Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon-featured
Features
Ramadan di Desa Mlancu

Setahun, Warga Slumbung ‘Rayakan’ Tiga Hari Raya

Desa dengan Keberagaman Beragama Tinggi (3)

20 Mei 2019, 14: 06: 05 WIB | editor : Adi Nugroho

slumbung islam ramadan

WARGA: Aktivitas warga di Dusun Slumbung, Desa Mlancu. Dalam setahun mereka ‘merayakan’ tiga hari raya. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Share this          

Toleransi sudah mendarah daging bagi warga Desa Mlancu, khususnya Dusun Slumbung. Tak hanya menghormati bila ada salah satu agama merayakan hari raya, mereka justru saling membantu. Dalam arti yang sebenarnya.

HABIBAH A. MUKTIARA

“Di sini ada tiga hari raya,” kata Sutaji, ketika ditemui Jawa Pos Radar Kediri Rabu (8/5). Saat itu Sutaji mengenakan baju putih, bersarung, dan ikat kepala. Lelaki ini adalah ketua Parisada di Dusun Mlancu.

Sutaji bukan berseloroh mengatakan bahwa di Dusun Mlancu punya tiga hari raya. Sebab, ada tiga agama dengan jumlah pemeluk yang relatif besar. Selain Islam, ada Hindu, dan  terakhir Kristen.

Nah, dalam perayaan hari raya setiap agama itu tak ada istilah saling protes. Atau adu kuat dengan kekerasan. Sebaliknya, warga yang berbeda keyakinan itu saling bantu sama lain.

Telusur Ramadan Radar Kediri

Telusur Ramadan Radar Kediri

Misalnya pada Ramadan seperti saat ini. Warga non-muslim juga ikut menjaga kekhusyukan ibadah puasa umat muslim. Mereka yang ronda malam, meskipun beragama lain, juga ikut berkeliling membangunkan penduduk muslim untuk makan sahur. Hal tersebut berlangsung hingga Lebaran tiba.

“Ketika Lebaran tiba, ketika malam takbir, anak-anak muda beragama Hindu membantu untuk pengamanan,” terangnya.

Meski yang berlebaran adalah warga yang beragama Islam, masyarakat yang beragama Hindu dan Kristen juga ikut merayakan. Mereka ikut bersilahturahmi dan mengunjungi warga muslim. Saling meminta maaf satu sama lain.

“Karena mayoritas kami keturunan satu nenek moyang, jadi sudah biasa melakukan hal tersebut,” terang Priono, 55, warga Dusun Slumbung yang lain.

Sebaliknya, saat perayaan Nyepi, hari suci bagi pemeluk agama Hindu, masyarakat beragama non-Hindu juga ikut menjaga kekhusyukan perayaan tersebut. Selama Nyepi, warga muslim juga memilih tidak mengunakan pengeras suara untuk aktivitas sehari-hari. Termasuk untuk mengumandangkan suara azan. Walaupun warga non-Hindu tetaplah keluar rumah seperti biasa. Namun mereka menghormati rangkaian ibadah warga Hindu. Bahkan, ketika hendak menyalakan kendaraan, warga memilih mendorong kendaraan bermotornya hingga ke luar jalan desa. Baru setelah itu menyalakan mesinnya.

Menurut Kepala Dusun Slumbung Mulyono, warga muslim juga biasa ikut berpatroli saat Nyepi. Partisipasi warga untuk menjaga desa dan menciptakan suasana senyap adalah bentuk penghormatan pada pemeluk Hindu. Ia percaya bahwa menghormati keyakinan orang lain adalah bagian dari ajaran agamanya.

“Di dusun ini tidak perlu perintah dan instruksi. Semua berjalan atas kesadaran warga. Karena ini dusun kami, siapa lagi yang menjaga kerukunan jika bukan kami sendiri,” kata Mulyono.

Begitup pula ketika perayaan umat nasrani, yaitu Hari Natal. Setiap 25 Desember, warga muslim dan Hindu bergantian mengunjungi rumah warga yang beragam Kristen. “Banyak warga yang datang ketika Natal. Bahkan saya buka rumah sampai tiga hari,” terang Budi Warhono, salah satu warga beragama Kristen.

Orang-orang menganggap perbedaan keyakinan bukan sebagai faktor pemecah belah kerukunan. Di mana cerita toleransi antaragama di dusun ini tak hanya dalam soal hari-hari besar agama. Bahkan ada keluarga yang berbeda agama –orang tuanya Hindu dan anaknya muslim– tinggal serumah tanpa perselisihan. Mereka justru patungan untuk mendirikan rumah ibadah. Warga non-muslim ikut sukarela memberikan tenaga menukangi pembangunan masjid. Juga membantu menyediakan material.

(rk/rq/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia