Selasa, 19 Nov 2019
radarkediri
icon-featured
Features

Tradisi Khas Ponpes Sepanjang Ramadan (9)

Memasak Bersama, Siapkan Menu Buka Puasa

18 Mei 2019, 12: 32: 25 WIB | editor : Adi Nugroho

Ponpes

TRADISIONAL: Santri gotong royong memasak menu buka puasa di tungku dari batu bata di dapur pondok. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

Santri yang belajar di Ponpes Gedongsari, Desa Tegaron, Prambon tidak hanya belajar kitab kuning selama Ramadan ini. Melainkan, mereka juga dilatih agar bisa hidup secara mandiri. Termasuk saat menyiapkan menu buka puasa dan sahur yang semuanya ditangani sendiri oleh santri.

Jarum jam menunjukkan pukul 13.00, dapur Ponpes Gedongsari pun mulai bergeliat. Sejumlah santri menghadapi tungku masing-masing. Ada yang memasak nasi, membuat sayur dan lauk-pauk. Sebagian lainnya mengangkat kayu bakar untuk memasak. Semuanya dikerjakan sendiri oleh para santri.

“Dulu pernah pakai gas, tapi tidak bertahan lama,” ujar M. Maksum, pengurus Ponpes Gedongsari tentang aktivitas para santri memasak di dapur. Rupanya, mereka memang lebih suka memasak secara tradisional. Menggunakan kayu bakar yang mereka cari sendiri.

Gotong royong memasak menyiapkan menu buka puasa dan sahur itu memang meninggalkan kesan tersendiri. Terutama dalam pembagian tugasnya. Selain ada santri yang mendapat tugas mencari kayu bakar, menurut pria berusia 23 tahun itu, ada pula santri yang bertugas mencari sayur di sawah.

Berbagai jenis daun-daunan bisa dibawa pulang. Mulai kangkung, kacang panjang, daun singkong hingga daun anggur biasa mereka olah sendiri. “Selagi daunnya dimakan kambing, berarti bisa dikonsumsi santri,” lanjut pria asal Jambi itu.

Semua sayur yang ada di sawah itu memang ditanam sendiri oleh para santri. Karenanya, mereka juga bebas memetik sesuai kebutuhan. Selain mencari sayur-sayuran, sebagian santri juga mencari kayu bakar di sana.

Setelah dibawa ke pondok, giliran santri lain yang bertugas memasaknya. Selama Ramadan ini, dapur pondok mulai ngebul  sejak selepas Dhuhur atau sekitar pukul 13.00. Sedangkan untuk menu sahur mulai dimasak sekitar pukul 01.00 dini hari. “Kalau hari biasa santri masaknya siang dan bakda Isya,” terang pria yang sudah mondok sejak 2007 lalu itu.

Pantauan koran ini, para santri memasak di tujuh tungku yang ada di dapur. Menu masakan tiap tungku berbeda. Ada yang menanak nasi, menggoreng terong, menumis sayur dan menu sederhana lainnya.

 “Semuanya dikerjakan bareng-bareng dan bergantian,” tutur Maksum.

Tentang menu makanan santri yang sederhana itu, rupanya memang disengaja. Mereka sengaja dilatih untuk bisa hidup dalam kondisi apapun. “Ini juga menjadi bekal bila kelak para santri sudah berada di luar pondok,” bebernya.

Santri dari Ponpes Gedongsari diharapkan tidak hanya bisa mengaji. Tetapi juga bisa menghidupi dirinya sendiri. Baik itu dengan bertani, ternak hingga berdagang. “Semua santri memang diajarkan untuk mandiri,” tegasnya.

Tidak hanya itu, para santri juga diharapkan bisa mempertahankan tradisi lama. Sama halnya dengan Ponpes Gedongsari yang tetap mempertahankan orisinalitas bangunan pondok hingga sekarang.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia