Selasa, 17 Sep 2019
radarkediri
icon featured
Events

Menjual Makanan saat Ramadan

22 Mei 2019, 16: 21: 35 WIB | editor : Adi Nugroho

Dialog Ramadan Radar Kediri

Dialog Ramadan Radar Kediri

Share this          

Mohon penjelasan seorang pedagang makanan yang tetap berjualan di siang hari bulan Ramadan, bagaimana hukumnya? Terima kasih. (Anto, 085733418xxx)

Jawaban:

Saudara Anto yang berbahagia, saya ucapkan terima kasih kembali atas pertanyaannya. Semoga Dialog Ramadan dapat menjadi kesempatan kita untuk mendalami hukum-hukum agama sebagai bekal meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT di bulan yang mulia ini.

Selanjutnya, berkaitan dengan pertanyaan tersebut perlu dijelaskan hal-hal sebagai berikut. Pertama, secara etis di mana kebaikan dan keburukan dipertimbangkan berdasarkan oleh aspek kepantasan, menjual makanan di saat masyarakat melaksanakan puasa di bulan Ramadan merupakan hal yang tidak sepatutnya dilakukan. Berjualan makanan dengan menawarkan dan membuka ruang pemandangan terbukanya bermacam-macam minuman dan makanan baik di warung makan, restoran, dan yang semacamnya menunjukkan suasana yang mengundang kepada sikap tidak toleran di antara masyarakat yang majemuk. Karena itu, pemerintah selaku pemegang kebijakan dapat mengatur dan menertibkan jual-beli makanan dan minuman di bulan Ramadan menjadi semakin kondusif bagi keberlangsungan kehidupan masyarakatnya.

Kedua, secara hukum, menjual makanan dan minuman pada bulan Ramadan dapat diklasifikasikan sebagai berikut. Pertama, bahwa yang dimaksud menjual makanan dan minuman dalam penjelasan ini adalah dilakukan pada siang hari pada bulan Ramadan. Karena, bolehnya berjualan  makanan dan minuman di malam hari pada bulan Ramadan sama hukumnya dengan berjualan di siang hari di luar bulan Ramadan. Selebihnya, berjualan makanan dan minuman di siang hari pada bulan Ramadan hukumnya haram dengan penekanan bahwa menjual makanan dan minuman mendorong suatu bentuk pelanggaran terhadap orang yang berpuasa untuk membatalkan puasanya. Meski bentuk dorongan ini tidak dapat memastikan seseorang untuk membatalkan puasanya, namun meningkatkan kemungkinan seseorang terpengaruh dengan penjualan makanan dan minuman pada siang hari di bulan puasa. Hukum haram ini sebagai bentuk penutupan terhadap kemungkinan seseorang membatalkan puasa. Jika membatalkan puasa dengan sengaja adalah dilarang, maka membuka jalan seseorang membatalkan puasa hukumnya juga haram.

Kedua, hukumnya, boleh (jawaz) dengan pertimbangan bahwa berjualan makanan dan minuman hanya dikhususkan bagi orang-orang yang tidak berpuasa seperti anak kecil, wanita yang menjalani haid/nifas, orang yang sakit dan bepergian, maupun orang tua yang tidak mampu berpuasa. Batas-batas diperbolehkan menjual makanan dan minumam untuk golongan ini harus dilakukan dengan mengindahkan norma-norma masyarakat yang berpuasa.  

Ketiga, bagi kalangan non-muslim, meski tidak dikenakan sejumlah aturan menjual makanan dan minuman di siang hari pada bulan Ramadan, namun sikap saling menghormati dan menghargai di antara warga negara yang majemuk ini mutlak diperlukan. Wallahu a’lam bi al-shawab.(Zayad Abd. Rahman, MHI, dosen Hukum Islam Fakultas Syariah IAIN Kediri).     

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia