Rabu, 26 Jun 2019
radarkediri
icon-featured
Features

Tradisi Khas Ponpes Sepanjang Ramadan (6)

Ngaji Kitab sejak Siang sampai Dini Hari

15 Mei 2019, 09: 41: 22 WIB | editor : Adi Nugroho

Ponpes

SEADANYA: Santri Ponpes Mojosari menggunakan jeriken sebagai alas untuk menulis saat mengaji kitab kemarin siang. (Anwar Bahar Basalamah - radarkediri.id)

Share this          

Aktivitas santri selama Ramadan di Ponpes Mojosari, Desa Ngepeh, Kecamatan Loceret, justru semakin padat. Sejak siang hari, mereka mulai mengaji sejumlah kitab. Kegiatan baru berakhir menjelang makan sahur alias dini hari.

Aktivitas pertama di Pondok Pesantren (Ponpes) Mojosari dimulai setelah salat duhur, sekitar pukul 13.00. Bertempat di musala ponpes yang berlokasi di Desa Ngepeh, Kecamatan Loceret itu , sekitar 100 santri mengaji kitab Risalah Ahlussunnah wal Jamaah. Mereka yang ikut adalah santri pondok dan sebagian balagh Ramadan.

Menurut Muhammad Nurul Huda Zainuddin, salah satu staf pengajar Pondok Pesantren (Ponpes) Mojosari, ngaji kitab karangan Kiai Hasyim Asy’ari, pendiri Nadlatul Ulama (NU) itu berlangsung selama 30-45 menit. “Total ada 40 halaman,” ujar pria yang akrab disapa Gus Muhammad ini.

Dalam sehari, ada sekitar 4-5 halaman kitab yang diselesaikan. Sebagai pengajar, Gus Muhammad memimpin langsung ngaji yang diikuti santri laki-laki itu. Isi kitabnya tentang ke-NU-an. “Semua tentang nadliyin serta bagaimana NU menolak paham radikalisme,” ungkap pemuda 27 tahun ini.

Ba’da asar, kegiatan dilanjutkan dengan mengaji kitab Adabul Alim wal Mutaalim. Dalam kitab setebal 102 halaman tersebut, menurut Gus Muhammad, santri diajarkan tentang tata krama dan keadaban. Baik hubungan dengan sesama santri, guru, kiai, dan orang lain. Bahkan, bagaimana sikap santri saat mengetahui ada guru yang melintas di depan mereka, juga dipelajari.

Untuk menuntaskan ratusan halaman di kitab tersebut, santri mempelajarinya dengan mengangsur 5-6 halaman per harinya. Sekitar pukul 17.15 atau menjelang buka puasa, belajar kitab adab tersebut diakhiri. “Kami lanjutkan dengan kegiatan berbuka,” urainya.

Apakah setelah kegiatan buka puasa, santri beristirahat? Ternyata tidak. Sebab, mereka masih harus meneruskan mengaji kitab Al Adzkar sampai sebelum salat Tarawih. Gus Muhammad menuturkan, kitab tentang zikir itu lebih banyak mempelajari tata cara ibadah dan memberikan salam. “Termasuk ucapan salam kepada nonmuslim,” kata anak kelima dari tutur anak kelima dari Kiai Ahmad Bustomi, generasi kesembilan Ponpes Mojosari ini.

Selama sekitar 1 jam, santri mengkaji kitab karangan Nawawi setebal 331 halaman itu. Usai salat Tarawih sekitar 19.30, santri bisa menyempatkan istirahat sejenak beberapa jam. Pasalnya, sekitar pukul 21.00, mereka akan mengaji kitab Ta’lim Muta’allim.

Isinya sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kitab Adabul Alim wal Muta’alim. Yakni mempelajari adab santri. Bedanya, kitab setebal 143 halaman itu bagi Ponpes Mojosari dianggap sebagai sebuah wiridan. Karenanya, meski sudah katam tahun ini, santri harus mengulanginya lagi tahun depan. “Harus diulang-ulang. Sama seperti wiridan,” tegasnya.

Kitab itu dikenalkan pertama kali oleh Kiai Ahmad Mansyur Sholeh, salah satu pengasuh. Tentu saja Mbah Mansyur, kata Gus Muhammad, menerima ilmu tersebut dari para pendahulunya. Salah satunya adalah Kiai Zainuddin Mu’min, yang pernah berguru langsung kepada Kiai Muhammad Kholil dari Bangkalan, Madura.

Mempelajari kitab Ta’lim Muta’allim, lanjut Gus Muhammad, bertujuan akhir untuk mencapai sikap batin. Hal itu untuk menghindari sifat-sifat buruk yang ada di dalam hati manusia. “Intinya kita riyadah (mendekatkan diri kepada Allah),” jelasnya.

Sebab sebenarnya, menurut dia, kebaikan manusia itu tidak hanya tampak dari luar (dhohir). Tetapi juga dari dalam. Nah, sikap batin itu yang didapat setelah mempelajari kitab karangan Syekh Az Zarnuji.

Tak cukup di sana, ngaji dilanjutkan dengan meneruskan belajar kitab Al Al Adzkar. Dimulai dari pukul 22.00 sampai 02.00. “Pukul 02.30, kita bersantap sahur lalu setelah subur ngaji sorogan seperti biasa,” urai Gus Muhammad.

Menurut Gus Muhammad, aktivitas itu hanya dilakukan selama bulan Ramadan. Di hari biasa, santri baru mengaji setelah salat asar. Setiap kitab, ditargetkan harus katam pada malam Nuzulul Quran atau hari ke-16 bulan Ramadan.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia