Jumat, 15 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Kolom

Membangun Pengendalian Diri

16 Mei 2019, 16: 15: 38 WIB | editor : Adi Nugroho

catatan badrus

Oleh : M. Badrus

Share this          

Puasa bukanlah sekadar ibadah rutin yang biasa dilakukan oleh umat Islam. Ibadah puasa yang tujuan akhirnya membentuk pribadi mukmin yang takwa perlu dipahami sebagai perintah Tuhan agar manusia menjadi tangguh, kokoh, percaya diri, dan memiliki pedoman yang benar serta kepribadian yang mantap. Orang puasa diharapkan mampu menahan diri dari berbagai gejolak hidup dan kehidupan yang  hedonis. Yang hanya mengejar kenikmatan duniawi. Yang pada akhirnya manusia menjadi sengsara akibat ulahnya yang tak terkendali.

Secara umum syariat puasa hampir sama dilakukan di semua agama yakni menahan makan dan minum. Hanya teknisnya saja yang berbeda. Syariat puasa dalam Islam dimulai sejak Nabi Adam  AS. Ia berpuasa tiga hari tiap bulan sepanjang tahun. Bahkan beliau juga berpuasa setiap tanggal 10 Muharram, sebagai ungkapan syukur atas dipertemukan lagi dengan Hawa di Padang Arafah. Nabi Nuh berpuasa setahun penuh kecuali dua hari raya. Puasa Nabi Nuh dilakukan selama berada di atas perahu bersama kaumnya. Harapannya agar tetap selamat selama di atas perahu. Nabi Ibrahim AS. berpuasa ketika raja Namrut memerintahkan untuk membakarnya, yang akhirnya bara api Namrut tidak kuasa membakar jasad Nabi Ibrahim. Nabi  Dawud berpuasa separo dari hidupnya, karena dua hari sekali harus berpuasa. Orientasi utama puasa Nabi Dawud tidak lain agar tetap dekat dengan Tuhannya. Nabi Musa AS berpuasa selama 40 hari 40 malam ketika ia bermunajat di Gunung Tursina, sebagai wasilah agar dapat berbicara langsung dengan Allah SWT. Nabi Muhammad SAW dan umatnya diwajibkan berpuasa sebulan tiap tahun dalam hidupnya. Puasa generasi manusia yang terakhir ini bertujuan agar tetap terjaga hubungan dengan Khaliknya yang ditandai dengan takwanya, sebagaimana dijelaskan dalam surat Albaqarah ayat 183.

Puasa dilakukan di samping sebagai rasa syukur, ia dilakukan  manusia ketika secara serius menghadapi situasi yang genting. Dalam tradisi Mesir kuno,  yang dikenal zaman “primitif” puasa dilakukan untuk mendapat kekuatan magis agar mampu menundukkan lingkunganya yang sering terjadi malapetaka. Mereka juga percaya bahwa kekuatan iblis sering mengganggu manusia dari berbagai sisi. Karena itu puasa dipercayai sebagai wasilah untuk membentengi diri dari gangguan iblis.

Di sisi lain berpuasa bertujuan untuk mencucikan jiwa dan alat untuk mempersatukan diri dengan Yang Maha Kuasa.  Konsep puasa pada zaman primitif hingga zaman milenial ini, masih memiliki ruh kekuatan yanghampir sama. Setidaknya untuk memperkuat pengendalian diri (self control) seseorang.

Pengendalian Diri

Pengendalian diri masyarakat kita  saat ini perlu mendapatkan perhatian khusus. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa akibat pengendalian diri yang rendah, menimbulkan berbagai perilaku menyimpang dan bahkan menyesatkan. Dari laporan numbeo.com tahun  2018 bisa dilihat bahwa  Indonesia berada pada peringkat ke 52 dari 115 negara dengan safety index 55,28 dan crime rate 44.72. Negara dengan tingkat keamanan terbaik adalah Jepang dengan safety index 89,90 dan crime index 13.10. Pada level Asia Indonesia berada pada peringkat ke 13 dari 38 negara yang diindex. Kondisi masyarakat Indonesia ini menggugah kita bersama untuk berbenah diri sehingga tingkat keamanan bergerak membaik dan kejahatan dapat dieliminir. Gottfredson dan Hirschi  (2019) ilmuwan dari Standford University California mengajukan teori, pengendalian diri mengacu pada kemampuan untuk melepaskan kesenangan jangka pendek yang memiliki beberapa konsekuensi negatif dan kemampuan untuk bertindak demi kepentingan jangka panjang. Gambaran pengendalian diri yang rendah, misalnya saja, sejumlah orang memiliki keinginan memperoleh kepercayaan masyarakat. Mereka mungkin berhasil memperoleh kepercayaan dari masyarakat tetapi dengan cara yang tidak baik. Seperti menjilat atasan, menyuap, atau berpura-pura loyal. Mengendalikan nafsu seperti ini kadang sulit dideteksi karena ia merasa benar padahal sebenarnya ini perilaku munafik.Bagaimana memperkuat pengendalian diri, sehingga dalam segala tindakan seseorang sesuai dengan tujuan hidup yang normal dan ideal? Kendra Cherry 2019, seorang peneliti bidang psikologi dari Boise State University menyarankan, lima langkah untuk memperkuat pengendalian diri; 1) Hindari godaan. Ini adalah cara yang efektif untuk memaksimalkan kontrol diri Anda yang tersedia. Menghindari godaan memastikan bahwa Anda bertindak sesuatu yang dibutuhkan. 2) Rencanakan ke depan. Pertimbangkan kemungkinan situasi yang dapat mematahkan tekad Anda. Jika Anda dihadapkan dengan godaan, tindakan apa yang akan Anda ambil untuk menghindari menyerah? Penelitian telah menemukan bahwa perencanaan ke depan dapat meningkatkan kemauan bahkan dalam situasi di mana orang telah mengalami efek penipisan ego. 3) Berlatih menggunakan kontrol diri. Sementara kontrol Anda mungkin menjadi habis dalam jangka pendek, secara teratur terlibat dalam perilaku yang mengharuskan Anda untuk melakukan kontrol diri akan meningkatkan kemauan Anda dari waktu ke waktu.  4) Pikirkan kontrol diri seperti otot. Sementara kerja keras dapat melelahkan otot dalam jangka pendek, otot akan tumbuh lebih kuat dari waktu ke waktu saat Anda terus bekerja. 5) Coba fokus pada satu tujuan pada satu waktu. Menetapkan banyak tujuan sekaligus (seperti membuat daftar resolusi Tahun Baru) biasanya merupakan pendekatan yang tidak efektif. Menguras tekad Anda di satu area dapat mengurangi kontrol diri di area lain. Yang terbaik adalah memilih satu tujuan spesifik dan memfokuskan energi Anda padanya.

Membangun pengendalian diri dalam Islam lebih luas dan mendalam. Karena harus menghubungkan diri dengan Tuhannya, sekaligus terapi dalam berbuat baik. Sebagaimana dianjurkan oleh Rasulullah, ada 6 ibadah khususnya di bulan Ramadan, pertama, melakukan puasa dengan penuh ketulusan untuk mendapat rida Allah SWT. Artinya hanya mengharap kasih sayang Allah. Kedua, menjaga diri baik-baik agar tidak melakukan maksiat, seperti berbohong, mencuri, mengadu domba, menggunjing, berkata kotor dan kasar. Ketiga, membaca Alquran dan mendalami ayat demi ayat memahami maknanya sebagai petunjuk berbuat baik. Keempat, meluangkan waktu untuk salat malam dan iktikaf di masjid sebagai upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Kelima, memperbanyak istighfar atas segala dosa yang dilakukan. Dan keenam, banyak memohon kepada Allah agar diberi kekuatan lahir batin, berkah hidupnya dalam menjalani kehidupan ini. Insya Allah, dari sejumlah anjuran Rasulullah ini apabila mampu melakukan dengan baik, maka kekuatan pengendalian diri seseorang semakin kuat. Setiap langkahnya mencerminkan kemuliaan jangka panjang dan tidak mudah terjerumus pada tindakan-tindakan yang rendah dan menyesatkan. Semoga. (Penulis adalah dosen Pascasarjana IAI Tribakti Lirboyo Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia