Selasa, 19 Nov 2019
radarkediri
icon-featured
Features

Suasana Ramadan Umat Muslim Minoritas di Kediri (6/Habis)

Awalnya, Penduduk Islamnya Masih Abangan

16 Mei 2019, 16: 07: 05 WIB | editor : Adi Nugroho

sidorejo pare muslim ramadan

IBADAH: Warga Sidorejo berbondong-bondong mendatangi  Masjid Nurul Ula saat mendengar azan asar berkumandang. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

Penduduk yang menganut agama Islam di Desa Sidorejo, Pare,  telah ada sejak masa sebelum kemerdekaan. Namun, saat itu pemeluk agama Islam di desa ini bisa dikategorikan abangan.

Desa  Sidorejo mayoritas penduduknya memang pemeluk nasrani. Sejak dahulu kala pun sudah seperti itu adanya. Umat Kristiani di Sidorejo telah ada setidaknya sejak 1901. Para pendatang yang membuka lahan di sana diyakini merupakan para pendatang nasrani.

Sementara pendatang beragama Islam baru masuk sekitar 1940-an. Mereka datang dari wilayah barat. Salah satunya dari Nganjuk. Keberagaman dimulai sejak masa itu. Pemeluk Islam kebanyakan berkumpul di wilayah utara dan selatan desa. Di kedua titik itu saat ini memang terdapat masjid. Informasi yang diperoleh koran ini menyatakan bahwa masjid itu dulunya musala.

Salah satu keluarga muslim pertama yang juga tinggal di Desa Sidorejo adalah nenek moyang Nur Sareh. Pria yang kini dipercaya menjadi takmir Masjid Nurul Ula Sidorejo, satu dari dua masjid yang ada.

Berdasarkan cerita yang berkembang, pendatang muslim yang datang di wilayah tersebut memang diberikan lokasi di utara dan selatan desa. Warga nasrani yang lebih dahulu menempati wilayah Sidorejo itu pun tidak merasa keberatan.

Lebih lanjut, meskipun tercatat sebagai umat muslim, namun mereka belum sepenuhnya menjalankan syariat Islam dengan baik. Bisa dikatakan bahwa masyarakat muslim kala itu sebagai Islam abangan. Masih ada hal-hal yang menjadi larangan dalam Islam yang terbiasa dilakukan. Belum sepenuhnya bisa dihilangkan atau menjadi muslim seperti sekarang ini.

Saat itulah, Munasir, ayah Sareh, mulai mengenalkan syariat Islam kepada umat muslim yang lebih dulu berada di sana. “Sebenarnya dulu keluarga saya pindah ke sini karena perkara sepele. Cari lahan yang harganya murah, itu saja. Tetapi justru bisa mengajak ke hal yang baik,” cerita Sareh.

Berdasarkan keterangan Sareh, akhirnya di desa tersebut dibangunlah tempat beribadah untuk umat muslim. Tempat ibadah tersebut berada di sisi utara dan selatan. Sesuai dengan mayoritas muslim yang menempati desa tersebut.

Tempat ibadah tersebut didirikan sekitar 1965-an. Awalnya tentu tidak sebagus sekarang. Hanya sebuah tempat yang dapat dan difungsikan sebagai tempat ibadah saja. Lebih tepat dikatakan sebagai musala daripada masjid.

Sareh merupakan generasi ketiga dari keluarga Muslim yang menempati desa tersebut. Menurut ceritanya, dibangunnya musala tersebut juga tidak lepas dari sejarah panjang negara Indonesia. Yakni Gerakan September Tiga Puluh (Gestapu) atau yang lebih dikenal sebagai G30S/PKI.

“Semenjak itu, mulai banyak muslim yang mulai meninggalkan perilaku yang kurang terpuji. Banyak yang mulai mendalami Islam setelah itu,” papar Sareh.

Sejak masa itu, perkembangan Islam di Desa Sidorejo mulai menampakkan sinyal positif. Beberapa hal-hal yang dilarang dalam Alquran mulai ditinggalkan. Sebaliknya, apa yang menjadi perintah pun diterapkan dengan sebaik-baiknya.

Sareh mengaku ayahnya memang sosok yang menjadi panutan baginya. Banyak hal yang dipelajari dan diingat oleh Sareh dari ayahnya. Satu yang paling mengena dalam ingatannya, Munasir merupakan sosok yang sangat konsisten dalam beribadah.

Waktunya dalam sehari kebanyakan dipakainya untuk beribadah. Mulai dari salat Duha, mengaji kitab, tadarus, dan sebagainya, dilakukan oleh Munasir. Terus berulang-ulang. Rutin setiap harinya. “Lha kalau saya kan buka kitab waktu ada yang ngaji saja,” celetuk Sareh merendah.

Munasir memang sosok panutan baginya. Bahkan, beberapa kemudahan yang dirasakannya dalam mengelola masjid tersebut juga berkah dari apa yang ditanam sang ayah sejak lama. Sareh menilai bahwa apa yang diterimanya sekarang merupakan sebuah “warisan” dari ayahnya.

Seiring waktu berjalan, tempat beribadah pun dilakukan pembangunan. Hingga akhirnya pada 2009 silam, Masjid Nurul Ula berdiri seperti sekarang ini. Sayangnya, Munasir tidak sempat menyaksikan sendiri perkembangan umat muslim yang ada di sana. Pasalnya, ia sudah dipanggil kembali ke pangkuan Sang Pencipta sebelum masjid tersebut direnovasi. Meskipun begitu, Munasir telah memberikan pondasi dan tatanan yang kuat untuk perjalanan Islam yang ada di Desa Sidorejo.

Untuk diketahui, di Desa Sidorejo memiliki dua tempat peribadatan untuk kedua agama tersebut. Yakni dua gereja dan masjid. Bahkan di sana terdapat gereja bersejarah yang telah ada sejak 1933. Dikenal dengan GKJW Jemaat Sidorejo.

Sekitar 30 persen muslim bekerja bertani. Sedangkan pegawai negeri sipil (PNS) dan peternak sekitar masing-masing 10 persen. Sisanya, 50 persen merupakan buruh tani, tukang, pedagang dan semacamnya. Sedangkan untuk warga nasrani, sekitar 30 persen merupakan PNS. Sedangkan yang bekerja sebagai peternak ada 20 persen. Lainnya bekerja sebagai petani.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia