Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon-featured
Features

Kentalnya Toleransi Antarumat Beragama di Medowo, Kandangan  (2)

Tak Pernah Ada Konflik Agama

21 Mei 2019, 16: 34: 43 WIB | editor : Adi Nugroho

liputan medowo

BERSIH: Sumaryadi (kiri) dan Warsidi, membersihkan tempat pemangku di Pura Dharma Wijaya. Pura yang jaraknya hanya 100 meter dari masjid desa. (Iqbal Syahroni - radarkediri.id)

Share this          

Ada empat pura, lima gereja, lima masjid, dan enam musola ada di Desa Medowo. Suatu gambaran bahwa desa ini benar-benar desa plural. Desa yang mengerti waktu untuk saling menghargai.

Dinginnya udara di lereng Gunung Kelud siang itu masih terasa. Puluhan warga Dusun Sidorejo, Desa Medowo, Kecamatan Kandangan, sedang bersiap-siap pergi ke Masjid Nurul Huda untuk melaksanakan salat Jumat.

Suara seruan untuk mengajak salat terdengar hingga jarak 50 meter dari masjid. Tidak keras. Namun juga tidak begitu pelan suaranya. Hal tersebut sudah dimaklumi oleh warga muslim di sekitarnya. Mereka paham bahwa sekitar pukul 11.30 WIB pada hari Jumat, sudah kewajiban bagi para pemeluk agama Islam harus pergi ke masjid.

Tidak hanya masjid di Dusun Sidorejo saja, di empat dusun lain juga berlaku seperti itu. “Para muslim di sini ketaatannya luar biasa. Belum ada azan sudah banyak yang menuju ke rumah ibadah,” ujar Sumaryadi, salah satu warga desa.

Pria yang menjabat sebagai Kaur Umum Desa Medowo itu menjelaskan bahwa seumur hidupnya di Desa Medowo, warga sudah taat dengan aturan agama. Entah itu saat Ramadan ataupun bulan-bulan biasa.

Meskipun memeluk agama Hindu, Sumaryadi mengerti karakteristik warga Desa Medowo. Apalagi, ia juga menjabat sebagai Kepala Dusun Mulyorejo. Sebagai pelaksana tugas (plt). Karena hingga saat ini posisi Kasun Mulyorejo belum terisi.

Pria 49 tahun itu menjelaskan bahwa selama ia tinggal dan besar di Desa Medowo, tidak pernah ada satupun warga memiliki masalah yang terkait agama. “Toleransi warga desa sae, Mas. Islam, Hindu, Kristen, semuanya saling mengerti dan mengayomi satu sama lain,” terangnya.

Saking eratnya ia belum pernah sekalipun mendengarkan keluhan dari umat Hindu yang terganggu kekhusyukan ibadahnya saat bersembahyang di Pura. Sementara pada saat yang bersamaan juga berlangsung salat Tarawih di masjid atau musala. Jarak pura dan masjid itu relatif dekat. Pura Dharma Wijaya misalnya. Pura Kecamatan Kandangan ini berjarak hanya sekitar 100 meter dengan masjid. Bahkan, ada juga pura yang jaraknya  30 meter dengan musala. Waktu bersembahyang umat Hindu sendiri memang mulai petang hingga malam hari.

“Kalau pas tarawih, lalu dari umat Hindu juga sedang sembahyang, tidak pernah terganggu dengan suara masing-masing. Ibadah di sini (di Medowo, Red) nyaman, dan khusyuk,” terang Sumaryadi.

Sikap toleransi ditunjukkan jamaah salat tarawih dari masjid atau musala itu. Saat bubaran mereka berjalan dengan tertib dan tenang. Tak ada kegaduhan. Terutama saat melintasi pura yang masih ada umat Hindu beribadah di dalamnya.

Sumaryadi menjelaskan, kalau ada anak-anak selesai salat tarawih yang sering lewat di depan pura, juga menjaga nada bicara mereka dengan anak-anak lain. “Anak-anak kecil biasanya ramai. Tapi ketika melihat ada cahaya di pura yang menandakan ada yang sedang beribadah, mereka pun lewat tanpa berbuat gaduh,” imbuhnya.

Menurut Sumaryadi, Ramadan seperti sekarang memang identik dengan kemeriahan dalam beribadah. Dan, kemeriahan itu tak hanya dilakukan oleh umat muslim saja. Tapi juga oleh pemeluk agama lain. Karena di Desa Medowo, semua dengan tangan terbuka dapat menerima perbedaan. “Jika sedang merayakan, tidak ada yang ditinggal. Semuanya dapat ikut memeriahkan, dan tidak ada yang saling menghalangi,” pungkas Sumaryadi.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia