Selasa, 17 Sep 2019
radarkediri
icon-featured
Features

Kentalnya Toleransi Antarumat Beragama di Medowo, Kandangan (Habis)

Ide Bangun Musala Datang dari Pendeta

22 Mei 2019, 16: 30: 11 WIB | editor : Adi Nugroho

toleransi medowo

SIMBOL TOLERANSI:  Sumaryadi berada di kebunnya dengan latar belakang musala Daarussalam. Musala itu dibangun dari gotong royong warga berbeda-beda agama. (Iqbal Syahroni - radarkediri.id)

Share this          

Muslim di Dusun Mulyorejo tergolong minoritas. Tapi keharmonisan bermasyarakat tetap terjaga sejak dulu. Musala Daarussalam bisa menjadi monumen tingginya toleransi di tempat ini.

IQBAL SYAHRONI

Terletak di antara Dusun Ringinagung dan Dusun Sidorejo, Dusun Mulyorejo merupakan dusun terkecil di Desa Medowo, desa yang terletak di lereng Gunung Kelud ini. Meskipun luasnya tak seberapa namun semangat para warganya sangat tinggi. Tidak hanya semangat dalam berkehidupan yang tinggi dari diri masing-masing warga, juga semangat dalam memupuk toleransi antarumat beragama.

Dusun Mulyorejo merupakan dusun pemekaran dari Dusun Ringinagung. Di dusun ini jumlah pemeluk agama Islam ternyata paling sedikit. “Ada sekitar 11 KK (kepala keluarga, Red) yang memeluk agama Islam,” terang Kepala Desa Medowo Sujarwo.

Di dusun ini total penduduknya sebanyak 61 KK. Bila 11 KK adalah pemeluk Islam, 50 KK yang tersisa adalah pemeluk agama Kristen dan Hindu. Terbanyak adalah umat Kristiani dengan 28 KK. Sisanya pemeluk agama Hindu.

Telusur Ramadan Radar Kediri

Telusur Ramadan Radar Kediri

Meskipun paling sedikit, umat muslim di dusun ini tak termarjinalkan. Sebaliknya, semuanya hidup dalam semangat toleransi yang tinggi. Seperti juga di dusun-dusun lain di Desa Medowo.

Menurut para warganya, tidak ada kata mayoritas dan minoritas. Yang ada hanyalah mereka yang meyakini bahwa diri mereka adalah mahluk Tuhan yang hidup rukun dan berdampingan di Medowo.

Aliman, 48, salah seorang warga muslim yang tinggal di Dusun Mulyorejo mengaku bahwa tinggal di tanah kelahirannya tersebut sebagai satu hal yang enak. Warganya tidak memandang ras dan kepercayaan apa yang mereka peluk.

Apalagi, sebagai salah satu kepala keluarga dari 11 KK beragama Islam, ia sangat bersyukur tidak ada kegiatan keagamaan yang dipersulit di Medowo. Khususnya di dusunnya. “Kalau mau salat ya tinggal jalan kaki ke musala di sini,” terangnya.

Awalnya, di Mulyorejo belum ada rumah untuk beribadah bagi para pemeluk agama Islam. Mereka harus berjalan sekitar 40 meter menuju masjid terdekat. Dan masjid itu berada di dusun Sidorejo.

Baru pada tahun 90-an, ada upaya membangun tempat ibadah umat Islam di dusun ini. Menariknya, inisiatif itu justru datang dari seorang pendeta Kristen. Yang merasa kasihan karena melihat tetangganya yang muslim harus berjalan agak jauh ke dusun tetangga untuk beribadah. Akhirnya, dibangunlah musala di Dusun Mulyorejo.

“Awalnya (ide pendirian musala datang) dari ayahnya Pendeta Yusak, Pak Wagimin,” terang Plt Kepala Dusun Mulyorejo Sumaryadi.

Mendengar ide tersebut, seluruh warga pun bergotong-royong mendirikan musala. Tempatnya menggunakan tanah milik Aliman. Lokasinya persis di dekat rumah Sumaryadi. Bahan bangunan didapat dari cara bergotong royong semua warga dusun. Musala itu kemudian diberi nama Daarussalam.

Sumaryadi, yang rumahnya berada tepat di seberangnya, merasa sangat bangga terhadap para warga Dusun Mulyorejo yang saling mengayomi serta melengkapi. “Sejauh ini tidak ada masalah terkait agama,” ujar Sumaryadi.

Pendeta Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Hermon di Dusun Mulyorejo, Yusak Supriadi menjelaskan tentang mesranya hubungan antaragama di dusunnya. Tepatnya ketika salah satu pemeluk agama merayakan hari besarnya. Para pemuda Kristen, pecalang Hindu, serta pemuda Islam saling bergantina menjaga. Juga membantu kegiatan keagamaan yang tengah berlangsung. Ketika Nyepi, Natal, ataupun Idul Fitri, warga yang berbeda agama tetap saling mendatangi.

“Kalau seperti itu tidak hanya di Mulyorejo saja Mas, tapi seluruh warga Desa Medowo melakukannya. Kegiatan sambang dulur ke rumah masing-masing. Mulai dari ujung ke ujung. Dan itupun tidak akan selesai dalam satu hari,” terang Yusak.

Para pemeluk agama di Dusun Mulyorejo pun dapat beribadah dengan aman dan tenang. Ada gereja, pura, dan musala. Perbedaan keyakinan bukanlah alasan untuk saling memecah belah.  Adanya perbedaan adalah untuk membentuk tali persaudaraan yang lebih baik.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia