Rabu, 26 Jun 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Ingin Jadi PNS, Ratusan Juta Melayang

Uang Diminta Bertahap Berdalih Pemberkasan

15 Mei 2019, 09: 29: 13 WIB | editor : Adi Nugroho

PNS

Ingin Jadi PNS (Ilustrasi : Nakula Agie Sada - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK-Kesabaran M. Toha Suhartono, 64, sudah habis. Pria asal Desa Kemlokolegi, Baron itu memolisikan Saeroji, 58. Pasalnya, janji pria asal Desa Babadan, Patianrowo itu untuk memasukkan anaknya menjadi pegawai negeri sipil (PNS), tak kunjung terealisasi. Padahal, Toha sudah menyetor uang hingga ratusan juta rupiah.

Informasi yang dihimpun koran ini menyebutkan, Toha melaporkan Saeroji ke polisi pada Minggu (12/5) lalu. “Sekarang kasusnya sedang ditangani satreskrim,” ujar Kasubbag Humas Polres Nganjuk AKP Sudarman.

Perwira dengan pangkat tiga balok di pundak ini mengungkapkan, peristiwa penipuan dan penggelapan itu berawal pada Oktober 2017 lalu. Saat itu, Saeroji mendatangi Toha di rumahnya. Dia mengaku bisa memasukkan anak Toha menjadi PNS lewat jalur rekrutmen honda K2 di Pemkab Nganjuk.

Syaratnya, Toha diminta membayar administrasi dan uang pemberkasan Rp 50 juta. Penawaran Saeroji itu membuat Toha tergiur. Demi melihat anaknya mengenakan seragam PNS, laki-laki 64 tahun itu bersedia menyerahkan uang senilai Rp 50 juta pada awal November 2017 lalu. “Uang itu diserahkan di rumah korban,” beber Sudarman sembari menyebut ada dua saksi yang melihat.

Setelah menerima uang puluhan juta rupiah, dua minggu berselang Saeroji kembali mendatangi Toha. Dia meminta tambahan uang Rp 15 juta. Alasannya, uang tersebut digunakan untuk pemberkasan saat di kantor pusat.

Tak cukup sampai di situ, Saeroji kembali datang ke rumah Toha dan meminta uang Rp 100 juta. Alasannya, uang tersebut untuk menutupi biaya pemberkasan dua orang lainnya. Seperti sebelumnya, pembayaran uang tersebut juga dilengkapi dengan kuitansi.

Usai memberikan uang total Rp 165 juta, anak Toha ikut rekruitmen atau lokakarya di hotel Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat pada akhir Desember 2017 lalu. “Saat itu terlapor ikut mendampingi di lokasi lokakarya,” beber Sudarman.

Setelah lokakarya, rupanya Saeroji kembali meminta sejumlah uang. Alasannya, untuk mempermudah kelulusan anak Toha menjadi PNS. Tak kuasa menolak, Toha memberi uang Rp 7 juta. Selanjutnya memberi lagi Rp 10 juta.

Rupanya, meski sudah menyetor uang total ratusan juta rupiah, anak Toha tetap saja tidak bisa menjadi PNS lewat jalur honda K2. Merasa habis kesabarannya untuk menunggu, Toha memilih melaporkan Saeroji ke Polres Nganjuk.

Ditanya tentang penyelidikan kasus penipuan dan penggelapan rekrutmen CPNS ini, Sudarman menyebut penyidik satreskrim tengah mendalami kasus ini. “Penyidik juga sudah mengamankan bukti-bukti yang dibawa pelapor terkait dengan transaksi pemberian uang tersebut,” tegas Sudarman.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia