Jumat, 15 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Events

Waisak di Kediri: Saling Mengasihi agar Semua Dapat Selaras

20 Mei 2019, 15: 00: 52 WIB | editor : Adi Nugroho

hari raya waisak kediri

PANJATKAN DOA: Upacarika Yudi Chandra khusyuk memanjatkan doa saat bersembahyang di Vihara Jayasaccako, Kelurahan Semampir, Kota Kediri, tadi malam. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

KEDIRI KABUPATEN -  Sekitar 30 umat Buddha dari Kediri Raya berkumpul di Vihara Jayasaccako. Mereka merayakan hari raya Waisak 2563 pada Minggu (19/5) pagi. Perayaan Tri Suci Waisak kali ini mengambil tema ‘Mencintai Kehidupan Berbudaya Penjaga Persatuan’.

Tema tersebut dinilai relevan dengan keadaan berbangsa dan bermasyarakat sekarang ini. Umat Buddha menilai persatuan antarmanusia dapat diraih dengan landasan budaya. Di mana tujuan akhirnya adalah menciptakan masyarakat yang saling mengasihi.

“Tema ini diambil dengan harapan agar kita semua dapat selaras. Saling mengasihi dan bertoleransi sesama manusia,” ujar Upacarika (Upc) Febby, salah satu pemimpin sembahyang di Vihara Jayasaccako, kepada Jawa Pos Radar Kediri melalui sambungan telepon, tadi malam.

Peringatan detik-detik Waisak tahun ini dilaksanakan bertepatan saat umat Muslim bersantap sahur. Sekitar pukul 03.00 WIB, 30 umat Buddha sudah berkumpul di vihara. Sementara rangkaian upacara Tri Suci Waisak selesai sekitar pukul 05.00 WIB. Persembahyangan dipimpin Upacarika Daniel Kristanto.

Peringatan detik-detik Waisak kali ini berbeda dengan tahun lalu. Tahun lalu dilaksanakan pada Selasa (29/5) sekitar pukul 19.00 WIB. Hari Raya Waisak di kalangan umat Buddha sering disebut hari raya Trisuci Waisak. Itu karena terjadi tiga peristiwa penting. Yakni kelahiran Pangeran Sidhartha Gautama, tercapainya penerangan sempurna oleh Pertapa Gautama, dan mangkatnya sang Buddha Gautama.

Ada beberapa acara inti dalam perayaannya. Pertama, prosesi bernama pradaksina. Pradaksina adalah memutari damasala atau Vihara sebanyak tiga kali. “Memutari searah dengan jarum jam,” imbuh Febby.

Menurutnya, mengelilingi damasala sebanyak tiga kali ada filosofi yang mengikuti. Yaitu, tiga kali menghormati Budha, Dama, dan Sangha. Sembari mengitari damasala, umat Budha membawa persembahan. Berupa bunga, dupa, dan lilin. Mereka melakukan itu sambil menjalani perenungan.

Tidak hanya itu. Ada pula ritual perenungan detik-detik Waisak. Yaitu dengan menyanyikan lagu malam suci Waisak. Setelah itu, umat Buddha melanjutkan dengan meditasi. Doa yang dibaca saat saat menyambut detik-detik Waisak adalah membaca wisaka purnami puja katha.

Selain itu, ada ritual permohonan lima sila untuk umat. Yakni pembacaan Paritta Budha Nusati, Dhamma Nusati, Sangha Nusati, dan Saccakiriagatha. Sedangkan meditasi untuk merenungkan jasa-jasa guru agung sang Budha. Pasalnya, sebagai umat Buddha harus memancarkan cinta kasih kepada semua makhluk.

Menurut Febby, sebagai umat dan warga negara harus memperkuat persatuan sebagai bangsa. Pentingnya menjaga tindakan agar tidak semaunya sendiri, berpikir, dan berucap yang baik. “Intinya kita semua harus asih, asah, dan asuh,” tuturnya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia