Rabu, 26 Jun 2019
radarkediri
icon featured
Ekonomi

Temukan Kerupuk Mengandung Boraks

BPOM Akan Lakukan Uji Lanjutan di Surabaya

15 Mei 2019, 09: 36: 11 WIB | editor : Adi Nugroho

Sidak

SIDAK: Tim Dinkes Nganjuk dan BPOM mengambil sampel kerupuk yang dijajakan di sentra takjil alun-alun. Berdasar uji cepat, ditemukan kerupuk yang mengandung boraks. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK-Keberadaan puluhan penjual takjil di sekitar Alun-Alun Nganjuk jadi perhatian dinas kesehatan. Bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Surabaya, kemarin mereka mengambil sampel makanan untuk mengecek kandungan berbahaya di dalamnya. Hasilnya, tim mendapati ada makanan yang mengandung boraks dan formalin.

Pantauan koran ini, sidak tim gabungan dinkes dan BPOM digelar sekitar pukul 15.30 kemarin. Tim menyisir puluhan pedagang yang berjualan di Alun-Alun Nganjuk. Beberapa jenis makanan yang dicurigai mengandung bahan berbahaya langsung dibeli.

Seperti cumi-cumi yang dijual oleh beberapa pedagang. Demikian juga dengan kerupuk dan beberapa jenis makanan lainnya.  Total ada 40 sampel makanan yang diambil oleh tim gabungan kemarin sore.

Puluhan sampel itu selanjutnya diuji menggunakan rapid test kit. “Hasilnya masih ada makanan yang mengandung bahan berbahaya. Misalnya, ada kerupuk yang mengandung boraks,” ujar Kabid Sumber Daya Kesehatan (SDK) Dinkes Nganjuk Sri Soebekti.

Selain kerupuk, perempuan yang akrab disapa Etik ini menyebutkan, tim juga mendapati ada beberapa makanan lain yang terindikasi mengandung boraks dan formalin.

Untuk memastikan hasilnya, puluhan sampel yang sudah diuji kemarin akan diteliti lebih lanjut di laboratorium BPOM Surabaya. “Temuan hari ini (kemarin, Red) juga akan langsung kami tindak lanjuti,” beber Etik.

Dinkes dan Polres Nganjuk, menurut Etik sudah memiliki catatan terkait para penjual makanan tersebut. Karenanya, setelah mendatangi penjualnya, tim akan melacak asal-usul makanan berbahaya tersebut. “Biasanya makanan itu sudah ada PIRT-nya,” terang Etik.

Perempuan berjilbab itu mengungkapkan, kebanyakan

pedagang di Alun-Alun hanya sebagai penjual. Adapun produksi makanan berasal dari luar daerah. Termasuk kerupuk yang terindikasi mengandung boraks.

Meski demikian, jika makanan yang mengandung bahan berbahaya itu berasal dari Nganjuk, menurut Etik pihaknya akan langsung melakukan pembinaan. “Kami berikan teguran agar segera diperbaiki kualitas bahan makanannya,” tandas Etik sembari menyebut sidak kemarin untuk pendataan dan pembinaan.

Untuk diketahui, setiap kali Ramadan, Dinkes Nganjuk rutin menggandeng BPOM untuk memeriksa kandungan bahan makanan berbahaya. Hasilnya, setiap tahun mereka juga menemukan bahan berbahaya dalam kerupuk. Selain mengandung boraks, suatu kali pernah didapati kerupuk yang juga mengandung rodhamine B dan methanil yellow.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia