Selasa, 17 Sep 2019
radarkediri
icon featured
Sego Tumpang

-- Gothakan --

15 Mei 2019, 14: 00: 26 WIB | editor : Adi Nugroho

Sego Tumpang

Sego Tumpang

Share this          

Gothakan. Itu tempat yang paling bikin demen Dulgembul. Untuk ber-khalwat. Menyendiri. Posoan begini. Tapi, khalwat-nya Dulgembul beda dengan khalwat-nya Nabi. Di Gua Hira. Yang untuk merenung. Bermuhasabah. Mendekatkan diri kepada Ilahi.

Khalwat-nya Dulgembul tidak begitu. Memang sih, alasannya untuk beribadah. Tapi, versi hadis yang riwayatnya lemah itu. Tidur. Biar ndak gampang konangan. Lalu digugah. Dibangunkan. Itulah yang paling dia benci. “Enak-enak tidurin, dibangunan,” kata Susan, eh Ria Enes itu.

Dengan ndlesep di gothakan, ndak gampang ketahuan. Apalagi jika pintu dan jendela ditutup rapat. Mbok seharian ngorok, bakal aman sentausa. Duhur bisa kelewatan. Tahu-tahu sudah Asar. Itu pun sudah mepet dengan Magrib. Duhur-Asar dijamak. Dirangkap. “Aku kan ketiduran,” demikian ia beralasan.

Begitu selesai salam, kentong Magrib sudah dibunyikan. Buka. Dan, ritual ala Dulgembul langsung dimulai lagi. Hidangan pembuka, hidangan utama, hidangan penutup, semua diborong habis. Sampai kemlekaren. Lalu Magrib sambil glegekan. Isya sambung Tarawih sambil theklak-thekluk. Ngantuk.

Puasa, hakikatnya latihan menahan diri. Setidaknya dari haus dan lapar. Dari sejak terbit fajar hingga matahari terbenam. Menahan diri seperti itu diperlukan. Sebab, manusia memang cenderung tidak bisa menahan diri. Dari nafsunya. Yang senantiasa menjanjikan kenikmatan. Kepuasan. Dalam pemenuhannya.

Cuma, masalahnya, nafsu tidak punya batas kepuasan. Seberapa banyaknya dituruti, selalu saja kurang. Menuntut pemuasan-pemuasan baru. Sementara, kapasitas tubuh tak demikian. Daya tampungnya punya batas maksimal. Kekuatannya bukan tanpa ukuran.

Itu yang bikin bahaya. Bagi manusia sendiri. Coba seandainya Dulgembul tidak juga berhenti untuk menyantap apa saja yang terhidang di meja makan. Bukan hanya kemlekaren yang dia rasakan. Makanan dan minuman yang mestinya hanya memenuhi perut bisa naik hingga tenggorokan. Bahkan, dikeluarkan lagi. Karena daya tampungnya sudah ndak muat.

Itu masih mending. Bisa dilihat. Yang ndak bisa dilihat, zat-zat kimia yang terkandung dalam makanan dan minuman yang dikonsumsinya akan terserap tubuh. Dalam darah. Yang jika jumlahnya melebihi takaran, bakal mengganggu metabolisme tubuh. Menjadi lemak. Menjadi gula. Yang, jika berlebih, akan menjadi penyumbatan-penyumbatan. Memengaruhi fungsi organ-organ dalam tubuh.

Enak memang. Nikmat memang. Menuruti apa saja yang dimaui oleh nafsu. Efeknya tak terasa seketika. Pelan-pelan. Menumpuk. Lalu, tiba-tiba saja celana dan baju ndak cukup. “Kamu gendutan sekarang,” kata orang-orang. Lalu, ada organ yang tidak bisa berfungsi. Mati.

Untuk kita yang kadar tumpukan lemak atau gulanya sudah ndak karu-karuan, puasa sehari jelas ndak cukup sebagai terapi. Maka, Ramadan sebulan menjadi diperlukan. Untuk memperpanjang masa latihan itu. Latihan menahan diri. Setidaknya dari keinginan makan dan minum. Sejak dari terbit fajar sampai sang surya tenggelam.

Latihan dalam sehari itulah yang diharapkan bisa berimbas pada waktu setelahnya. Seusai kentong Magrib hingga kentong Subuh. Begitu pula kelak. Setelah Ramadan terlewat. Ketika pemenuhan nafsu  diperbolehkan tanpa melihat waktu. Orang-orang sudah terbiasa mengendalikannya. Tanpa perlu merasa terpaksa. Meski, awalnya memang harus dipaksa.

Seperti olahraga. Tanpa dipaksa, rasanya, ndak ada orang yang mau melakukannya. Sebab, namanya olahraga, tidak ada enaknya. Capek. Menguras tenaga. Seandainya orang bisa fit dan bugar tanpa olahraga, niscaya tidak akan ada yang mau buang-buang tenaga untuk itu.

Begitu pula puasa. Hanya orang yang sudah merasakan manfaatnya yang mau melakukannya dengan sukacita. Yang baru pada taraf 'ingin' merasakan manfaatnya, jelas harus dipaksa. Apalagi yang tak punya keinginan sama sekali. Semata menunaikan kewajiban sekalipun.

Untuk tunduk kepada Tuhannya, manusia harus memaksa diri. Kecuali dia sudah bisa merasakan kenikmatan atas ketundukan itu.

Maka, seperti Dulgembul, ia harus sering-sering memaksa diri. Memaksa untuk mengendalikan diri. Dari segala keinginan yang tidak ada batasnya. Agar tubuhnya yang terbatas tidak menjadi tersakiti. Gothakan, bisa menjadi tempat terbaik untuk memerangkap keinginannya itu. Agar dirinya yang sebenarnya bisa melanglang bebas. Tanpa terbebani oleh segala keinginan. (tauhid wijaya)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia