Sebab, jumlah lulusan lebih besar dibandingkan kuota atau pagu yang tersedia. Dan itu terjadi di semua zona.

Dari data yang ada, lulusan terbanyak ada di zona Pare. Di zona ini ada lebih dari 8 ribu lulusan SD. Sementara pagu SMP negeri hanya sekitar empat ribu kursi.

Pagu SMP negeri di zona Pare terbagi pada 16 lembaga pendidikan yang tersebar di tujuh kecamatan. Lokasi SMP negeri paling banyak berada di Kecamatan Pare dengan jumlah empat lembaga. Sedangkan paling sedikit ada di Kecamatan Badas dengan satu lembaga saja.

“Kalau melihat data tersebut, nantinya satu kursi bisa diperebutkan oleh minimal dua calon peserta didik baru,” papar Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Sujud Winarko melalui Kabid Pendidikan Dasar (Dikdas) Purwiaji.

Tren yang sama juga terjadi di tiga zona yang lain. Yakni jumlah lulusan SD melebihi pagu SMP negeri yang tersedia. Di zona Papar, jumlah lulusan siswa SD tercatat ada sekitar 2,5 ribu anak. Sedangkan pagu SMP Negeri yang ada pada zona tersebut ada sekitar 4,3 ribu kursi.

Zona Papar terdiri dari enam kecamatan dengan total lembaga sebanyak sepuluh SMP. Jumlah lembaga di sana relatif merata. Yaitu dua lembaga dalam setiap kecamatan. Kecuali Kecamatan Pagu dan Kayenkidul yang masing-masing hanya memiliki satu lembaga saja.

Pada zona Ngadiluwih, jumlah lulusan SD diperkirakan sebanyak 6 ribu siswa. Sedangkan pagu dari 13 lembaga di zona tersebut hanya berjumlah 3,3 ribu kursi. Sementara di zona Grogol terdapat lulusan siswa SD sebanyak 5,4 ribu anak. “Sedangkan pagu SMP negeri di sana hanya ada 3,1 ribu kursi,” imbuhnya.

Berdasarkan skema tersebut, sekitar separo calon peserta didik baru tidak akan bisa melanjutkan pendidikan di SMP negeri. Kemungkinannya adalah para siswa tersebut akan bersekolah di lembaga non SMP negeri. Baik dari SMP swasta maupun madrasah tsanawiyah (MTs).

“Saya membuat pemetaan tersebut agar dapat melihat gambarannya nanti seperti apa. Oleh karena itu, kami mengharapkan kepada calon peserta didik dan juga wali murid untuk bijaksana dalam memilih sekolah tujuan nantinya,” terang Purwiaji.

Lebih lanjut, imbauan tersebut diberikan karena PPDB SMP negeri kali ini menggunakan sistem zonasi. Seleksi berdasarkan zonasi jalur reguler tersebut ditentukan berdasarkan peringkat yang dihitung dari jarak. Yaitu dari rumah atau tempat tinggal peserta menuju sekolah tujuan. Perhitungan jarak itu sendiri nantinya akan menggunakan fitur share location pada aplikasi Google Maps.

Semakin dekat domisili calon peserta tersebut dengan sekolah tujuan, kemungkinan diterima akan semakin besar. Begitu pula sebaliknya. Sementara itu, jika terdapat jarak yang sama antar calon peserta maka peringkat ditentukan berdasarkan siapa yang melakukan verifikasi lebih awal. Dibuktikan dengan tanggal dan waktu yang tercantum dalam cetak bukti verifikasi tersebut.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia