Rabu, 26 Jun 2019
radarkediri
icon featured
Features

Sobirin, Bangkit dari Lumpuh Total dengan Jadi Perajin Miniatur Pinisi

Mengawalinya dengan Lem Palsu

14 Mei 2019, 13: 52: 50 WIB | editor : Adi Nugroho

miniatur kapal

KREATIF: Sobirin menyelesaikan rakitan miniature perahu pinisi di rumahnya di Desa Pranggang, Plosoklaten. Karyanya bisa dijual seharga Rp 400 ribu hingga Rp 700 ribu. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

Tujuh tahun silam, tulang ekor Sobirin retak. Lelaki ini jatuh dari pohon nangka. Vonis lumpuh total pun diterimanya. Hanya semangat dan keyakinan yang membuat Sobirin mampu beraktivitas kembali. Menghasilkan karya yang istimewa.

 

MOCH. DIDIN SAPUTRO

Kecelakaan itu terjadi pada 2012. Membuat Sobirin terbaring di ranjang. Setahun lamanya dia tak bisa beraktivitas normal. Vonis kelumpuhan total dari dokter membuatnya semakin terpuruk. Tidak lagi percaya diri.

“Dokter menyarankan untuk operasi. Tapi saya tidak mau,” ucap pria 34 tahun ini.

Menolak operasi bukan tanpa alasan. Jarak ke rumahsakit di Surabaya bahkan ke Solo membuat Sobirin menolak alternatif itu. Dia pun memilih menerima kondisi apa adanya.

Untungnya, Sobirin termasuk berhati baja. Meskipun sempat patah semangat tapi itu tak berlangsung lama. Sobirin pun berusaha bangkit. Membuncahkan keyakinan bisa sembuh. “Mulai bisa duduk lagi selama satu tahun, itu pun sampai terjungkal karena tidak kuat menahan beban,” kenangnya.

Sobirin terus berusaha bisa duduk seperti sediakala. Mampu melakukan itu menjadi hal yang menggembirakan. Uniknya, saat ditawari keluarganya kursi roda, Sobirin menolak. Ia justru berusaha berpegangan bambu yang digantung di langit-langit rumah. Belajar menapakkan kakinya satu per satu. “Saya curi-curi waktu untuk bisa jalan lagi,” imbuhnya.

Meski kini ia harus menggunakan kruk, Sobirin sangat bersyukur bisa beraktivitas lagi. Kemarin siang, misalnya. Di tengah cuaca cerah yang menghiasi langit Desa Pranggang, Plosoklaten, Kabupaten Kediri, Sobirin larut dengan aktivitas keseharian. Terik sengat matahari tak dihiraukan. Lelaki ini merapikan peralatan yang baru saja dia gunakan membuat kerajinan.

Ya, satu tahun terakhir ini ada aktivitas baru yang dilakukan anak keempat dari 5 bersaudara ini. Sebelumnya, Sobirin adalah tukang reparasi sepeda motor dan pembuat gerobak. Kini ia melakukan hal yang berbeda. Membuat miniatur kapal pinisi yang terbuat dari bambu.

“Saya mulai tertarik saat ikut sekolah di Solo pada 2017,” aku Sobirin. 

Sekolah yang dia maksud adalah sekolah khusus difabel. Di tempat itu pula Sobirin mulai menemukan arti sebuah kehidupan, melihat teman-teman sesama disabilitas.

Selama satu tahun ia menjalani pendidikan di tempat itu. Selama pendidikan itu pula Sobirin memperhatikan temannya yang berasal dari Cirebon membuat kerajinan kapal pinisi dari bambu. Akhirnya ia mulai tertarik. Dan ikut membantu temannya tersebut. “Awalnya ya hanya ikut menggosok dan memperhalus permukaan kapal. Terus belajar ngerakit bagian yang kecil-kecil saja,” kenangnya.

Yang dia rakit seperti layar, tangga, pagar penyangga, dan aksesoris lain yang menjadi bagian miniatur pinisi. Dari sanalah ia mulai tertarik untuk belajar membuat miniatur pinisi. Tapi, setelah pulang dari Solo, pertengahan 2018, Sobirin tidak langsung membuat sendiri di rumah. Ia lebih memilih melakukan servis motor dan juga membuat rombong dari kayu. Itu pun kalau ada yang pesan.

Dia baru mencoba membuat kerajinan ini di akhir 2018. Ia melihat peluang di Kediri masih terbuka. “Pertama kali kesulitan untuk cara perakitan. Terutama komponen yang besar dan bagian badan kapal,” katanya.

Mengawali aktivitas itu diwarnai dengan kesalahannya dalam membeli lem. Sobirin mengaku lem yang digunakan pertama kali merupakan lem palsu. “Hasilnya tidak sempurna, sulit untuk melekat dan tidak rapi,’ ujarnya.

Belajar dari pengalaman pertama, Sobirin jeli membeli lem. Ia mencoba lem lain namun masih satu jenis. Lem kedua itu tepat. Sangat rekat dan mudah digunakan merakit miniatur kapal yang semua bahannya dari bambu.

Saat ini, dalam satu hingga dua hari, Sobirin bisa menyelesaikan satu unit miniatur ukuran kecil. “Kalau yang besar sekitar dua mingguan,” tambahnya.

Harga yang ia patok pun relatif standar. Untuk kapal berukuran sedang ia menjualnya dengan harga Rp 400 ribu. Sementara yang paling besar yang pernah ia buat sempat laku Rp 700 ribu. Harga tersebut sangat sebanding dengan kerja keras Sobirin. Dengan keterbatasannya saat ini ia masih mampu berusaha untuk bisa beraktivitas kembali. Tanpa ada kata menyerah.

“Di dunia ini tidak ada yang sempurna. Keterbatasan tidak bisa mematahkan semangat. Jadi harus tetap berusaha dan jangan menyerah,” pesannya.

Di usianya yang terbilang masih muda ini Sobirin bisa menjadi sosok yang menginspirasi. Keterbatasan fisik tak menyurutkannya untuk tetap berkarya. Menjadi seorang disabilitas yang selalu berusaha dan pantang menyerah dengan kondisi dan keadaan apapun.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia